Toto Sucipto
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSISTENSI DAN STRATEGI ADAPTASI KOMUNITAS ADAT DI JAWA BARAT Toto Sucipto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1479.172 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.267

Abstract

AbstrakDi Jawa Barat terdapat komunitas adat yang konsentrasi warganya tersebar dibeberapa pemukiman yang disebut kampung atau kampung gede (kampung induk).Secara umum dapat diungkapkan bahwa warga komunitas adat yang ada di Jawa Barattersebut mendukung kebudayaan Sunda, yaitu yang sehari-harinya mempergunakanbahasa Sunda dan merupakan masyarakat terbuka yang mudah sekali menerimapengaruh dari luar, tetapi juga kemudian menyerap pengaruh itu sedemikian rupasehingga menjadi miliknya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah wargakomunitas adat di Jawa Barat yang termasuk pendukung kebudayaan Sunda ini mudahmenerima pengaruh luar seperti masyarakat Sunda umumnya? Kajian menarik tentangkomunitas adat antara lain mencuatkan kenyataan bahwa warga komunitas adat selaluberupaya patuh terhadap kasauran karuhun (perkataan/wasiat para leluhur) sehinggadinamika kebudayaan mereka agak sulit terdeteksi dengan mudah. Komunitas adatberusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan berupaya mempertahankankondisi lingkungan alamnya dengan tetap mentaati aturan adat warisan para leluhursehingga setiap komunitas adat memiliki ciri khas yang membedakannya denganmasyarakat lain. Para pendahulu mereka (leluhur) mengembangkan aturan-aturanadat yang direalisasikan pada beberapa tabu/pamali/larangan/buyut. Aturan-aturanadat tersebut mempunyai makna atau fungsi yang sangat luas. Aturan tersebut jugaberfungsi sebagai mekanisme kontrol dalam kebudayaan yang menahan dilakukannyaeksploitasi alam secara semena-mena, membuat masyarakat tetap sederhana, tidakhidup berlebihan, dan tetap memegang prinsip kebersamaan sehingga keseimbanganlingkungan, baik fisik maupun sosial, dapat dipertahankan. Mekanisme itu diselimutidengan sanksi moral, sehingga keadaan lingkungan relatif stabil dalam jangka wakturelatif lama.AbstractThere are many adat communities in West Java which concentrated in clusterscalled kampung or kampung gede (main village). Generally, those adat communitiesare part of Sundanese culture and use Sundanese language in their daily life. They alsoopenly received external influences and absorb them as their own. This research triesto seek whether these communities can easily receive those external influences likeany other Sundanese. This actually would be interesting because adat communitiesare usually obedient to the rules made by their ancestors, especially some taboos. Therules have vast meaning and funtions. They are important in controlling the use ofnatural resources, and teach the community to live in a modest life. The conclusion isthat the rules are still important in today’s life as well as for the future
EKSISTENSI KERATON DI CIREBON Kajian Persepsi Masyarakat terhadap Keraton-Keraton di Cirebon Toto Sucipto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.6 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.240

Abstract

AbstrakKarya tulis yang merupakan resume hasil penelitian ini mengungkapkan gambaran mendalam mengenai eksistensi keraton di tengah peradaban masa kini dengan fokus telaah pada persepsi masyarakat terhadap keraton. Penelitian berangkat dari anggapan bahwa keraton semakin menempati posisi marginal belakangan ini. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh perubahan sikap dan pandangan masyarakat terhadap keraton akibat derasnya arus kebudayaan dunia dan lingkungan global. Keraton kini hanya dianggap sebagai pusat kebudayaan bagi masyarakat setempat, bukan lagi merupakan sebuah wilayah kekuasaan politik yang independen. Meskipun demikian, masyarakat masih mengenangnya sebagai salah satu lumbung budaya daerah yang potensial. Untuk mengupas permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan datanya adalah studi literatur, observasi dan wawancara. Setelah dikaji, penulis mencoba merumuskan beberapa usulan kebijakan mengenai langkah-langkah revitalisasi keraton dalam mengantisipasi era globalisasi, yaitu mewujudkan dan memantapkan identitas kepribadian bangsa yang dikemas dengan model masa kini tanpa harus tercerabut dari akarnya. AbstractThe paper is a resumé of a research concerning depth description of the existence of keraton (karatuan = royal palace) in the middle of modern society focusing on the peoples’s perception on keraton. Today people think keraton merely a cultural centre for local people, not as a domain of an independently political power. Changes in world culture and global environment might be responsible for this point of view.To analyse the problem the author conducted a descriptive research method with qualitative approach. Data were collected from bibliographical study, observation, dan interviews. Some suggestions are proposed, such as the policies that should be taken by keraton in anticipating globalization. Revitalization should be made possible in maintaining the recent national identity without having to abandon old traditional values.