Mu'jizah Mu'jizah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NASKAH BETAWI: SKRIPTORIUM DAN DEKORASI NASKAH Mu'jizah Mu'jizah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.238 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.365

Abstract

Betawi pada abad ke-19 menjadi tempat penyalinan naskah atau skriptorium. Naskah disalin di lembaga pemerintah dan di beberapa kampung oleh masyarakat. Banyaknya naskah tersebut membuktikan bahwa intelektualitas masyarakat Betawi sudah tinggi. Naskah-naskah yang disalin masyarakat memiliki keunikan, terutama banyaknya dekorasi naskah berupa iluminasi, ilustrasi, dan kaligrafi. Dekorasi atau hiasan tersebut disesuaikan dengan jenis cerita. Dalam makalah ini dibahas skriptorium naskah Betawi dengan kekayaan naskahnya, pengarang dan penyalin, serta keberagaman dekorasi dalam bentuk iluminasi dan ilustrasi yang menjadi keunikan naskah Betawi. Metode kodikologi digunakan untuk membahas skriptorium dan dekorasi naskah Betawi. Dari pembahasan ini ditemukan bahwa pada abad ke-19 di Betawi banyak diproduksi naskah. Naskah yang disalin bukan hanya oleh Pemerintah Hindia-Belanda yang digunakan sebagai bahan pelajaran bagi para pejabat yang akan ditugasi ke Hindia-Belanda, melainkan oleh masyarakat yang naskahnya disewakan. Dekorasi berupa iluminasi dan ilustrasi  berfungsi sebagai hiasan untuk menarik minat pembaca. Kesimpulannya bahwa Betawi sebagai skriptorium naskah pada masa lalu memperlihatkan dinamika intelektualitas masyarakatnya yang banyak memproduksi naskah untuk bahan bacaan masyarakat. In the 19th century, Betawi became a scriptorium, place of writing manuscripts. The manuscripts copied in government agencies and in some vilages by community. The manuscripts consists of many genres. The large numbers of the manuscript prove that the community in Betawi was already high intellect. The manuscript from Betawi which was copied by scribes and has uniqueness. There are the large numbers of manuscripts was decorated by illumination, illustration, and calligraphy. An ornament is depends on a kind of story. In this paper we want to discussed, Betawi as a place of copied or scriptorium with riches of manuscripts, author and scribes, and the diversity of decorations like ilumination, illustration, and challigraphy as a uniquenessof of Betawi manuscript. Codicologi methods used to discuss of scriptorium, illumination, and illustration of the manuscripts. From discussion we found that Betawi has many scribes. In the government of Holland-Indies manuscript copied by scribes, they paid for writing manuscripts which was used as a lesson to officials will be assigned to Holland-Indies. Manucripts belong to the community was leased for many reader. The manuscripts decorated by illumination and illustration. It serves to attract the readers. The conclusion is scriptorium of Batawi manuscript in the past showed the intellectuality of Betawi people many producing manuscripts for materials reading.
Keberagaman Surat Emas dalam Politik dan Dagang: Diplomasi Raja-Raja di Indonesia Mu'jizah Mu'jizah
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 8, No 1 (2017): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.937 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v8i1.266

Abstract

Indonesia sebagai sebuah bangsa sudah dirintis sejak abad ke-14 M dimulai dari Sumpah Palapanya Gadjah Mada sampai perlawanan berbagai kerajaan--pusat kekuasaan. Untuk merealisasikan wujud bangsa Indonesia raja-raja pada masa lalu, di samping menggunakan kekuatan fisik juga strategi lain, di antaranya dalam hubungan diplomasi dengan pemerintah kolonial, khususnya Belanda. Diplomasi tersebut diketahui dari strategi politik dan dagang yang terekam dalam manuskrip yang dikenal dengan surat emas (golden letter). Surat ini sangat indah dan menarik serta mencermin pemikiran, intelektualitas, dan martabat bangsa Indonesia pada masa lalu. Surat yang cantik ini dikirim oleh banyak raja di Indonesia, seperti Banten, Madura, Bima, Pontianak, dan Banjarmasin. Sampai saat ini manuskrip tersebut disimpan dengan rapi di beberapa negara. Dalam makalah ini dibahas keberagaman surat emas  yang digunakan oleh raja-raja di Indonesia pada masa lalu dalam politik dan dagang sebagai sarana diplomasi. Metode yang digunakan berupa kajian deskriptif analitis. Dari hasil kajian diketahui bahwa gerakan "kebangsaan" pada dasarnya telah dilakukan sejak lama oleh raja-raja di Indonesia melalui diplomasi dan negosiasi, terutama dalam politik dan dagang seperti yang tercermin dalam surat emas yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Diplomasi tersebut dilakukan melalui komunikasi verbal melalui bahasa dan komunikasi nonverbal melalui simbol motif dalam hiasan pada surat.