Enden Irma Rachmawaty
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DAMPAK MANISAN TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT DI KABUPATEN CIANJUR Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.573 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.156

Abstract

AbstrakDi setiap daerah pasti mempunyai menu makanan khas sendiri, menu makanan khas ini timbul dari lingkungannya sendiri, dan dapat dipastikan tidak diketahui asal mula pembuatnya, yang pasti pembuatan menu makanan tersebut merupakan warisan yang turun temurun, begitu juga dengan pengrajin makanan khas Cianjur. Pengrajin makanan khas Cianjur bukan hanya buah-buahan sebagai bahan pokok pembuatan manisan, tetapi bisa juga dari bahan pokok sayuran. Ada beberapa yang termasuk kedalam makanan khas Cianjur, di antaranya adalah Manisan Sayuran Sawi. Manisan Kedondong, Manisan Canar, Manisan Salak, Manisan Rumput Laut, Manisan Jambu Biji, Manisan Pala, dan lain-lain. Pada awalnya semua jenis makanan khas Cianjur merupakan konsumsi masyarakat dengan status sosial menengah kebawah, tetapi pada saat ini semua jenis makanan khas Cianjur tersebut sudah merupakan konsumsi semua lapisan masyarakat. Hal ini ditandai bukan hanya dijual di toko-toko tetapi sudah masuk ke supermarket-supermarket yang ada di Cianjur, bahkan banyak juga yang memakai sebagai menu pelengkap dalam rangka hajatan di hotel-hotel berbintang. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai upaya untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang manisan Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metoda  wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa manisan Cianjur cukup mengalami perkembangan baik dari segi bahan maupun pemanfatannya. Abstract Every region has its own typical food that has been developed within its society and no one knows who made it first. The fact is that it is inherited from one generation to another. This also happens to artisan food of Cianjur who make manisan (pickles) of fruits and vegetables. Formerly the pickles were consumed by middle to lower class in the society, but it gradually becomes popular to everyone. This kind of food can be found either in small shops or supermarkets. Hotels serve them as desserts. This research seeks more detailed information about pickles of Cianjur by using descriptive method and interviews. The result shows that pickles from Cianjur have been developing very well. 
NILAI ESTETIKA DALAM SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.07 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.114

Abstract

AbstrakSisingaan merupakan salah satu jenis kesenian khas Kabupaten Subang. Keberadaannya muncul ketika bangsa Indonesia sedang dijajah oleh Belanda. Fakta sejarah ini berdasar pada konsep awal pembentukan berdirinya kesenian sisingaan yang filosofinya bersifat patriotisme. Pada waktu itu, keberadaan kesenian ini merupakan wujud perlawanan rakyat Kabupaten Subang terhadap penjajahan Belanda. Dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan, baik dalam bentuk boneka singanya maupun dalam bentuk pertunjukannya. Adanya perubahan ini selain mencari bentuk yang sempurna juga mengikuti perkembangan zaman. Pengumpulan data tentang kesenian ini menggunakan metode deskriptif. Penggunaan metode ini untuk mengambarkan keberadaan sisingaan pada saat ini. Kesenian sisingaan merupakan jenis kesenian pertunjukan yang dilaksanakan dalam bentuk pawai atau arak-arakan. Pertunjukannya biasanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan hajatan. Sisingaan ini memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Nilai estetika tersebut berhubungan dengan pengalaman indah yang dihasilkan oleh daya estetika yang memberikan kesenangan batin, seperti terkandung dalam gerak tari, harmoninasi irama, dan perpaduan warna, baik perpaduan warna dalam boneka singa maupun perpaduan dalam warna kostum para pemain. Kreasi pertunjukan yang digelar dalam bentuk arak-arakan ini, mengkolaborasi perpaduan gerak tari, tempo dalam irama, dan estetika dalam boneka singa yang menambah suasana hiburan bagi masyarakat yang cukup menyenangkan. Selain itu, nilai estetika terkandung pula dalam unsur kebersamaan sebagai masyarakat agraris. Asas ini sejalan dengan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam jiwa budaya masyarakat Indonesia, khususnya nilai budaya masyarakat Jawa Barat. AbstractSisingaan (lion puppet) is one of performance arts belonging to Subang Regency. It is usually held in activities related to celebration in the form of a procession. It was first emerged when Indonesia was being colonized by the Dutch. The art was formerly carrying patriotism as philosophy, a kind of resistance against Dutch colonialism then. In the course of time it is experiencing many changes, both in the performance and in the puppet design. Data concerning the art were collected through descriptive method. Sisingaan has high aesthetic value contained in the dance, harmonization of the rhythm, and color combination both in the costume of the dancers and in the puppet itself.