Yuzar Purnama
BPNB Jabar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANTONI PENGRAJIN CETIK DARI KABUPATEN LAMPUNG BARAT; KAJIAN NILAI ETOS KERJA Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.583 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.348

Abstract

Cetik/gamolan pekhing merupakan alat musik yang berasal dari Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Lampung Barat. Cetik terbuat dari bambu, alat musik ini hanya digunakan untuk keperluan upacara adat dan pengiring dalam penyambutan tamu, karena cetik sulit untuk dipelajari. Pengrajin cetik di Provinsi Lampung jumlahnya relatif tidak banyak, mereka tetap menggeluti pekerjaan tersebut walaupun hasilnya tidak mencukupi. Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk meneliti tentang pengrajin cetik dan alat  musik cetik. Penulisan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang alat musik cetik dan pengrajinnya. Penulisan ini dibatasi dalam bentuk pertanyaan, apa cetik itu? Bagaimana membuatnya? Bagaimana perkembangannya? Bagaimana sosok Antoni sebagai pengrajin cetik? Apakah memiliki etos kerja? Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kesimpulan penelitian, cetik mengalami kesulitan untuk dipelajari dan dimasyarakatkan,  setelah dimodifikasi dari pentagonis menjadi diatonis, cetik lebih mudah dipelajari. Namun, cetik asli  tetap dipertahankan dan dilestarikan. Pengrajin cetik harus begulat antara kebutuhan hidup dengan tanggung jawab sebagai penerus leluhur untuk melestarikan warisan budaya. Perjuangan hidup pengrajin cetik yang dilematis menciptakan etos kerja yang dapat diadopsi oleh generasi penerus bangsa.    Cetik / gamolan pekhing is a musical instrument that originated from province of Lampung, especially in West Lampung District. Cetik is made from bamboo; this instrument is used only for ceremonial purposes and accompanist in welcoming guests, because cetik is difficult to learn. Cetik Craftsmen in Lampung Province relatively few in number, they still wrestle the job although the results are not sufficient. This is interesting for the writer to investigate about cetik craftsmen and cetik musical instruments. This research aims to obtain clear information about cetik musical instruments and craftsmen. The writing is restricted in the following questions: What is cetik? How to make it? What about its progress? How to figure Antoni as a cetik craftsman? Does he have work ethic? This research uses descriptive method with qualitative approach. The conclusion of this research is cetik faces a problem to be studied and promoted. After it is modified from pentatonic be diatonic, cetik is easier to be learnt. However, the original cetik is still maintained and preserved. Cetik craftsmen must struggle between the necessities of life with the responsibility as a successor to the ancestors for preserving cultural heritage. Life struggle of cetik craftsmen dilemma created a work ethic that can be adopted by the next generation.
PERANAN WANITA DALAM TRADISI LISAN CARITA PANTUN NYAI SUMUR BANDUNG Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.305 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.479

Abstract

 Isu gender memang tidak pernah putus dari perbincangan. Ketika seorang wanita berjuang untuk menuntut persamaan hak, dibalik itu ada pula wanita yang justru merendahkan martabatnya sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama dengan lain jenis. Pada kesempatan ini penulis ingin melihat lebih jauh tentang peran wanita dalam tradisi lisan Carita Pantun Nyai Sumur Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif. Batasan materi meliputi tradisi lisan, Carita Pantun, dan peranan tokoh wanita Nyai Sumur Bandung dalam tradisi lisan Carita Pantun. Kesimpulan, peranan seorang wanita yang bernama Nyai Sumur Bandung dari Kerajaan (Negara) Bitung Wulung yang berkiprah di Kerajaan Kuta Waringin dengan memiliki karakter yang kokoh dalam pendirian, tangguh, hati-hati, dan arif bijaksana.    Gender issues have never stopped being discussed. When a woman struggles to demand equality, behind that there are also women who actually lower their dignity as beings who have the same degree with other types. On this occasion the author would like to see more about the role of women in the oral tradition of Carita Pantun Nyai Sumur Bandung. This study uses a description method with a qualitative approach. The material boundaries included oral traditions, traditional poetry (Carita Pantun), and the role of female characters Nyai Sumur Bandung in the oral tradition of traditional poetry (Carita Pantun). Conclusion, the role of a woman named Nyai Sumur Bandung from the Kingdom Bitung Wulung who is active in the Kingdom of Kuta Waringin by having a strong character in stance, toughness, caution, and wisdom.    
MITOS SILAT BEKSI BETAWI Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.485 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.371

