Nopriansah Nopriansah
Universitas Dehasen Bengkulu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IKAN PAIS (SEBUAH KAJIAN EKOLINGUISTIK TERHADAP MAKANAN TRADISIONAL BENGKULU) Nopriansah Nopriansah
BASIS (Bahasa dan Sastra Inggris) Vol 6 No 1 (2019): JURNAL BASIS UPB
Publisher : Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.484 KB) | DOI: 10.33884/basisupb.v6i1.1027

Abstract

Abstrak Pentingnya bahasa dalam hubungannya dengan lingkungan dan budaya menjadikan bahasa sebagai unsur penting dalam penelitian lingkungan alam dan sosial. Berbicara mengenai budaya dan alam dalam kajian ekolinguistik tidak lepas dari local genius yang menjadi kekayaan suatu bangsa termasuk dalam hal ini adalah kuliner tradisional yang secara sengaja (culturally) atau tidak disengaja (naturally) memiliki keterkaitan dengan alam sekitar yang melingkupi suku/bangsa pembuat kuliner tersebut. Salah satu kuliner tradisional asal Bengkulu, yaitu Ikan Pais menjadi salah satu bentuk budaya setempat (local genius) yang terwujud dari penggunaan beberapa benda lainnya berhubungan dengan lokasi pembuatan kuliner tersebut. Penulis mengangkat topik Ikan Pais sebagai local genius dalam penelitiannya yang dianalisis menggunakan sudut pandang ekolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi yang lengkap dan sahih tentang bentuk, makna, fungsi, dan nilai yang terkandung dalam benda-benda local genius kuliner tradisional Ikan Pais. Penelitian ini mengacu pada teori-teori linguistik umum dan ekolinguistik yang berhubungan dengan bentuk, makna, fungsi, dan nilai, antara lain teori yang dikemukakan oleh Chomsky (dalam Van Valin dan LaPolla (1997), Lyons (dalam Djajasudarma, 2009), Suryadi et al (2002), Edward Sapir, Peter Finke, dan Einar Haugen (dalam Fill dan Mühlhaüsler, 2001), serta berbagai pandangan lain yang mempunyai korelasi dengan penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cakap, metode simak, dan metode kepustakaan. Metode cakap adalah percakapan dan terjadi kontak antara peneliti selaku peneliti dengan penutur selaku nara sumber. Metode simak adalah penyimakan terhadap bahasa yang digunakan (Sudaryanto, 1988). Sedangkan metode kepustakaan adalah pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir dalam Agung, 2011). Dengan demikian, hasil yang diharapkan adalah berupa pemerian terhadap aspek tersebut dipandang dari disiplin ekolinguistik. Keywords: ikan pais, local genius, ekolinguistics
Variety Of Second Singular Pronouns In Serawai Language Nopriansah Nopriansah
Script Journal: Journal of Linguistics and English Teaching Vol. 3 No. 1 (2018): April
Publisher : Teacher Training and Education Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.026 KB) | DOI: 10.24903/sj.v3i1.139

Abstract

NopriansahUniversity of Dehasen Bengkulunopriansahad@gmail.com   Abstract: This study focuses on the use of various second singular pronouns in Serawai language spoken in the village of Maras, the District of Seluma, Bengkulu Province, Indonesia. It aimed to provide a complete and valid description of the form, meaning, and context of various second singular pronouns in the language. The data were collected by using observational methods. The techniques applied in collecting the data were interview, reading some supporting literatures, recording the language production, and taking field notes. In analyzing the collected data, the researcher used the referential identity and distributional methods. While dividing the key factors, equalizing, differentiating, equalizing the main points, segmenting immediate constituents, substituting, and deleting are techniques applied in analyzing the data. By analyzing the forms, meanings, and functions of the objects, it was concluded that the two lexicons found were a variety of second singular pronouns in Serawai language. Whereas, the selection of using one of the variations was closely related to the social context of the speaker and the speech partner. The result of this study is expected to be useful for the development of linguistics.Keywords: form, meaning, variety, second singular pronouns, serawai language