Uniawati Uniawati
Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAKHAYUL SEPUTAR KEHAMILAN DAN KELAHIRAN DALAM PANDANGAN ORANG LABUAN BAJO: TINJAUAN ANTROPOLOGI SASTRA Uniawati Uniawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.797 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.120

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilandasi oleh pemikiran bahwa takhayul merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern. Salah satu kelompok masyarakat yang hingga kini masih kuat terpengaruh dengan pola pemikiran lama adalah kelompok masyarakat Labuan Bajo. Masyarakat Labuan Bajo adalah salah satu kelompok masyarakat tradisional yang di dalamnya subur dengan kepercayaan yang bersifat takhayul. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua permasalahan, yaitu mengungkapkan bentuk dan isi takhayul yang terdapat di lingkungan masyarakat Labuan Bajo serta mendeskripsikan aspek-aspek budaya masyarakat tersebut berdasarkan takhayul yang terdapat di lingkungan mereka. Untuk menjawab kedua permasalah tersebut, digunakan pendekatan Antropologi Sastra. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara lisan di lapangan berupa ungkapan tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang bersifat takhayul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Labuan Bajo pada dasarnya masih mengakui keberadaan takhayul hingga sekarang, namun tingkat kepercayaannya sudah berkurang dibandingkan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh para pendahulunya. Para pendahulu (nenek moyang) orang Labuan Bajo memandang takhayul sebagai suatu bentuk kepercayaan yang akan menimbulkan bahaya atau bencana apabila dilanggar, sedangkan orang Labuan Bajo sekarang sebagian besar memandang takhayul sebagai sarana menyampaikan pendidikan akhlak, etika, dan budi pekerti dalam lingkungannya agar masyarakat hidup lebih beradab dan berbudaya. Untuk itu, beberapa takhayul masih dipelihara dalam komunitas masyarakat tersebut. Abstract This research was based on the fact that superstitions are a kind of oral tradition that is inherent in the social life of a society, either in modern or traditional ones. The aims of the research are, firstly, to reveal forms and contents of superstitions that live among Labuan Bajo people and secondly, to describe cultural aspects of the people based on their superstitions. The author approaches the problems by using literary anthropology. The result shows that superstitions still exist among Labuan Bajo people but in a lower degree. Contrary to their ancestors who thought of superstitions as harmful if they were broken, today the Labuan Bajo people consider superstitions as a means to convey messages of morals and ethics to the young. Therefore, they tend to maintain some superstitions stories in the society.
Defamiliarisasi dalam Kebahasaan Cerpen Jumat,Yang Sebening Gelas Anggur Karya Hasta Indriyana Uniawati Uniawati
KAJIAN SASTRA Vol 32, No 1 (2008)
Publisher : KAJIAN SASTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.783 KB)

Abstract

The concept of defamiliarisation represents the concept which is brought about by formalism. The concept is emphasized by the application of close reading, taking the texts the only consideration in analyzing it. The focus is to undo the easiness of understanding a text with a purpose to make the text more interesting. The text studied here is "Jumat  long Sebening Gelas Anggur by Hasta Indriyani. The analysis is conducted parallel with the number of event in the story. The analysis found that the text contains many symbols, namely metonymy, paradox, personification, simile, hyperbole, and methaphore. Those symbols are used to defamiliarized the text. Keywords : formalism, defamiliarisation, close reading, language style, symbol