Aam Masduki
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SAWER PANGANTEN TUNTUNAN HIDUP BERUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANDUNG Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.099 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.111

Abstract

AbstrakSuku bangsa Sunda menghuni hampir seluruh daerah Jawa Barat, satu suku bangsa yang jumlahnya besar. Sebagai satu suku bangsa yang jumlahnya besar, suku bangsa Sunda mempunyai tata cara hidup, adat kebiasaan, dan budaya. Memang terdapat akulturasi dan integrasi dengan kebudayaan lain yang datang dari luar, tetapi masih terdapat hal-hal asli seperti yang kita dapatkan dalam berbagai upacara adat. Upacara adat pernikahan misalnya, upacara ini merupakan warisan adat budaya lama yang masih dilaksanakan di berbagai tempat di Jawa Barat. Sawer (nyawer) adalah salah satu adat kebiasaan pada orang Sunda, yang termasuk ke dalam tata cara upacara adat pernikahan. Kata-kata dalam sawer  umumnya mempergunakan bahasa yang sudah biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga isi, tema dan amanat mudah dipahami. Sawer perlu diteliti, selain karena merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai kerohanian,  juga karena puisi sawer merupakan bagian dari khasanah sastra Sunda, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai alat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, yakni mendeskripsikan data dan menganalisis data yang dikumpulkan. Hasil pengumpulan data disusun, dianalisis, ditafsirkan, dan dideskripsikan. AbstractSundanese ethnic groups inhabit almost the entire area of West Java, a large number of ethnic groups. As a large number of ethnic groups, Sunda has the way of life, customs, and culture. Indeed, there are acculturation and integration with other cultures that come from outside, but there are original things like we get from various ceremonies. Customary marriage ceremony, for example, this ceremony is a legacy of the old cultural customs that are still held in various places in West Java. Sawer (nyawer) is one of the customs of the Sundanese people, who belong to the procedures for wedding ceremonies. The words used insawer generally use theterms that are already commonly used in everyday life, so the contents, themes and messages are easy to understand. Sawer need to be investigated, as well as a cultural heritage that has spiritual value, as well as Sawerpoetryis a part of the repertoire of Sundaliterary, one of which can serve as an educational tool. This research uses descriptive method of analysis which describes the data and analyze the collected data. The results of data collectionare compiled, analyzed, interpreted and described.
KEARIFAN LOKAL ORANG SUNDA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL DI KAMPUNG KUTA KABUPATEN CIAMIS Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.691 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.102

Abstract

Abstrak Masyarakat Sunda termasuk salah satu etnis yang sangat bangga dengan bahasa dan budayanya. Dalam Bahasa Sunda dikenal babasan dan paribasa yang merupakan ungkapan tradisional atau idiom suku Sunda. Isi dari babasan dan paribasa merupakan nilai-nilai dan kearifan lokal orang Sunda pada umumnya. Dalam babasan dan paribasa banyak sekali kearifan lokal yang terkandung didalamnya. Nilai dan kearifan lokal ini yang harus tetap dijaga dan dijadikan falsafah hidup orang Sunda. Kearifan lokal mengandung nilai, kepercayaan, dan sistem religi yang dianut masyarakat setempat.Kearifan lokal pada intinya kegiatan yang melindungi dan melestarikan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan melestarikan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Penelitian  kearifan lokal dilakukan pada masyarakat adat Kuta di Kabupaten Ciamis yang berfokus pada babasan dan paribasa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipasi/pengamatan, wawancara mendalam dengan beberapa informan dan pengunjung, serta studi pustaka. Data yang dianalisis meliputi: Makna yang terkandung dalam kearifan lokal babasan dan paribasa, terutama yang mengatur tentang manusia sebagai pribadi, hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan. AbstractSundanese people is one ofanethnic which is extremely proud of their language and culture. In Sundanese, it is known babasan and paribasa which is a traditional expressions or idioms of Sundanese tribe. The content of babasan and paribasais the values and local wisdom of Sundanese people in general. In babasan and paribasa, there are a lot of local knowledge contain there. Values and local wisdoms must be kept and used as a philosophy of Sundanese life. Local wisdom contain values, beliefs, and religious system which is adopted by local communities.  Local wisdom on its core activities protect and preserve the natural and environment. Therefore, it is important to study and preserve the local wisdom that flourished in our society.The research of local wisdom was performed at Kuta indigenous people in Ciamis district that focuses on babasan and paribasa. The method used was descriptive method in the form of qualitative data collection techniques such as participatory observation / observation, in-depth interviews with informants and visitors, as well as literature. The data analyzed include the meaning in the local wisdom of babasan and paribasa, especially the regulation of the human as a person, human relationships with the community, the human relationship with nature, and man’s relationship with God.
PUISI SISINDIRAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG (KAJIAN ISI DAN FUNGSI) Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.108 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.148

