Child marriage has become a major issue in Indonesia, and it is frequently associated with issues of education and employment status. Furthermore, it might serve as a barrier to these young married women seeking healthcare services. The purpose of this study is to assess health-care utilization among Indonesian young married women aged 15 to 19, by considering the role of women's empowerment. This study included 4,017 young married women aged 15 to 24 years from the Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) 2017 dataset. Age was not associated with healthcare utilization. Pregnant women and young married women with children under five were more likely to use health care services (AOR:5.29; AOR:3.01). Young married women from middle and upper-income families who had a bank account and daily internet access had the highest chance of receiving healthcare services. Respondents who participated in 1 to 2 decision making were 1.5 times more likely to visit a health facility. Young married women who agreed to domestic violence for three or more reasons were less likely to visit a health facility. Young married women should have 'resources' and 'agency' to be able to access healthcare services. Children played a critical role in empowering these women to seek health care. Abstrak: Perkawinan anak masih menjadi masalah utama di Indonesia, dan sering kali dikaitkan dengan pendidikan dan status pekerjaan. Ditambah lagi, salah satu masalah yang dihadapi wanita muda yang menikah adalah mencari layanan perawatan Kesehatan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji pemanfaatan layanan kesehatan pada wanita muda yang menikah di Indonesia yang berusia 15-19 tahun, dengan mempertimbangkan peran pemberdayaan perempuan. Pengukuran pemberdayaan perempuan sesuai yang disarankan oleh Kabeer. Studi potong lintang menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Penelitian ini melibatkan 4.017 wanita muda yang menikah berusia 15-24 tahun. Umur tidak berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan. Wanita dengan anak balita tiga kali lebih menggunakan layanan Kesehatan dibandingkan mereka yang tidak memiliki anak balita. Wanita dari rumah tangga menengah ke atas yang memiliki rekening bank dan akses internet setiap hari memiliki peluang tertinggi untuk menerima layanan Kesehatan. Wanita yang terlibat dalam 1-2 pengambilan keputusan 1,5 kali lebih besar untuk mengunjungi fasilitas Kesehatan. Wanita yang setuju dengan lebih dari 3 alasan kekerasan rumah dalam tangga cenderung tidak mengunjungi fasilitas Kesehatan. Berdasarkan hal ini, sebaiknya wanita muda yang menikah memiliki sumber daya dan mediator/agensi untuk dapat mengkases layanan Kesehatan. Anak-anak berperan penting dalam memperdayakan wanita untuk mencari perawatan Kesehatan.