Agus Heryana
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JEJAK KEPEMIMPINAN ORANG SUNDA: PEMAKNAAN AJARAN DALAM NASKAH CARITA PARAHYANGAN (1580) Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.294 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.178

Abstract

AbstrakNaskah Carita Parahiyangan  ditulis sekitar tahun 1580 M merupakan kelompok naskah sejarah.  Penelitian yang didasarkan pada kajian sejarah tentu sudah dilakukan yang kemudian memunculkan nama raja,  kerajaan  dan masa kekuasaannya.  Berbeda dengan itu, penelitian atas naskah - yang akan dilakukan ini -  tidak pada eksistensi kerajaan, melainkan terfokus pada ajaran kepemimpinannya. Apa yang mendasari keberhasilan dan keruntuhan sebuah kerajaan? Adakah ajaran yang   menjadi pegangan dalam membangun masyarakatnya. Pengkajian ajaran kepemimpinan dalam teks naskah Carita Parahiyangan menggunakan kajian anaslisis isi mengingat teks merupakan deskripsi naratif. Di samping itu, digunakan pula metode intertekstual  yakni menelusuri teks dari teks naskah lain yang sezaman atau yang ada sebelumnya. Dalam hal ini adalah naskah Siksakandang Karesian dan naskah Amanat (dari) Galunggung.  Hasil yang diperoleh adalah  pemerintahan kerajaan itu terkait dengan ajaran yang dipegangnya. Baik buruknya seorang raja (pemimpin) sangat erat dengan ketaatan, kepatuhan atau pelanggaran terhadap ajaran. Ajaran yang muncul pada masa kerajaan Sunda adalah sebagaimana terdapat dalam ajaran Siksakandang karesian dan Amanat dari Galunggung. AbstractCarita Parahyangan is a historical script, written about 1580 BC.  The research based on the study of history would have done by another researcher which is raising the name of the king, kingdom, and power.  Differently, this study of the manuscript - which will be done – is not on the existence of the kingdom, but rather focused on the teaching of leadership.  What constitutes success and collapse of an empire does? Are there any teachings of the grip in a building community? This research focused on teaching leadership in the Carita Parahiyangan manuscript uses study of the text which is considering the text is narrative description. In addition, the intertextual method is also used to search a text of the other contemporary manuscript text or previously exist.  In this case the previous manuscripts are Siksakandang Ngkaresian and Amanat (from) Galunggung.  The result of this study is the Kingdom is related to the holding of the teaching.  Pros and cons of a king (leader) are very close with the obedience, compliance or violation of the tenets.  The tenets which is appeared in the era of Sundanese kingdom is like what it has been founded in the tenets of Siksakandang Ngkaresian and Amanat dari Galunggung manuscript.
1 NASKAH AJARAN ISLAM DALAM PENCAK SILAT AMENG TIMBANGAN Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.706 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.136

Abstract

AbstrakPencak silat aliran Timbangan merupakan buah dari ajaran Islam yang bersumber pada naskah Timbangan yang ditulis oleh R. Moezni Anggakoesoemah pada tahun 1920-an. Masyarakat Jawa Barat, khususnya pecinta bela diri pencak silat, lebih mengenal Ameng Timbangan sebagai bela diri ketimbang sebuah ajaran mengenai pokok-pokok agama Islam. Padahal sesungguhnya Ameng Timbangan bukan tujuan akhir dari seorang penganut ajaran Timbangan. Ajaran Timbangan terdapat dalam teks naskah yang terdiri atas 3 bagian, yaitu (1) Gurinda alam majaji (Guaroma), (2) Iman Bener anu jadi Tetengger Allah Ta’ala (Ibtat); (3) Syareat Tarekat Hakekat Marifat (Syatahama). Keistimewaan naskah ini adalah tidak menguraikan sedikit pun mengenai gerak pencak silat. Bahkan sebaliknya mewajibkan para penganutnya untuk berakhlak mulia sebagai buah pemahaman teksnya. Guna mengetahui ajaran Timbangan yang terdapat dalam teks naskah digunakan metode analisis isi dengan mengacu pada jenis penelitian deskripsi. Diharapkan tulisan ini dapat memberi pencerahan sekaligus menjawab pertanyaan mengapa Ameng Timbangan sangat melarang merusak atau menyakiti lawan, dan mengapa tidak pula mempunyai jurus-jurus, baik menyerang maupun bertahan. AbstractPencak silat (a kind of Indonesia’s traditional martial art) of Timbangan is a result of Islamic teachings based on the manuscript of Timbangan written by R. Moezni Anggakoesoemah in 1920s. It is known better as martial art rather than as moral teachings. The teachings of Timbangan consist of three parts: (1) Gurinda alam majaji (Guaroma), (2) Iman Bener anu jadi Tetengger Allah Ta’ala (Ibtat); (3) Syareat Tarekat Hakekat Marifat (Syatahama). The author has analysed the content of the manuscript to study moral teachings of Timbangan. Hopefully, the research would give insight and answer the question of why it is forbidden in Ameng Timbangan to destroy or hurt the enemies and why there is no defence or attack movements in this martial art.