Ria Intani T.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGOBATAN TRADISIONAL DI KALANGAN ANAK-ANAK (STUDI KASUS DI KECAMATAN SOREANG) Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.906 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.115

Abstract

AbstrakPengobatan tradisional merupakan satu sistem pengobatan yang tata caranya berdasarkan pengetahuan yang didapat secara turun temurun. Pengobatan tradisional tidak saja diperuntukkan guna pengobatan suatu penyakit, melainkan pula mengobati kebiasaan buruk pada anak-anak yang di antaranya adalah menghisap jari dan ketergantungan pada dot, Asi, dan ibunya. Sebagian orang mendapatkan solusinya melalui seorang pengobat tradisional. Pertanyaannya adalah bagaimanakah profil  pengobat yang bersangkutan, bagaimana pengetahuan pengobatan tersebut didapat, bagaimana tata cara pengobatannya, dan mengapa orang memercayai pengobatan tersebut. Pengobatan tradisional, dengan kondisinya yang masih terus “hidup”, tak dapat dinafikan merupakan kekayaan budaya yang memberi kontribusi di bidang kesehatan.  Oleh karena itu bidang pengobatan tradisional perlu mendapatkan perhatian, salah satunya dengan mengkajinya melalui kegiatan penelitian. Tipe penelitian yang digunakan  adalah deskriptif kualitatif. Dengan demikian, dalam pengambilan datanya menggunakan teknik wawancara  dan observasi. Adapun teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis kualitatif yang bersifat deskriptif interpretatif. Sampai saat ini pengobatan ini masih berlangsung dengan jumlah konsumen yang fluktuatif dan dari kalangan yang beragam. AbstractTraditional medicine is a knowledge-based operation system of medicine which is gained from generation to generation. Traditional medicine is not only intended to the treatment of a disease, but also to cure the children bad habits, such as licking their fingers and the addiction ofmilk bottle, breast milk, and her mother. Some people get this solution through a traditional healer.The question is how the healers profile is concerned, how medical knowledge is obtained, how the procedures of treatment are, and why people believe in such treatment. Traditional medicine, remains in "alive"condition, cannot be denied asa cultural wealth that contributes in the health field.  Hence the field of traditional medicine needs to be concerned, such as by studying through research activities. This type of research is descriptive qualitative. Thus, in collecting the data, interview and observation techniques are employed. The data analysis technique is interpretative descriptive of qualitative analysis. Until now, this treatment is still in progress with a number ofvolatile and different consumers.
KIAT PENJUAL MAKANAN TRADISIONAL DALAM MENEMBUS PASAR Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.933 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i2.202

Abstract

AbstrakMemasuki zaman globalisasi dapat dikatakan segalanya serba modern. Tidak heran kalau kemudian orang mulai meninggalkan hal-hal yang berbau tradisional. Fenomena yang cukup menonjol terjadi pada makanan. Makanan dengan nama-nama asing booming hingga menomorduakan makanan tradisional. Itu dulu. Belakangan, beberapa makanan tradisional kembali bangkit dan bahkan booming di kalangan anak muda khususnya. Makanan yang dimaksud adalah seblak.  Penelitian tentang fenomena ini sangat penting untuk mengetahui kiat-kiat apa yang dilakukan pegiat makanan tradisional hingga makanan yang diproduksinya dapat diterima kembali di era sekarang ini. Dari kiat-kiat tersebut bukan tidak mungkin dapat dijadikan model untuk membangkitkan kembali jenis makanan tradisional lainnya dari keterpurukannya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional, dalam hal ini  seblak, dapat diterima  kembali kehadirannya di tengah-tengah makanan modern. Keberterimaan tersebut tidak lain karena pelaku usaha mau terus belajar, membuat inovasi, dan melihat budaya sebagai sesuatu yang dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan sebuah aktivitas, merupakan sebuah  produk dan ide, sekaligus proses belajar.  AbstractEntering the era of globalization can be said of everything modern department. No wonder then people started leaving things that related to the traditional thing. The phenomenon is quite prevalent in the food. Foods with foreign names booming until subordinated the traditional food. That was then. Later, some of the traditional foods arise and even boom among young people in particular. The food in question is seblak. Research on this phenomenon is very important to know what tips do traditional food producer to produced acceptable food in this era. From the tips it is not possible that the models could be used to revive other types of traditional food. This is a descriptive study with a qualitative approach. The results showed that the traditional food, in this case seblak, be welcomed back its presence in the midst of modern food. Acceptance is not because businesses want to continue to learn, to innovate, and to see culture as something dynamic. This suggests that culture is an activity, is a product and ideas, as well as the process of learning.
KONSEP TATA RUANG RUMAH TINGGAL MASYARAKAT KUTA DESA KARANGPANINGAL KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMIS Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.242 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.162

Abstract

AbstrakPenelitian konsep tata ruang rumah tinggal ini membahas mengenai bentuk rumah, penggunaan bahan bangunan dan cara membangun, aturan dalam tata letak rumah dikaitkan dengan keberadaan rumah lainnya, tata letak rumah dalam suatu areal, arah hadap rumah, pembagian ruang, dan aturan-aturan lain yang terkait yang menyertainya. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep tata ruang rumah tinggal di Kampung Kuta. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode kualitatif, dengan tahapan kerjanya meliputi: studi pustaka, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai saat ini konsep tata ruang rumah di Kampung Kuta tetap berpegang teguh pada aturan yang diwariskan oleh para leluhur. Konsepnya adalah: Arah hadap rumah dilihat dari panjang rumah; Antara satu rumah dengan rumah yang lain harus berhadap-hadapan, tidak boleh saling memunggungi; Ruang-ruang yang terdapat dalam suatu rumah harus berhadapan dengan ruang yang sama pada rumah yang ada di depannya, dan sebagainya. Tabu atau pamali berperan dalam pelestarian adat-istiadat yang berkenaan dengan konsep tata ruang rumah di Kampung Kuta. AbstractThis research discusses spatial concept in building a house and the relation among houses in the village of Karangpaningal. The aim of the research is to get an understanding of how the Kuta people build their houses according to their knowledge of spatial concept. The author conducted descriptive research using qualitative method. Data were collected through bibliographic study, observation, and interviews. The result shows that the people of Kuta are still clinging to the concept that was inherited fromtheir ancestors, for example the houses must be facing towards each other. Even a room in one’s house must be in the same line with the room inside the house in front of his. It is taboos or pamali that have major role in preserving this customs.