Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DAKWAH DI TENGAH PLURALISME AGAMA: Studi Pemikiran Dakwah Inklusif Alwi Shihab Ade Masturi
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol 21, No 1 (2017): Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dakwah.v21i1.11795

Abstract

Para ahli agama (Islam) sudah banyak merumuskan konsep dakwah yang sejalan dengan nilai-nilai al-Qur’an dan sunnah. Salah satu cendekiawan Muslim yang konsens dengan dakwa Islam inklusif adalah Alwi Shihab. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemikiran Alwi Shihab tentang dakwah di tengah tantangan pluralisme agama? Tulisan ini merupakan hasil penelitian atas karangan Alwi Shihab Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama; Islam Sufistik; dan Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Selain itu juga mengeksplorasi bagaimana penilaian dan pandangan berbagai kalangan melalui tulisan mereka tentang tokoh tersebut.Menurut Alwi Shihab, dakwah di Indonesia harus menentukan prioritasnya. Orientasi kerja dakwah seharusnya diarahkan ke arah perwujudan ummatan washata (umat pertengahan dan berorientas pada kualitas), kemudian untuk menumbuhkan perkembangan kehidupan beragama yang sehat dan damai melalui dialog yang konstruktif. Ada beberapa pokok pikirannya tentang dakwah di tengah pluralisme yakni niat, dipercaya, kata sesuai dengan tindakan. Dakwah harus ditujukan untuk menghidupkan kembali semangat Islam melalui pendidikan yang layak yang menjadikan setiap Muslim duta yang potensial bagi Islam. Menghindari Ekstrimisme dalam penyampaian dakwah. Tasamuh (toleransi), dan ‘adl (keadilan) dan menghormati norma-norma budaya lokal selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Para ahli agama (Islam) sudah banyak merumuskan konsep dakwah yang sejalan dengan nilai-nilai al-Qur’an dan sunnah. Salah satu cendekiawan Muslim yang konsens dengan dakwa Islam inklusif adalah Alwi Shihab. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemikiran Alwi Shihab tentang dakwah di tengah tantangan pluralisme agama? Tulisan ini merupakan hasil penelitian atas karangan Alwi Shihab Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama; Islam Sufistik; dan Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Selain itu juga mengeksplorasi bagaimana penilaian dan pandangan berbagai kalangan melalui tulisan mereka tentang tokoh tersebut.Menurut Alwi Shihab, dakwah di Indonesia harus menentukan prioritasnya. Orientasi kerja dakwah seharusnya diarahkan ke arah perwujudan ummatan washata (umat pertengahan dan berorientas pada kualitas), kemudian untuk menumbuhkan perkembangan kehidupan beragama yang sehat dan damai melalui dialog yang konstruktif. Ada beberapa pokok pikirannya tentang dakwah di tengah pluralisme yakni niat, dipercaya, kata sesuai dengan tindakan. Dakwah harus ditujukan untuk menghidupkan kembali semangat Islam melalui pendidikan yang layak yang menjadikan setiap Muslim duta yang potensial bagi Islam. Menghindari Ekstrimisme dalam penyampaian dakwah. Tasamuh (toleransi), dan ‘adl (keadilan) dan menghormati norma-norma budaya lokal selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam.
Dakwah Humanis: Studi tentang Etika Sosial Nurcholish Madjid Ade Masturi; Asih Dewi Utami
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol 26, No 2 (2022): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dakwah.v26i2.29321

Abstract

Agama selama berabad-abad sering terseret jauh dari misi moralnya yang mulia dan luhur sehingga berubah menjadi sumber kebencian, permusuhan, dan peperangan. Berangkat dari analisis historis seperti ini, muncul sebuah seruan untuk mengembalikan agama kepada misi aslinya seperti disuarakan oleh para pembawanya, untuk kemanusiaan, untuk menampilkan wajah aslinya, wajah humanis, wajah ramah. Melihat kenyataan ini, tampak dakwah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketika dakwah diartikan sebagai transformasi sosial, dakwah akrab dengan teori-teori perubahan sosial yang mengasumsikan terjadinya progress (kemajuan) dalam masyarakat. Agama yang dibutuhkan oleh umat manusia setiap zaman adalah agama yang humanis. Doktrin, paham, atau gerakan yang bertujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia disebut humanisme. Sementara humanisme dalam Islam dipahami sebagai sebuah gerakan yang mempunyai spirit egaliter. Nurcholish Madjid termasuk tokoh yang giat menyuarakan pesan Islam yang damai, ramah dan sejuk. Ia dianggap lebih kontekstual dalam memahami doktrin-doktrin agama, dan pesan-pesan keagamaannya dianggap lebih humanis.Pemikiran Madjid yang tertuang dalam pesan-pesan dakwahnya yang berorientasi pada etika sosial khususnya menyangkut hubungan agama, baik internal dan eksternal agama, lebih spesifik lagi menyangkut persaudaraan, toleransi, keadilan sosial dan lain-lain, dapat dilacak dari ide-idenya tentang pembaruan pemikiran dalam Islam.