Ora. Hj, Vies Sa'diyah Maksum, M.Pd
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan Marjinal melalui Keaksaraan Berbasis Organisasi Perempuan (Muslimat NU) Ora. Hj, Vies Sa'diyah Maksum, M.Pd
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.232

Abstract

Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan Marjinal melaluiKeaksaraan Berbasis Organisasi Perempuan (Muslimat NU) Muslimat NU adalah organisasi perempuan muslim terbesar di Indonesia dengan sekitar 15 juta anggota. Organisasi ini memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas buta aksara terutama yang dialami perempuan. Sampai sekarang, Muslimat NU telah membarantas 1.600.000 buta aksara dan memilik: 13.400 lembaga Pendidikan Anak Usia Diri. Bagi Muslimat NU, perempuan yang baru melek aksara mampu meningkatkan pendapatan keluarga mereka, memliki self-esteem yang baik, dan menjadi mandiri, Selain itu, Muslimat NU juga menerapkan strategi blok, yang berarti bahwa pemberantasan buta aksara harus dimulai dari daerah-daerah padat penduduk buta aksara dan terus ke daerah-daerah tetangga, sehingga buta aksara dapat benar-benar diberantas, Dengan demikian, daerah tersebut meliputi daerah kumuh di Jakarta (Ibu kota). Surabaya (Jawa Timur, Makassar (Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki infrastruktur minim. Muslimat NU juga menerapkan jaminan kualitas dengan memanfaatkan standar kompetensi keaksaraan dan karena itu 85% buta aksara lulus dari penilaian dan menerima Sertifikat Keterangan Melek Huruf (SUKMA). Komitmen pemberantasan buta aksara Muslimat NU dapat terlihat dari metode dan pendekatan pengajarannya. Muslimat NU menggunakan metode trans literasi dimana kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’ran dan menghafal huruf Arab dialihkan ke dalam kemampuan membaca huruf Latin. Hal ini dilakukan di semua daerah di seluruh Indonesia yang memiliki program Keaksaraan Fungsional dan semua pesertanya diambil dari anggota Majelis Taklim. Sementara itu, bagi peserta selain dari anggota Majelis Taklim, metode yang digunakan untuk program pendidikan keaksaraan adalah metode konvensional. Pendekatan yang digunakan untuk program pembelajaran adalah pendekatan Andragogi, yaitu pendekatan pembelajaran untuk orang dewasa yang penuh dengan pengalaman hidup. Bahan pembelajarannya dipilih herdasarkan apa yangsekiranya diminati para peserta. Muslimat NU juga memiliki banyak kegiatan yang khusus ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, Contoh-contoh kegiatan tersebut adalah membuat makanan tradisional dan resepnya, sabun dan proses pembuatannya, kerajinan tangan dari limbah plastik, bunga kering dan lain sebagainya. Program pendidikan keaksaraan yang diselenggarakan Muslimat NU telah berhasil memobilsasi banyak anggota masyarakat untuk bergabung karena mereka memiliki kemauan kuat untuk membaca, mengenal dunia, dan memberdayakan diri mereka sendiri. Selain dari itu, program pendidikan keaksaraan Muslimat NU benar-benar didukung oleh orang-orang religius di sekitarnya dan karenanya, merangsang para peserta untuk mengikut program pendidikan sampai selesai. Pada akhirnya, program keaksaraan Muslim NU menumbuhkan kecintaan dan kepedulian para peserta terhadap Muslimat NU sebagai sebuah organisasi yang memberikan layanan publik dalam rangka membangun solidaritas dan meningkatkan kualitas hidup dan keagamaan mereka. Komitmen pemberantasan buta aksara Muslimat NU: bisa terlihat dari metode dan pendekatan pengajarannya sebagai berikut: Metode trans literasi. Kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an dan menghafal huruf Arab dialihkan ke dalam kemampuan membaca huruf Latin. Hal ini dilakukan disemua daerah di seluruh Indonesia yang memiliki program Keaksaraan fungsional dari sera pesertanya diambil dari anggota Majelis taklim. Sementara itu, bagi peserta selain dari anggora Majelis Taklim, metode vang digunakan untuk program pendidikan keaksaraan adalah metode konvensional. Pendekatan yang digunakan untuk program pembelajaran adalah pendekatan Andragogi, yaitu pendekatan pembelajaran untuk orang dewasa yang penuh dengan pengalaman hidup. Bahan pembelajarannya dipilih berdasarkan apa yang sekiranya diminati para peserta. Belajar melalui kegiatan khusus ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Contoh-contoh kegiatan tersebut adalah membuat makanan tradisional dan resepnya, sabun dan proses pembuatannya, kerajinan tangga dari limbah plastik, bunga kering. dll Ada juga program pendidikan keaksaraan intensif khusus bagi mereka yang buca aksam parsial. Program pendidikan keaksaraan menarik bagi para peserta dan jumlah drop out-nya kecil karena mereka memiliki kemauan kuat untuk membaca, mengenal dunia, dan memberdayakan diri mereka sendiri. Program keaksaraan juga digunakan untuk meningkatkan agama dan kepercayaan peserta dengan selalu memulai dan mengakhiri setiap kerjaan dengan membaca Al-Qur’an. Solidaritas dan kebersamaan peserta juga dibangun dengan cara membawa hasil panen atau uang jika diperlukan untuk membeli atau digunakan sebagai bahan kerajinan dan seni ukir. Program pendidikan keaksaraan benar-benar didukung oleh orang-orang religius dan karenanya, merangsang para peserta untuk mengikuti program pendidikan sampai selesai. Untuk peserta yang mencintai budaya lokal, program keaksaraan dapat meningkatkan kreativitas seni mereka dan memotivasi mereka untuk membuat sebuah klub. Program keaksaraan menumbuhkan kecintaan dan kepedulian para peserta terhadap Muslimat NU sebagai sebuah organisasi yang memberikan layanan kepada publik dalam rangka membangun solidaritas dan meningkatkan kualitas hidup dan kesamaan mereka.