Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi Tawas terhadap Ketuaan dan Ketahanan Luntur Warna pada Pencelupan Kain Sutera dengan Zat Warna Gambir Dwi Suheryanto; Tri Haryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v25i1.1023

Abstract

Zar warna gambir diperoleh dari hasil ekstrak tanaman gambir yang merupakan saah satu tanaman komoditi ekspor unggulan Sumatera Barat yang memberikan devisa cukup besar dengan prospek pengembangan yang cukup baik. Zat warna gambir adalah zat wama alam jenis mordan-dye dan  tidak tahan terhadap garam yang dipakai dalam pencucian. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian memegang peranan penting dan sebagai penentu kualitas produk batik. Untuk meningkatkan kualitas hasil celupan zat warna gambir pada kain sutera, maka perlu dilakukan penelitian penggunaan tawas sebagai zat fiksator pada proses pencelupan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan tawas terhadap ketuaan dan ketahanan luntur warna pencelupan kain sutera dengan zat warna gambir. Konsentrasi tawas yang digunakan adalah 30 gram/I, 50 gram/I dan 70 gram/I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ada pengaruh yang nyata pada penggunaan tawas 30 gram/I, 50 gram/I dan 70 gram/I terhadap ketuaan warna kain sutera yang dicelup dengan zat warna gambir menghasilkan ketuaan warna yang berbeda dengan kain sutera yang tidak difiksasi. Tidak ada pengaruh yang nyata pada penggunaan konsentrasi tawas 30 gram/I, 50 gram/I dan 70 gram/l terhadap ketahanan luntur warna ditinjau dari perubahan warna pada kain sutera yang dicelup dengan zat warna gambir. Kain sutera yang difiksasi dengan tawas 70 gram/l menghasilkan warna yang lebih tua bila dibandingkan dengan kain sutera yang difiksasi dengan tawas 30 gram/l dan 50 gram/l.Kata kunci : fiksator, konsentrasi tawas, ketuaan warna, ketahanan luntur warna, zat warna gambir.
Pengaruh Penggunaan Konsentrasi Amonium Sulphide pada Pewarnaan Kerajinan Logam Perak Dwi Suheryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v22i1.971

Abstract

Proses pewarnaan kerajinan logam perak dengan amonium sulphide dapat memberikan hasil yang memberi kesan dekoratif dan menarik, karena proses tersebut merupakan hasil reaksi antara zat tersebut dengan logam perak sebagai benda kerja.Proses pewarnaan logam perak menggunakan variasi konsentrasi ammonium sulphide 100 cc, 125 cc, dan 125 cc per 850 cc air dengan variasi waktu 5 menit; 7,5 menit; dan 10 menit. Logam perak yang digunakan perak 925 ukuran 2 x 3 cm berat 25 gram, dan teknik yang digunakan dengan cara merendam benda kerja pada larutan ammonium sulphide pada suhu 50o C.Hasil pengujian terhadap ketahanan atau perubahan warna dan ketuaan warna menunjukkan bahwa proses pewarnaan logam perak 925 pada temperatur 50o C, dengan konsentrasi 125 cc dengan waktu 7,5 menit memberikan hasil ketuaan dan ketahanan warna yang baik dengan nilai rata – rata 1 dan menimbulkan warna hitam keabu – abuan dengan nilai rata – rata 1 – 2. Kata kunci : ammonium sulphide, perak, pewarnaan
Penelitian Pengaruh Konsentrasi Natrium Silikat pada Proses Pelorodan Kain Batik Sutera Dwi Suheryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1038

Abstract

Proses pelorodan (pelepas Iilin) Iilin pada kain batik sutera umumnya dapat menggunakan kanji, natrium silikat, dan bensin. Penggunaan kanji biasanya digunakan pada kain katun. Jika digunakan pada kain sutera hasilnya kurang sempurna dan menyebabkan kain sutera berkerut. Sedangkan penggunaan natrium stlikat selain dapat menurunkan kekuatan tarik juga menurunkan derajat intensttas warna. Penggunaan bensin juga tidak ekonomis dan sangat berbahaya bagi keselamatan kerja, selain juga akan menurunkan intensitas warna.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pelorodan Ii/in batik dengan bahan kimia yang lain yaitu natrium silikat (Na2Si03) sekaligus terhadap kekuatan tarik kain batik sutera hasil pelorodan tersebut. Pada penelitian proses pelorodan ini digunakan berbagai konsentrasi natrium silikat, yaitu 2 gr/l, 4 gr/I. dan 6 gr/l. Sedangkan kain sutera yang dipakai sebagai contoh diuji adalah jenis T 54 dan pewamaannya menggunakan zat warna indigosol. Pengujian dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh prosentase Iilin batik yang lepas dari kain, dan kekuatan tarik kain sutera.Penelitian memberikan basil bahwa nilai rata-rata konsentrasi natrium silikat yang meningkat memberikan kekuatan arah lusi yang meningkat diikuti pula meningkatnya arah pakan. Selanjutnya hasil yang diperoleh adalah prosentasi berat Iilin yang terlorod menunjukan hasil similar, yaitu meningkat sesuai dengan meningkatnya konsentrasi natrium silikat yang digunakan. Ternyata dari hasil analisa dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap uji kekuatan tarik terhadap penggunaan konsentrasi natrium silikat pada proses pelorodan. Akan tetapi diperoleh hasil bahwa natrium silikat dengan konsentrasi 2 g/l dapat digunakan untuk pelorodan kain batik sutera dan nilai yang lebih ekonomis.Kata kunci : natrium silikat, pelorodan, kain batik sutera, kekuatan tarik
Analisa Pengaruh Soda Abu terhadap Pelorodan Lilin Batik dan Kekuatan Tarik Kain Batik Sutera Tri Haryanto; Dwi Suheryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v25i1.1024

Abstract

Proses pelorodan (pelepas lilin) Iilin pada kain batik sutera umumnya dapat menggunakan kanji dan waterglas. Penggunaan kanji biasanya digunakan pada kain katun. Jika digunakan pada kain sutera hasilnya kurang sempurna dan menyebabkan kain sutera berkerut. Sedangkan penggunaan waterglass dapat memberikan hasil yang diketahui dapat menurunkan kekuatan tarik kain sutera tersebut.Tujuan penelitian ini adalah menguji pelorodan Iilin dengan zat kimia yang lain yaitu soda abu (Na2CO3) sekaligus terhadap kekuatan tarlk kain batik hasil pelorodan tersebut. Pada penelitian proses pelorodan ini digunakan berbagai konsentrasi soda abu. Sedangkan kain sutera yang dipakai sebagai sampel yang diuji adalah jenis T 54 dengan pewarnaan menggunakan zat warna lndigosol Green IB.Penelitian memberikan hasil bahwa nilai rata-rata konsentrasi soda abu yang meningkat memberikan kekuatan arah lusi yang meningkat diikuti pula meningkatnya arah pakan. Selanjutnya hasil yang diperoleh adalah prosentasi berat Iilin yang terlorod menunjukan hasil similar, yaitu meningkat sesuai dengan meningkatnya konsentrasi soda abu yang digunakan. Ternyata dari hasil analisa dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap uji kekuatan tarik terhadap penggunaan konsentrasi soda abu pada proses pelorodan. Akan tetapi diperoleh hasil bahwa soda abu dengan konsentrasi 1 g/l dapat digunakan untuk pelorodan batik dan nilai yang lebih ekonomis. Kata kunci: kain batik sutera; kekuatan tarik; lilin batik; pelorodan; soda abu