Abstract

Silat beksi adalah penamaan dunia persilatan pada masyarakat Betawi. Silat beksi merupakan ilmu bela diri maen pukulan dengan empat pertahanan tubuh dari serangan lawan. Ilmu bela diri ini merupakan percampuran antara jurus silat Betawi dengan jurus-jurus bela diri dari Negeri Cina. Silat beksi sampai sekarang masih tumbuh dan berkembang pada masyarakat Betawi dibuktikan dengan adanya 120 sanggar silat beksi di Jakarta, hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengkaji apa yang menyebabkan produk budaya ini dapat bertahan bahkan berkembang. Ruang lingkup penulisan mencakup, Apakah yang dimaksud masyarakat Betawi? Apakah silat beksi itu? Adakah mitos silat beksi? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskripsi. Kesimpulan  penelitian, silat beksi bagi masyarakat Betawi memiliki nilai keagungan dan keluhuran, sehingga untuk mengungkapkannya munculah mitos-mitos misalnya ilmu ini diajarkan oleh makhluk jelmaan macan putih atau harimau.  Beksi silat is the name of the martial world in the Betawi community. Beksi silat is a martial arts style with four body defenses against opponents. This martial art is a mixture of Betawi and China martial arts. Beksi silat is still growing and developing in the Betawi community as evidenced by the existence of 120 Beksi silat studios in Jakarta. This becomes the writer’s interest to examine the reason of this martial art to survive and even develop. The scope of writing includes how the Betawi people are, what Silat Beksi Is, and the myths in Silat Beksi. This study uses a qualitative approach with description research methods. The conclusion of this study is that the Silat Beksi for the Betawi people has the value of majesty and nobility, so that some myths revealed. For example, this art was taught by white tiger or tiger incarnation.
ORANG SUNDA PERANTAU; TINJAUAN DALAM CARITA PANTUN Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.388 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.566

Abstract

Orang Sunda cenderung dikenal sebagai masyarakat yang tinggal di pedalaman/dataran tinggi. Masyarakat Sunda adalah salah satu etnis yang ada di Nusantara, dan termasuk etnis kedua terbesar jumlah penduduknya setelah etnis Jawa. Masyarakat Sunda dapat dikatakan merupakan penduduk yang tinggal di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Ciri umum masyarakat Sunda adalah berbahasa Sunda dan memiliki budaya Sunda. Penelitian ini ingin membuktikan, apakah benar orang Sunda itu perantau? Artikel ini membatasi objek penelitian pada carita pantun Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan carita pantun, dapat diperoleh kesimpulan bahwa para tokoh utama dalam cerita melakukan perjalanan (merantau) dengan berbagai tujuan, yaitu mencari wilayah untuk mendirikan kerajaan baru, mencari pendamping hidup (istri), menyelamatkan dari penculikan, dan peperangan untuk memperluas kekuasaan kerajaan.    Sundanese tend to be known as people living in hinterland as well as highland region. They are an ethnic group native to Indonesia. As ethnic group, they are Indonesia's second most populous ones, after the neighboring Javanese. They have traditionally been concentrated in the provinces of West Java and Banten. Their general characteristics include Sundanese language and culture. The research aims to prove whether Sundanese carried on a wanderer tradition. The journal focuses on Carita Pantun as its research object.  A descriptive analytic with a qualitative approach has been used as the basic method of the research. In reference to Carita Pantun, it leads to a conclusion that the main characters in Carita Pantun wander for purposes, that is, managing to establish a new kingdom, looking for a life companion, escaping from kidnappers, and serving a war of expanding empire.