Agus Heryana
Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENCAK SILAT AMENG TIMBANGAN DI JAWA BARAT: HUBUNGAN ANTARA AJARAN DAN GERAK AMENG TIMBANGAN Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.139 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.337

Abstract

Pencak silat Ameng Timbangan diciptakan R. Moezni Anggakoesoemah bersumber pada ajaran Timbangan. Ajaran Timbangan bukanlah petunjuk teknis untuk melakukan jurus tertentu, melainkan ajaran kerohanian Islam. Di dalamnya dibahas mengenai trilogi Islam, yaitu Iman-Islam-Ihsan. Ajaran ini menjadi jiwa dalam gerak lahiriah  Ameng Timbangan.  Masalahnya bagaimana teks ajaran itu menjelma menjadi gerak Ameng Timbangan. Tujuan penelitian adalah menjelaskan  teks ajaran Timbangan menjadi gerak Ameng Timbangan. Adapun metodenya digunakan metode deskripsi,yang menggambarkan data apa adanya. Bentuk Ajaran Timbangan disusun dalam bentuk puisi dan prosa yang disebut teks Naskah Timbangan, karena itu digunakan pula metode analisis isi.Teknik penelitiannya wawancara mendalam dan partisipasi (ikut serta latihan Ameng Timbangan). Simpulannya Ajaran Timbangan berisi pelajaran rohani, sedangkan Ameng Timbangan menitikberatkan pada  pelajaran lahiriah.  Pengolahan lahiriah dalam bentuk olah raga dan olah rasa memberikan ruang untuk membangkitkan kemampuan dan kekuatan naluri beladiri. Hubungan keduanya merupakan hubungan kesatuan yang saling melengkapi.  Pencak Silat Ameng Timbangan created by R. Moezni Anggakoesoemah derived from the teachings called Timbangan. The Sci-op Teachings are not technical guidelines for performing a specific moment, but rather the spiritual teaching of Islam, discussed about the Islamic trilogy, namely Iman-Islam-Ikhsan. It is this doctrine which then becomes the soul or spirit in the outward motion called Ameng Timbangan. The main problem is how the text containing the teachings is transformed into a motion called Ameng Timbangan. The main purpose of the study is to explain the text of the Timbangan teaching to the motion of Ameng Timbangan. In order to achieve these objectives the writer used description method, which describes the data. Forms of AjaranTimbangan are arranged in the form of poetry and prose called script of Naskah Timbangan, then used the method of content analysis. The research technique are in-depth interview, and participation (participate in Ameng Timbangan training). The conclusion are the Doctrine and Ameng Timbangan is a unity. The Timbangan Teachings contain spiritual lessons while Ameng Timbangan focuses on outer lessons. External processing in the form of sports and taste provide space to awaken the ability and strength of martial instinct. Their relationship is a complementary relationship.  
FALSAFAH PENCA CIKALONG DALAM “GERAK SESER” Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.322 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.387

Abstract

Gerakan seser dalam Maenpo Cikalong bukanlah sebuah rangkaian gerakan dasar yang digunakan sebagai panduan dalam teknik silat, melainkan upaya dari pesilat untuk mendekati lawan tanpa mengangkat kaki. Gerak seser sering diabaikan dan dianggap tak bermakna. Padahal di dalamnya terkandung fungsi praktis dan falsafah yang melatarbelakangi munculnya gerak tersebut. Karena itulah tujuan penelitiannya adalah mengetahui bentuk gerak seser dan falsafahnya.  Metode yang digunakan untuk mendata dan menganalisanya adalah metode kualitatif-deskriptif analisis yakni pendeskripsian obyek sedetail mungkin kemudian dianalisis. Hasilnya adalah ditemukannya konsep falsafah pohon, yang bermakna ajeg tangtungan (kokoh pendirian). Simpulannya falsafah pohon merupakan pelengkap  falsafah sebelumnya, yaitu: (1) Lamun deleka sok cilaka (orang jahat akan celaka),(2) Laer aisan (adil); (3) Wijaksana (bijaksana); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (tidak membeda-bedakan perlakuaan kepada siapa pun); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (melawan diri sendiri); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) Depe-depe handap asor (rendah hati). Gerak Seser in the Maenpo Cikalong is not a basic movement series used as a guide in silat techniques, but a quest to approach the opponent without lifting a foot. This simple movement is often ignored and considered meaningless. Whereas in the Gerak Seser contained practical functions and philosophy behind the emergence of the movement. That is why the purpose of this research is to find out the form of movement and philosophy. The method used to achieve that goal is a qualitative-descriptive method of analysis that is the description of the object and then analyzed. The result is the discovery of the philosophy concept called tree philosophy. The conclusions obtained are the philosophy of the tree into the soul of the Penca Cikalong rules and reduce the derivative of philosophy such as: (1) Lamun deleka sok cilaka (bad people will be harmed), (2) Laer aisan (fair); (3) Wijaksana (wise); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (not discriminating anyone); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (self-fighting); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) honest; (9) Depe-depe handap asor (humble).