Abstract

AbstrakMenyindir Sindiran adalah salah satu bentuk Puisi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi. Namun demikian kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi seperti halnya puisi modern (sajak). Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari. Sisindiran “pantun” merupakan Puisi rakyat yang sangat digemari masyarakat. Sisindiran dapat mengungkapkan perasaan, keadaan lingkungan, dan situasi masyarakat desa, petani, dan lain sebagainya. Biasanya dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, dan suasana formal, misalnya dalam upacara adat perkawinan, melamar, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sangat luwes, mudah memasuki berbagai gendre sastra lainnya, seperti cerita pantun, wawacan, novel, cerpen, novelet bahkan muncul juga pada puisi modern. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yaitu seluruh data yang diperoleh dari lapangan dikumpulkan, kemudian dianalisis dengan cara dikaji dan diklasifikasikan menurut struktur, isi, dan fungsi yang dikandungnya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) sisndiran dalam bentuk tertulis merupakan dokumentasi pengawetan karya sastra agar tidak mengalami kepunahan, (2) Menunjang kemudahan untuk menyusun sejarah sastra, serta pengembangan teori sastra, khsusnya sastra lisan Sunda, (3) Hasil pendokumentasian ini akan bermanfaat untuk perbendaharaan bahasa, sastra, dan budaya daerah. Hasil dari penelitian diharapkan menjadi bahan bacaan yang dapat menuntun generasi berikut ke jalan kebaikan melalui ungkapan yang disampaikan secara langsung atau tidak langsung.AbstractSisindiran is a form of old Sundanese poetry consisting of sampiran (metaphors) and contents. It has rhyme and rhythm at the end of each word and it uses simple, easily understood daily language. Sisindiran is used either to express feelings or describe environment and presented in various situations both formal and informal. It can easily easily blend with other literary genres. No wonder if sisindiran is very popular folk poetry. The purpose of this study is 1) documenting folk literatures in written form, 2) supporting research in compiling literature history as well as developing literary theory, especially of Sundanese oral literatures. Thisdocumentation would enrich repertoire of regional literatures in Indonesia. In doing the research the author conducted descriptive analytical method.
TEMPAT-TEMPAT KERAMAT DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.027 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.176

Abstract

AbstrakDewasa ini bangsa Indonesia sedang berada di tengah-tengah kebudayaan yang sedang tumbuh dan berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Meskipun di tengah arus perkembangan yang sangat pesat  dalam segala aspek kehidupan, masih nampak bahwa ada masyarakat  yang masih kuat berpegang pada adat kebiasaan dan mentalitas para leluhur mereka tentang kepercayaan sebagai keyakinan dalam hidupnya yang diwujudkan melalui tindakan. Di antaranya pada waktu tertentu pergi atau berkunjung ke tempat-tempat keramat, misalnya makam-makam para leluhur yang dianggap keramat atau tempat-tempat yang dianggap mempunyai tuah dan sebagainya.Tempat-tempat keramat banyak ditemukan di semua daerah di Indonesia. Di tempat-tempat inilah masyarakat pendukung suatu kebudayaan mengekspresikan dirinya secara religius dengan beranekaragaman cara dan laku. Hal tersebut bisa dimengerti karena kepercayaan sebagai salah satu unsur kebudayaan, terdiri atas pola-pola sistematis dari keyakinan anggota masyarakat. Pola-pola tersebut sistematis karena manifestasinya teratur dalam kejadian maupun ekspresinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tempat-tempat keramat  serta mengungkap fungsi dan maknanya, agar masyarakat terutama generasi muda bisa  mengetahui dan memelihara tinggalan leluhur. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang melihat pada aspek nilai dan konsep berpikir pada masyarakat tersebut, serta penggalian data melalui observasi dan wawancara. AbstractToday the Indonesian nation was in the midst of a culture that is growing and changing in accordance with the development of science and technology.  While in the midst of rapid growth in all aspects of life, it appears that there are still people who still hold on to the customs and mentality of their ancestors of faith as belief in life created by the action. Among them at a certain time to go or visiting sacred places, such as the tombs of the ancestors that are considered sacred or places that are considered to have good luck and so on.  Sacred places are found in all regions in Indonesia. In places it is public support for a culture to express themselves religiously with various manner and behavior.  This is understandable, given the trust as one of the cultural elements, consisting of systematic patterns of society belief-pattern.The patterns are systematic, as a regular in the incidence of manifestations and expressions.  The purpose of this study was to identify sacred sites and reveals the function and meaning, so that people, especially younger generations can know and preserve the remains of ancestors.  This is a descriptive study using a qualitative approach that looks at the aspects of value and the concept of thinking in the community, as well as extracting data through observation and interviews.