Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penggunaan Kembali Larutan Bekas Pencelupan Padding Metoda Pencelupan Tunggal Menggunakan Zat Warna Remasol pada Salah Satu IKM Batik Cap Sulaeman Sulaeman
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 31, No 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i0.1086

Abstract

ABSTRAKUntuk mendapatkan kain batik bentuk panjang, sebagian IKM batik mewarnai kain batikannya menggunakan alat padder metoda pencelupan tunggal menggunakan zat warna Remasol. Pada akhir pencelupan masih tersisa larutan bekas pencelupan sebanyak sekitar dua liter. Biasanya larutan bekas pencelupan tersebut dibuang ke lingkungan pada saat padder dicuci. Telah dilakukan penelitian pencelupan padding metoda pencelupan tunggal menggunakan zat warna Remasol warna hitam, merah dan hijau dengan fiksasi menggunakan Natrium silikat. Masing-masing  larutan bekas pencelupan disimpan selama dua hari dan selanjutnya digunakan untuk pencelupan kembali dengan metoda yang sama pada kain batikan yang baru. Terhadap keenam contoh uji selanjutnya diuji dalam hal ketuaan warna secara organoleptik dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Hasil uji memperlihatkan bahwa ketuaan warna hasil pencelupan menggunakan larutan bekas pencelupan yang telah disimpan selama dua hari untuk warna hitam dan merah menurun sekitar 30%, sedangkan untuk warna hijau menurun sekitar 90%. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian.untuk warna hitam, merah dan hijau tetap baik. Kesimpulan dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa larutan bekas pencelupandapat dipergunakan kembali tanpa menurunkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Kata kunci : Kain batikan, Padder, Pencelupan padding metoda pencelupan tunggalABSTRACTTo get the long batik cloth, partly of SMEs of batik colored white batik fabric using padder by single bath dyeing method using Remasol dyes. At the end of dyeing the remaining of dye solution was used by about two liters. Usually the former solution is discharged into the  environment when the padder is washed. The research of single bath pad-dyeing method using Remasol dyes black, red and green colour with Natrium silicate fixarion. have been done. The remaining of each dye solution is stored for 2 days and then used for dyeing again with the same method on the new white batik fabric. The six samples were then tested in terms of depth of shade in organoleptic and color fastness to washing. The test results show that the depth of shade for black and red color which was dyed respectively by a remaining solution that had been stored for two days was decreased by about 30%, while for the green color was decreased by approximately 90%. Color fastness to washing for black, red and green was still good. Conclusions from the study showed that the remaining dyeing solution can be reused without degrading the color fastness to washing.Keywords: White batik fabric, Padder, Single bath pad-dyeing method
Teknologi Pembuatan Batik Brokat Dengan Oksidator KmNO4 Sulaeman Sulaeman; Djiyono Djiyono
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i8.972

Abstract

       Serat selulosa dapat rusak oleh asam kuat dan zat-zat pengelantang yang bersifat oksidator atau pun reduktor. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk pembuatan batik brokat (yaitu batik yang mempunyai penampilan seperti kain brokat) dari kain campuran polyamida dan selulosa dengan cara perusakan salah satu jenis seratnya yang dikerjakan secara rendaman dengan lilin batik sebagai zat perintangnya.       Proses pembuatan batik brokat dilakukan secara “lorodan” dengan teknik pengerjaan seperti pada pembuatan batik pada umumnya. Menjelang akhir proses pengerjaan, dilakukan proses perusakan serat selulosa. Bagian kain yang tertutup lilin batik tetap tebal, sedang bagian kain yang terbuka (tak tertutup lilin batik) akan menjadi tipis, sehingga diperoleh efek tebal-tipis seperti pada kain brokat.       Zat perusak yang dipergunakan adalah: asam sulfat, kalium permanganat, kostik soda, dan natrium hidrosulfit. Dengan membuat bermacam-macam konsentrasi zat-zat tersebut diperoleh konsentrasi terkecil yang menghasilkan perusakan sempurna seperti berikut:Rendaman I selama 30 menit dalam larutan KMnO4 5 g/1 dan H2SO4 93% 25 cc/1Rendaman II selama 30 menit dalam larutan NaOH 20 g/1Rendaman III selama 30 menit dalam larutan Na2S2O4 20 g/1
Penelitian Penggunaan Zat Warna Prada Sulaeman Sulaeman; Tien Suhartini
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i10.982

