Mamin Suparmin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK Mamin Suparmin
Jurnal Ilmiah Spirit Vol. 10 No. 2 (2010): Jurnal Ilmiah Spirit
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jis.v10i2.34

Abstract

Ketika penulis memutuskan untuk masuk sekolah pendidikan guru (baca PGA) yang tergambar dalam benak penulis pada waktu itu adalah menjadi guru itu gampang. Beban kerja tidak banyak. Paling-paling kerja kita hanya menghafalkan materi pelajaran yang akan diajarkan kepada murid dan sesekali memeriksa PR atau hasil ujian anak-anak. Waktu yang tersita untuk melakoni pekerjaan juga tidak begitu lama, ya… paling-paling 6 jam setiap harinya. Itu pun banyak waktu istirahatnya. Kalau anak-anak liburan, guru juga ikut libur. Namun, setelah beberapa bulan menjalani pendidikan di bangku sekolah guru tersebut. Penulis baru sadar ternyata menjadi guru bukanlah  semudah yang Penulis bayangkan selama ini. Menjadi guru ternyata pekerjaan yang teramat sulit, rumit dan butuh pengorbanan, tidak hanya waktu, melainkan juga pengorbanan pikiran dan perasaan. Menjadi guru berarti memikul amanah yang begitu besar, yang mesti dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia melainkan juga kepada Allah SWT. Kelak. Singkatnya, profesi guru ternyata harus dilakoni dengan sepenuh hati, melibatkan hampir segenap kemampuan jiwa dan raga, kemampuan intelektual, fisikal, emosional dan bahkan spiritual sekaligus. Pandangan konstruktivisme tentang pembelajaran, maka kehadiran guru dan murid di ruang kelas lebih dari sekadar mengajar (guru) dan belajar (murid) dalam pengertian yang dipahami selama ini. Menurut pandangan lama, “mengajar, berimplikasi dengan “belajar”, siswa belajar kalau guru mengajar: Artinya, dalam kegiatan belajar-mengajar guru lebih mengambil posisi sebagai produsen, karenanya bersifat aktif, sedangkan murid mengambil posisi sebagai konsumen karenanya bersifat pasif. Dalam pengertian ini, mengajar lebih dipandang sebagai, upaya untuk memberikan informasi atau upaya memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid.
IDENTIFIKASI FAKTOR FISIK ATLET CABANG BULUTANGKIS Mamin Suparmin
Jurnal Ilmiah Spirit Vol. 15 No. 1 (2015): JURNAL ILMIAH SPIRIT
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jis.v15i1.296

Abstract

Persoalan mendasar mengapa cabang olahraga bulutangkis nasional yang subur dengan prestasi justru beberapa tahun terakhir menurun. Legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata (2012) menilai ada dua masalah besar dalam pengembangan cabang bulutangkis nasional. Masalah pertama adalah setiap kepengurusan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selalu ingin mendapatkan “nama” diperiode kepengurusannya, sebagai contoh pemain-pemain senior yang dikirim mengikuti berbagai kejuaraan.“Itu menyebabkan atlet junior kurang mendapatkan kesempatan sehingga kurang adanya regenerasi,”Sebaliknya, pemain junior Indonesia yang tidak pernah dikirim ke ajang bergengsi tidak mendapatkan lawan tanding yang bagus dimana mereka bisa menimba pengalaman. Masalah kedua adalah adanya kesenjangan yang besar antara bulutangkis Jawa dan luar Jawa. Ada anggapan kalau mau ingin sukses bulutangkis harus pergi ke Jawa dan  masuk klub-klub besar. Hal itulah yang menyebabkan perbedaan kemampuan,”