Ria Andayani Somantri
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SISTEM GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT BADUY DI DESA KANEKES PROVINSI BANTEN Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.416 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.128

Abstract

AbstrakSistem Gotong-royong pada Masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Provinsi Banten merupakan uraian tentang aktivitas gotong-royong yang hidup pada masyarakat Baduy di Banten. Aktivitas tersebut  tercermin dalam tradisi nyambungan, yakni  kebiasaan masyarakat Baduy mengirim atau menyumbang sesuatu kepada warga yang sedang menyelenggarakan hajatan atau pesta dengan sistem timbal balik (resiprositas); tradisi liliuran,  yakni kebiasaan masyarakat Baduy yang lebih mengarah pada arisan tenaga untuk menyelesaikan suatu kegiatan atau pekerjaan; tradisi dugdug rempug, yakni kegiatan gotong-royong yang dilandasi keinginan spontanitas untuk membantu dan menolong  pihak-pihak yang membutuhkan bantuan dan pertolongan mereka; dan tradisi tunggu lembur, yakni aktivitas sekelompok orang Baduy yang secara bersama-sama melakukan kegiatan menjaga lembur ’kampung’ dari berbagai kemungkinan yang akan membahayakan keamanan kampung tersebut berikut isinya. Tradisi nyambungan, liliuran, dugdug rempug, dan tunggu lembur masih bertahan sampai sekarang, karena dipandang mampu mengatasi sejumlah persoalan, yang intinya membutuhkan suatu kerja sama antarsesama warga Baduy. AbstractThis research aims to describe some Baduy traditions that still exist today, which called nyambungan (giving donation to someone who has celebration), liliuran (collecting human resources to build something), dugdug rempug (spontaneous act to help others), and tunggu lembur (guarding their village from unexpected danger). They are all based on gotong-royong (working together to help each other). Theses traditions are preserved because they are considered solutions for many of their social problems. 
LEMBAGA ADAT DI KASEPUHAN CIPTA MULYA DESA SINAR RESMI KECAMATAN CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.888 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.281

Abstract

AbstrakPenelitian tentang Lembaga Adat di Kasepuhan Cipta Mulya, Kampung Cipta Mulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mengetahui hal yang mendasari lembaga adat itu terbentuk,termasukjuga struktur lembaga adat Kasepuhan Cipta Mulya. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan teknik pengamatan; dan wawancara mendalam kepada sejumlah informan, yang ditentukan melalui metode snowballing. Data sekunder didapat melalui studi literatur yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga adat di Kasepuhan Cipta Mulya mengacu pada aturan-aturan warisan leluhurnya yang terkristalkan dalam lembaga adat yang disebut kasepuhan. Struktur organisasi lembaga adat kasepuhan tergambarkan dalam hierarki yang didasarkan pada penguasaan tentang adat isitiadat setempat. Hierarki tersebut terdiri atas ketua adat, baris sesepuh, dan warga Kasepuhan Cipta Mulya. AbstractThis research aims to investigate the reason for the establishment of this institution, including its structure. This is a descriptive-analytical research usingqualitative approach. The author compiled primary and secondary data as well.Primary data are obtained through observation and in-depth interview with someinformants using snowballing method. Bibliographic study is conducted to getsecondary data to analyse research question. The result is, that the customary institution in Kasepuhan Cipta Mulya is referred to the rules inherited from their ancestors and crystallized in the form of customary institution called kasepuhan. The structure of the Kasepuhan is based on the ability of person in mastering adat (custom) rules. Hierarchically, it consists of ketua adat (the chief), baris sesepuh (the elders), and warga (the people) of Kasepuhan Cipta Mulya.
ORGANISASI SOSIAL PADA MASYARAKAT GIRI JAYA PADEPOKAN DESA GIRI JAYA KECAMATAN CIDAHU KABUPATEN SUKABUMI Ria Andayani Somantri
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.219 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.233

Abstract

AbstrakPenelitian tentang organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan di Kabupaten Sukabumi bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar pembentukan dan struktur organisasi sosial pada masyarakat tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi, dengan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Dari penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan mengacu pada satu tatanan lama warisan leluhur atau lembaga adat yang masih digunakan sampai saat ini. Sekalipun tidak ada nama lokal bagi lembaga adat tersebut, struktur lembaga adatnya cukup jelas dan sederhana. Struktur lembaga adat itu terdiri atas ketua adat, sesepuh adat (wakil ketua adat, juru kunci, amil, tokoh seni, tokoh agama, paraji, koordinator warga, dan tokoh masyarakat), serta warga Giri Jaya Padepokan yang disebut jamaah. AbstractThis paper is about social organization of the community of Giri Jaya Padepokan in Sukabumi. The aim of the study is to examine some basis for the function of the structure of social organization in the community. The author used descriptive method and qualitative approach. Data were collected through interviews and observations. The author came into conclusion that the community of Giri Jaya Padepokan is still preserving the structure of social organization inherited from their ancestors. The institutions in question are ketua adat (the chief), sesepuh adat (the elders), juru kunci (the locksmith), amil (a person who collects charity for religious purposes), and other public figures such as art and political figures, paraji (midwives), a coordinator for people, and the people of Giri Jaya Padepokan itself called jamaah.