Iim Imadudin
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERKEMBANGAN ETNOPRENEURSHIP DI GARUT 1945-2010 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.704 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.262

Abstract

AbstrakSemangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan masih sedikitmendapat perhatian. Minimnya perhatian tersebut terbatas pada etnis-etnis tertentusaja yang dikenal memiliki jiwa etnopreneurship. Penelitian ini berupaya memberikangambaran bahwa dinamika internal sukubangsa Sunda yang tinggal di Garutmemperlihatkan wataknya yang entrepreneurship. Selama ini Garut lebih banyakdikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang potensial sehingga menjadidaerah tujuan wisata yang penting. Selain itu, kekayaan kuliner juga sudah menjadipengetahuan bersama masyarakat Jawa Barat pada khususnya. Sementara itu,pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kultural jarang diungkap.Kekhasan ekonomi kreatif di daerah ini terletak pada spesialisasi profesi masingmasingdesa. Meski masih terlalu dini, agaknya konsep one village, one product (satukampung, satu produk) cukup tepat ditempatkan dalam konteks kewirausahaan diGarut. Tradisi merantau secara terbatas menunjukkan karakter khas masyarakat diwilayah Garut. Ada yang menetap dalam waktu yang cukup lama di wilayah lain.Akan tetapi, sebagian terbesar kembali pada waktu-waktu tertentu, bahkan menjadicomutter secara intensif.Penelitian ini mencakup tiga bidang usaha yang berbeda, yaitu usaha batikgarutan, industri kulit Sukaregang, dan tukang cukur Banyuresmi. Ketiga objektelitian tersebut dipetakan menurut dua kategori: kota-desa, surplus-minus. Sumberprimer berasal dari wawancara lisan dengan para informan yang terlibat denganaktivitas kewirausahaan. Sementara itu, sumber sekunder dari literatur. Kajianmengenai semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan menjadi pentingdi tengah usaha untuk mengembangkan local genious di bidang ekonomi kreatif.AbstractThe paper was based on the fact that exposing cultural context of humanresources is not common in our country. This research tries to describe the greatentrepreneurship of the Sundanese of Garut. They used to wander about (merantau)and commute very intensively to trade to other cities or regions. The uniqueness ofthe city is that every village has its own specialty. This research covers three kindsof business: batik garutan (a kind of batik with spesific motifs of Garut), leatherindustry in Sukaregang and barbers of Banyuresmi. Data were collected throughinterviews and bibliographic studies. The author came into conclusion that the study need forof entrepreneurship (in ethnical context) is very important in developing local geniusin creative economy.
KONFLIK, KEKERASAN, DAN MEDIASI SOSIAL DI PEDESAAN LAMPUNG 1988-2001 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.07 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.224

Abstract

AbstrakKonflik dan integrasi merupakan dua unsur yang inheren dalam kehidupan masyarakat. Dalam kondisi itu terjadi dialektika yang mengakibatkan kehidupan menjadi dinamis. Konflik menjadi jalan ke arah terbentuknya integrasi baru. Dalam masyarakat yang terintegrasikan sedemikian rupa, konflik dapat tumbuh dan berkembang.Lampung sebagai wilayah yang multietnik memiliki potensi konflik yang tinggi. Fakta sejarah menunjukkan sejumlah konflik terjadi di daerah tersebut. Tahun 2000, misalnya, konflik sosial berlangsung dalam intensitas yang tinggi. Ditinjau dari perspektif sejarah, konflik dan integrasi merupakan dua komponen yang berjalin kelindan dalam sejarah masyarakat. Penelitian ini memokuskan perhatian terhadap sebab-sebab dan mediasi  konflik. AbstractConflict and integration represent two element which inherent in life of society. Between both taking place dialectict resulting life become is dynamic. Conflict can become road at formed its of new integration. On the contrary, in integrated society in such a manner conflict can grow and expand. Lampung as region which multietnic society have high conflict potency. History fact showing a number of conflict happened. Evaluated in perspective of history, integration and conflict represent two component interweaving in its society history. This research of its attention focus in conflict mediation and causes.
PERANAN KIAI DAN PESANTREN CIPARI GARUT MENGHADAPI DI/TII (1948-1962) Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.547 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.205

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan mengungkap peranan salah satu pesantren bersejarah di Garut Jawa Barat, yaitu Pesantren Cipari. Pesantren ini sejak awal perkembangannya memang lekat dengan perjuangan kebangsaan. K.H. Yusuf Tauziri dan beberapa kiai lainnya memimpin gerakan Sarekat Islam di Garut tahun 1920 hingga 1930-an. Ujian kesetiaan terhadap Republik terjadi ketika gerakan DI/TII di tahun 1948 melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Pihak pesantren dengan tegas mendukung pemerintah, sebagaimana terepresentasikan dalam sikap pemimpinnya, K.H. Yusuf Tauziri. Maka, konflik antara pihak pesantren dan pasukan DI/TII tidak terhindarkan. Tulisan ini sebagian besar berasal dari kesaksian lisan tokoh-tokoh Pesantren Cipari dan sumber tertulis lainnya. Memahami kiprah Pesantren Cipari berarti pula memahami perjuangan kebangsaan secara keseluruhan, khususnya pada masa konflik sosial setelah kemerdekaan.AbstractThis article aims to reveal the role of one of the historical pesantren in Garut West Java, that is Pesantren Cipari. This Pesantren since beginning of its the development is closely related to the struggle of nationalism. K.H. Yusuf Tauziri and some other kiai leads movement Sarekat Islam in Garut in 1920 until 1930s. Examination of fidelity to the Republic occurred when movement DI/TII in 1948 to fight against the government. Pesantren Cipari firmly supports the government, as in the attitude of the leaders, K.H. Yusuf Tauziri. Thus, the conflict between Pesantren Cipari and forces DI/TII inevitable. This paper is largely derived from oral testimony of Pesantren Cipari leaders and other written sources. Understanding the role of Pesantren Cipari also means understanding the nationalist struggle as a whole, especially during social conflicts after independence.