Hermana .
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PETILASAN SUNAN KALIJAGA DAN TAMAN KERA DI KOTA CIREBON Hermana .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.381 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.244

Abstract

AbstrakSunan Kalijaga merupakan salah seorang wali penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Dia adalah seorang wali yang sangat konsern terhadap budaya asli Nusantara. Keberadaan petilasan Sunan Kalijaga dan Taman Kera di daerah Cirebon mempunyai persepsi bagi masyarakat pendukungnya, baik dilihat dari segi sosial maupun dari segi ekonominya. Peziarah yang datang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda satu sama lainnya, mulai dari hanya sekedar mengiirim do’a kepada para arwah orang yang meninggal, sampai pada keinginan untuk mengubah taraf hidup secara ekonomis. Para Pejiarah mempunyai pandangan bahwa mengunjungi Petilasan akan mendapatkan barokah para wali. Hal ini menjadi suatu kenyataan bahwa dari waktu ke waktu pejiarah terus bertambah. Masyarakat dapat mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sifat, tingkah laku dan kegigihan Sunan Kalijaga dalam memperjuangkan keyakinannya, dalam menyebarkan Ajaran Islam di Nusantara. AbstractSunan Kalijaga was one of Islam spreader in the island of Java. He was interested in the aboriginal cultures of Indonesian archipelago and made them his own concern. Petilasan (feature) of Sunan Kalijaga and Taman Kera (the garden of apes) are socially and economically important for followers of Sunan Kalijaga. There are many pilgrims coming to these sites, hoping to get blessings from the wali (holy person) either by praying for the deads or asking a better life. These pilgrims are increasing over times. They think that by visiting these sites they will have something to learn from Sunan Kalijaga especially in the way he did in disseminating Islam di Java.
TOPONIMI DI KABUPATEN CIREBON Hermana .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.651 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.255

Abstract

AbstrakDatangnya Ajaran Islam ke daerah Cirebon dibawa oleh para ulama yangberpusat di daerah Muara Jati. Raden Walang sungsang yang diperintahkan olehSyekh Dathul Kafhi untuk membuka lahan di sekitar Lemah Wungkuk sekarangdikenal sebagai daerah Tegal Alang-alang, untuk menyebarkan Ajaran Islam kedaerah selatan Cirebon, pada saat itu masih termasuk ke dalam kekuasan GaluhPajajaran. Penamaan Tegal Alang-Alang tidak terlepas dari kondisi tempat padasaat itu, yang banyak ditumbuhi sejenis rumput alang-alang. Perkembangan agamaIslam sangat pesat setelah Syekh Syarif Hidayatullah memegang tampuk kekuasandi Kerajaan Cirebon. Perkembangan ini bukan hanya kekuasaan secara politik,tetapi juga secara sosial budaya. Untuk menunjang ekspansi kekuasaan perlu adanyadaerah-daerah yang dikuasai. Pembukaan lahan untuk pemukiman penduduk perluadanya nama tempat untuk daerah tersebut. Penamaan suatu daerah tidak terlepas darisejarah budaya daerah tersebut. Asal-usul nama tempat di Kabupaten Cirebon tidakterlepas dari peran Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatullah. Panamaansatu tempat banyak yang berasal dari petatah petitih yang diucapkan oleh PangeranCakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatulllah. Nama-nama tempat tersebut bisa terjadihasil pekerjaan orang, perasaan orang, keadaan alam, sejenis nama pohon atau punnama-nama benda yang ada pada saat daerah tersebut ditemukan.AbstractWhen Syekh Syarif Hidayatullah came into throne the spread of Islam inCirebon was developing very rapidly, either politically or socio-culturally. Politically,the sultanate expanded its power to other regions and conquered them, resulting theneed to open many lands for habitation. The new conquered lands needed new namesand the names which were applied to them were closely related to the cultural historyof the lands themselves. It was Pangeran (Prince) Cakrabuana and Syekh SyarifHidayatullah who named the lands, based on their sayings as well as topograhic ormorphological condition of each lands.