Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pohon Keramat dan Pohon Pengetahuan: Studi Etno-Teologi tentang Atoni Pah Meto dan Kejadian 2:16-17 Hendrikus Nayuf; John Christianto Simon
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v5i2.396

Abstract

Abstract. The story of environmental preservation begins with the community's perspective on nature and the environment. Each group of people always has a different perspective on nature, the environment and their relations. This paper showed the two community groups in their efforts to preserve the environment. The Atoni Pah Meto community preserve nature and its environment by respecting its traditional wisdom in cutting down the trees. There are sacred trees that supposed not to cut down. Likewise with the story in Genesis 2: 16-17, God forbade humans consumming the fruit of the tree of knowledge. These two stories were then examined using qualitative methods. The results of the study were analyzed ethnographically and theologically. This approach is referred to as ethnotheological studies. Through this study, it could be concluded that local wisdom can help the understanding to the biblical text in order to find theological basis for nature preservation efforts.Abstrak. Cerita tentang pelestarian lingkungan hidup berawal dari cara pandang masyarakat tentang alam dan lingkungan hidupnya. Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki cara pandang yang berbeda tentang alam, lingkungan dan relasi keduanya. Tulisan dalam artikel ini melihat dua kelompok masyarakat dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Komunitas masyarakat Atoni Pah Meto melestarikan alam dan lingkungan hidupnya dengan menghargai kearifan tradisionalnya dalam menebang pohon. Ada pohon itu dimaknai sebagai pohon keramat, yang tidak boleh ditebang. Begitu juga dengan cerita dalam Kejadian 2:16-17, Allah memerintahkan kepada manusia agar tidak memakan buah dari pohon pengetahuan. Kedua kisah ini kemudian diteliti dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian tersebut dianalisis secara etnografis dan teologis. Pendekatan ini disebut sebagai studi etnotheologis. Melalui kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dapat membantu pemaknanaan terhadap teks Alkitab dalam rangka menemukan dasar teologis bagi upaya pelestarian alam.
Mewartakan Injil - Menahan Roti: Sebuah Catatan Kritis atas Model Pelayanan Yudas Hendrikus Nayuf
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.9

Abstract

Poverty is often used as an excuse for fighting for justice and solidarity. Poverty becomes a magnet for anyone to raise it as an issue of partiality. Even poverty can be used as a means of struggle to criticize the leaders of the nation and the church. Jude, one of Jesus disciples show this in Jesus anointing narrative in Bethany. Jude fought for justice while at the same time showing his solidarity when criticizing Mary for anointing Jesus by using expensive aromatic oil. At the symbol level, Judas shows a concrete emphaty attitude. He showed partiality and dared to rebuke others so that they were not wasteful while poverty was so rampant. Even though Jude’s attitude was counter-productive with narratives about him. But the story becomes an inspiration and source of learning about the interpretation of poverty and also a warning sign for church leaders so that in their works, the must “proclaim the Gospel – share bread” and not “proclaim the Gospel – hold the bread.”Abstrak: Kemiskinan sering dijadikan alasan dalam memperjuangkan keadilan dan solidaritas. Kemiskinan menjadi magnet bagi siapa saja untuk mengangkatnya sebagai isu keberpihakan. Bahkan kemiskinan dapat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengkritisi para pemimpin bangsa maupun pemimpin gereja. Yudas, salah satu murid Yesus telah menunjukkan hal tersebut dalam narasi pengurapan Yesus di Betania. Yudas memperjuangkan keadilan sekaligus menunjukkan sikap solidaritasnya saat mengkritik Maria yang mengurapi Yesus dengan menggunakan minyak narwastu yang mahal. Dalam tataran simbol, Yudas menunjukkan sikap empati yang konkrit. Ia menunjukkan keberpihakan dan berani menegor orang lain agar tidak berlaku boros sementara kemiskinan begitu merajalela. Walau sikap Yudas kemudian kontra produktif dengan kelanjutan narasi-narasi tentang dirinya. Tetapi kisahnya kemudian menjadi inspirasi dan sumber pembelajaran tentang penafsiran atas kemiskinan dan juga tanda awas bagi para pemimpin Gereja agar dalam karya-karyanya, harus “mewartakan Injil – membagi roti” dan bukan “Mewartakan Injil – Menahan Roti.”