Ria Intani Tresnasih
Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TRADISI MENDONGENG SEBAGAI UPAYA PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI DALAM KELUARGA DI KELURAHAN CISARANTEN WETAN KECAMATAN CINAMBO KOTA BANDUNG Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.455 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.333

Abstract

Dongeng adalah cerita rakyat yang secara lisan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengarangnya anonim, ada dalam dunia khayal atau tidak benar-benar terjadi, dan tidak diketahui secara jelas mengenai tempat dan waktunya. Dongeng merupakan  salah satu media yang sangat  efektif  dalam membentuk karakter anak sejak dini. Namun demikian nilai-nilai dalam dongeng tidak akan tersampaikan apabila dari dongeng-dongeng yang ada tidak pernah didongengkan. Padahal banyak sekali pula manfaat yang didapat dari aktivitas mendongeng. Permasalahannya adalah akankah tradisi mendongeng di rumah-rumah itu sekarang ini masih berlangsung. Sehubungan dengan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberlangsungan dari kegiatan mendongeng di rumah-rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paparannya bersifat  deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara tradisi “orang tua” yang gemar mendongeng dengan tradisi mendongeng pada zaman sekarang.The tale is a folktale that is orally inherited from one generation to the next, its author is anonymous, exists in an imaginary or unreal world, and is not known clearly about the place and the time. Tale is one of the media that is very effective in shaping the character of children from an early age. However, the values in the fairy tales will not be conveyed if the tales that have never been told. Though, a lot of benefits also obtained from the activity of storytelling. The problem that still exist, will the tradition of storytelling in these homes be still going on? In connection with these problems, this study aims to see how the continuity of storytelling activities in homes. This study uses a qualitative approach with descriptive arrangemen. The results of the study indicates that there was a correlation between the tradition of "parents" who love storytelling with the tradition of storytelling today.
PERJALANAN SEORANG PENGRAJIN TEROMPET DALAM KAJIAN SISTEM EKONOMI Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.972 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.31

Abstract

Terompet identik dengan tahun baru. Kehadirannya di penghujung tahun tidak lain untuk  merayakan pergantian tahun. Fenomena ini sudah lama terjadi. Namun nyaris orang tidak tahu bagaimana kegiatan pengrajin terompet di belakang layar. Bagaimana pola produksi, pola distribusi, pola penyimpanan, dan pola konsumsi pengrajin terompet. Sehubungan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem ekonomi seorang pengrajin terompet. Metode yang digunakan dalam penelitian  adalah metode kualitatif dengan hasil penelitiannya dituangkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini,  pembuatan terompet tidak  dimonopoli oleh tukang terompet itu sendiri. Ada bagian-bagian tertentu yang dihasilkan oleh orang lain yang sebagian darinya bersifat pabrikan. Distribusi ada tiga macam, dilakukan oleh penjaja terompet eceran, oleh grosir, dan  oleh pengrajin terompet itu sendiri. Adapun pola konsumsinya bersifat primer bagi sang pengrajin. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa ada satu mata rantai dalam pembuatan terompet, yakni antara percetakan, pengepul cones, distributor lem, toko grosir mainan, dan pengrajin terompet. Kata kunci: pengrajin terompet, sistem ekonomi.
AKTOR DI BALIK SELEMBAR BATIK (Studi Kasus di Lembur Batik Cimahi) Ria Intani Tresnasih
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.306 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.343

Abstract

Batik adalah selembar kain yang dibuat secara ditulis, dicap, atau penggabungan antara keduanya. Dulu, ketika batik hanya diproduksi untuk lingkungan keraton, pembuatnya masih terbatas. Manakala batik keluar dari lingkungan keraton, pembuat batik meluas. Itu dulu, zaman di mana orang masih memiliki banyak waktu luang dan jenis pekerjaan belum beragam. Saat ini apabila di antara sejumlah orang masih ada yang mendedikasikan dirinya untuk menggeluti batik sebagai pengrajinnya, tentu ada alasan yang melatarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara perekrutan pengrajin, pengetahuan membatik, kondisi pengrajin, serta konsep kerja pengrajin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil penelitiannya dituangkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dedikasi menjadi pengrajin batik dilatari oleh rasa tanggung jawab dan kecintaan yang mendalam dengan dunia perbatikan. Dapatlah disimpulkan bahwa tanpa adanya keterlibatan hati, sulit bagi seseorang untuk dapat bertahan menjadi pengrajin. Mengingat, banyak jenis pekerjaan lain yang besaran penghasilannya lebih menjanjikan.  Batik is a cloth made in written, printed, or a combination between the two. In the past, when batik was only produced for the palace, the makers were still limited. Another case with when batik came out of the palace, batik makers were expanding. That was then, an era where people still had a lot of spare time and the type of work had not been varied. Today, if among a number of people consist of people who dedicate themselves as batik craftsmen, absolutely there is a reason behind of it. This study aims were to determine how the recruitment, knowledge, the condition, and working concept of batik craftsmen. This study uses qualitative research and the findings are  outlined descriptively. The results shows that the dedication of batik craftsmen is backed by a sense of responsibility and a deep love with the world of batik. It can be concluded that without the involvement of their love, it is difficult for a person to be able to survive into a batik craftsman. Bearing in mind,there are many other types of work that have more promising incomethe amount of income is more promising.