Endang Supriatna
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FUNGSI SENI GEMBYUNG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PANJALU KABUPATEN CIAMIS Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.61 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.230

Abstract

AbstrakGembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan ciri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, Gembyung tampil bersahaja. Namun demikian, penampilannya tetap menyampaikan makna baik melaui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, Seni Gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, Gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi Seni Gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama gambaran sosial budaya masyarakat Panjalu tempat kesenian ini tumbuh. Kedua, menjelaskan Seni Gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara Seni Gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni lokal. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. AbstractGembyung is a kind of traditional performance art in Panjalu that has a long history. Along with Nyangku ceremony or commemoration of Maulid Nabi Saw. (the birth of prophet Muhammad Saw.), or celebration after a child has circumsized, gembyung is played in a very plain way. The mystical music and the fragrance of the offerings accompanied the dancers in expressing their respect to the ancestors. This paper tries to reveal the function of gembyung art in the society of Panjalu. There are two parts to be discussed: firstly, the description of sociocultural setting of Panjalu society where the art has been developed. Secondly, explanation of gembyung art, beginning with the development, the songs, and the performance techniques. A descriptive method and qualitative approach were conducted in this paper.
FUNGSI SENI GEMBYUNG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PANJALU KABUPATEN CIAMIS Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.228

Abstract

AbstrakGembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan ciri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, Gembyung tampil bersahaja. Namun demikian, penampilannya tetap menyampaikan makna baik melaui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, Seni Gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, Gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi Seni Gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama gambaran sosial budaya masyarakat Panjalu tempat kesenian ini tumbuh. Kedua, menjelaskan Seni Gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara Seni Gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni lokal. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. AbstractGembyung is a kind of traditional performance art in Panjalu that has a long history. Along with Nyangku ceremony or commemoration of Maulid Nabi Saw. (the birth of prophet Muhammad Saw.), or celebration after a child has circumsized, gembyung is played in a very plain way. The mystical music and the fragrance of the offerings accompanied the dancers in expressing their respect to the ancestors. This paper tries to reveal the function of gembyung art in the society of Panjalu. There are two parts to be discussed: firstly, the description of sociocultural setting of Panjalu society where the art has been developed. Secondly, explanation of gembyung art, beginning with the development, the songs, and the performance techniques. A descriptive method and qualitative approach were conducted in this paper.
KAJIAN NILAI BUDAYA TENTANG MITOS DAN PELESTARIAAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT BANCEUY KABUPATEN SUBANG Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.129 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.279

Abstract

AbstrakKampung Banceuy terletak di Desa Sanca, Kecamatan Jalancagak, KabupatenSubang. Masyarakat yang tinggal di Kampung Banceuy memiliki ciri kehidupan yang unik. Ciri khas masyarakat Banceuy di antaranya: mereka memiliki tokoh adat yang memimpin dan mengendalikan perilaku kepercayaan masyarakat setempat. Serta mereka masih memelihara nilai-nilai luhur dan tradisi upacara. Begitu banyak upacara yang masih mereka laksanakan, baik yang berkaitan dengan pertanian, daur hidup manusia, dan sistem religi. Banyak hal yang bisa dipetik dari pelaksanaan upacaraupacara tersebut, antara lain, nilai-nilai mitos dan ritual mendorong mereka menjalin hubungan timbal balik dengan lingkungan alam sekitar. AbstractThe village of Banceuy lies in Desa (larger village) Sanca, Kecamatan (district) Jalancagak, Kabupaten (regency) Subang. The people there has a unique life, e.g. they have a chief who responsible as leader in controlling the behavior of thecommunity member either in rituals or high-valued ancestral traditions. The rituals they have are, among others, ones that have something to do with agriculture, human life cycle and religious system. Those rituals make them maintain a good relationship with mother nature in term of preserving and conserving the environment.