Abstract

     Zat warna prada adalah sejenis zat warna metal. Di pasaran terdapat dua bentuk zat warna prada yaitu bentuk bubuk dan bentuk apsta, sedang warnanya terdiri dari dua macam warna yaitu warna eemas dan warna perak. Penggunaan zat warna prada selain  untuk batik juga digunakan untuk bahan sandang lainnya misalnya tekstil kerajinan seperti sasirangan, jumputan dan tenun ikat dengan maksud untuk mendapatkan diversifikasi produk serta meningkatkan nilai tambahnya.            Di dalam penelitian ini pasta dibuat dari zat wana prada bentuk pasta warna emas, zat warna prada bentuk bubuk warna emas dan warna perak. Sedangkan zat pembantu yang digunakan adala binder metalik, katalis DAP dan polysol. Pasta prada kemudian dilekatkan pada kain dengan menggunakan canting tulis. Keenceran pasta prada diatur dengan penambahan air.            Dari hasil evaluasi terlihat bahwa pasta prada yang dibuat dari zat warna prada emas berbentuk pasta zat warna prada bentuk zat warna emas dan perak dan binder dengan perbandingan 1:5, atau campuran keduanya dengan perbandingan 1:1 sampai 1:2 merupakan pasta prada yang cukup baik digunakan, baik dalam kelancaran pelekatan maupun ketahanan luntur terhadao pencucian, gosokan dan sinar.            Di dalam penelitian ini pasta dibuat dari zat wana prada bentuk pasta warna emas, zat warna prada bentuk bubuk warna emas dan warna perak. Sedangkan zat pembantu yang digunakan adala binder metalik, katalis DAP dan polysol. Pasta prada kemudian dilekatkan pada kain dengan menggunakan canting tulis. Keenceran pasta prada diatur dengan penambahan air.            Dari hasil evaluasi terlihat bahwa pasta prada yang dibuat dari zat warna prada emas berbentuk pasta zat warna prada bentuk zat warna emas dan perak dan binder dengan perbandingan 1:5, atau campuran keduanya dengan perbandingan 1:1 sampai 1:2 merupakan pasta prada yang cukup baik digunakan, baik dalam kelancaran pelekatan maupun ketahanan luntur terhadao pencucian, gosokan dan sinar.  
Penelitian Pengaruh Beberapa Pelarut Organik Dalam Pembuatan Lilin Batik Cair Terhadap Proses Pembatikan Sulaeman Sulaeman; Tien Suhartini
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i8.973

Abstract

       Pembuatan lilin batik pasta merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan lilin batik cair pada suhu kamar yang siap pakai sehingga dapat dipergunakan seperti lilin batik tradisional.       Dalam menelitian ini lilin batik pasta diencerkan dengan berbagai variasi komposisi di dalam beberapa pelarut organik seperti: Aceton, Toluen, n-Hexana, Terpentin, sehingga diperoleh lilin batik cair. Selanjutnya lilin batik cair tersebut dicoba dibatik tuliskan, dan hasilnya dievaluasi.       Pada percobaan ini campuran 25,0 gram Toluen dan 15,5 gram Aceton yang dipergunakan untuk mengencerkan 100,0 gram lilin batik cair, lilin batik cair yang dihasilkan: lancar pada pembatikanya, tapak cantingnya tajam, tembus dan tak patah-patah, cukup tahan terhadap alkali yang dipergunakan pada proses pencelupan batik, mudah dilorod (dilepas kembali dari kain) tanpa meninggalkan noda, serta waktu pengeringannya 22,5 jam.