Fenty Rosmala
Sekolah Tinggi Kesehatan Bina Putra Bajar, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSUD KOTA BANJAR Fenty Rosmala
Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif
Publisher : LPPM STIKes Bina Putera Banjar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit jantung koroner sebagai bagian dari penyakit jantung dan pembuluh darah di seluruh dunia merupakan kausa utama kematian. Berbagai hasil penelitian di masyarakat menunjukkan prevalensi yang meningkat mengenai kasus PJK dengan berbagai faktor risiko yang menyertainya. Di RSUD Kota Banjar, jumlah penderita PJK mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Uji yang dilakukan dalam analisis ini adalah uji chi square yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genetik, riwayat hipertensi dan riwayat DM berhubungan dengan penyakit jantung koroner di RSUD Kota Banjar.
EFEKTIVITAS BERAT ARANG TEMPURUNG KELAPA TERHADAP PENURUNAN KANDUNGAN BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND, CHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN TOTAL SUSPENDED SOLID LIMBAH CAIR PABRIK TAHU DI DESA BALOKANG Fenty Rosmala
Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif
Publisher : LPPM STIKes Bina Putera Banjar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cair tahu yang dihasilkan memiliki kandungan zat organik yang sangat tinggi dikarenakan bahan dasar dari pembuatan tahu adalah kacang kedelai. Air limbah tahu memiliki kadar pencemar yang sangat tinggi seperti Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Suspended Solid (TSS) yang melebihi Baku Mutu Permen LH Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Apabila langsung dibuang ke badan air dapat menumbulkan pencemaran lingkungan maka harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu salah satu alternatifnya dengan penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada berat arang tempurung kelapa yang efektif terhadap penurunan kandungan BOD, COD dan TSS limbah cair pabrik tahu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (quasi experimen) dengan membandingkan pengaruh pemberian suatu perlakuan (treatment) serta melihat berapa besar pengaruh perlakuannya. Desain penelitian yang digunakan pretest dan posttest. Banyaknya perlakuan yang dilakukan 4 kali dengan 5 kali pengulangan. Perlakuan pertama arang tempurung kelapa yang digunakan sebanyak 0.5 kg, perlakuan kedua 1 kg, perlakuan ketiga 1.5 kg dan perlakuan keempat 2 kg. Masing-masing perlakuan membutuhkan sampel limbah cair tahu sebanyak 5 liter. Sehingga pada penelitian ini membutuhkan air limbah tahu sebanyak 100 liter. Teknik sampling pada penelitian ini adalah menggunakan sampel sesaat (grap sampel). Variabel penelitian meliputi variabel independen dan dependen. Variabel independen pada penelitian ini adalah berat arang tempurung kalapa dan variabel dependen adalah kandungan BOD, COD dan TSS. Analisis data yang digunakan adalah Repeated Anova dan uji perbandingan ganda. Hasil analisis data dengan uji repeated anova menunjukan terdapat pengaruh pemberian arang tempurung kelapa terhadap kandungan BOD, COD dan TSS limbah cair pabrik tahu dengan nilai p value > 0,05. Adapun berat arang yang efektif untuk menurunkan kandungan BOD, COD dan TSS berada sampai batas baku mutu yang telah ditetapkan yaitu 2 kg. Dan yang disarankan untuk pemilik usaha pabrik tahu untuk melakukan pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan, agar mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PERILAKU PERSONAL HYGIENE DAN LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN SKABIES PADA SANTRI PUTERI DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA AL-AZHAR CITANGKOLO KOTA BANJAR Fenty Rosmala; Ai Siti Fatimah
Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan Mandiri Aktif
Publisher : LPPM STIKes Bina Putera Banjar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Skabies menduduki peringkat ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering di Indonesia. Penderita skabies banyak ditemukan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar, terutama pada santri puteri yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2016 sebanyak 40 kasus dan mengalami peningkatan pada tahun 2017 yaitu menjadi 60 kasus (Poskestren Puteri, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor perilaku personal hygiene dan lingkungan dengan kejadian skabies pada santri puteri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian case-control. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh santri puteri yang menderita skabies yaitu sebanyak 60 kasus, dan populasi kontrol adalah seluruh santri puteri yang tidak menderita skabies yaitu sebanyak 664 santri puteri. Sampel yang diambil sebanyak 120 santri puteri yang terdiri dari 60 kelompok kasus dan 60 kelompok kontrol, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian pada kelompok kasus didapatkan perilaku personal hygiene santri puteri sebagian besar mempunyai perilaku buruk sebesar 61,7%, ventilasi yang tidak memenuhi syarat sebesar 100%, kelembaban yang tidak memenuhi syarat sebesar 90,0%, dan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat sebesar 86,7%, sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan perilaku personal hygiene santri puteri sebagian besar mempunyai perilaku baik sebesar 63,3%, ventilasi yang memenuhi syarat sebesar 85,0%, kelembaban yang memenuhi syarat sebesar 95,0%, dan pencahayaan yang memenuhi syarat sebesar 95,0%. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan antara perilaku personal hygiene dengan kejadian skabies (0,006 < 0,05), ventilasi dengan kejadian skabies (0,000 < 0,05). kelembaban dengan kejadian skabies (0,000 < 0,05) dan pencahayaan dengan kejadian skabies (0,000 < 0,05).