Hary Ganjar Budiman
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dinamika Industri Kopi Bubuk di Lampung (1907-2011) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.264 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.161

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul “Dinamika Industri Kopi Bubuk di Lampung (1907-2011)”. Kopi merupakan salah satu sumber daya unggulan di Lampung. Keberadaan industri kopi di Lampung ditopang oleh banyaknya perkebunan rakyat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dalam penelitian ini digunakan konsep industri. Industri adalah kegiatan manufaktur yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Awal mula budidaya kopi di Lampung dilatarbelakangi oleh perpindahan penduduk dari Jawa ke Lampung yang telah berlangsung sejak 1905. Para kolonis datang ke Lampung untuk membuka lahan dan menanam berbagai komoditas, salah satunya adalah kopi. Proses perpindahan terus berlangsung dalam beberapa periode; 1905-1941 (Hindia-Belanda) dan pada 1950-1986 (masa kemerdekaan). Selama proses tersebut, pembukaan lahan-lahan perkebunan kopi terus dilakukan di berbagai daerah. Industri kopi bubuk yang pertama berdiri adalah Kopi Njit Sin Hoo (Rajawali) yang sudah ada sejak 1907. Njit Sin Hoo kemudian berganti nama menjadi Kopi Sinar Baru Cap Bola Dunia pada 1950. Industri kopi bubuk berkembang pesat pada 1980 dengan bermunculannya beragam merk kopi bubuk. Memasuki tahun 2007 hingga 2010 dikenal kopi luwak yang memiliki kualitas istimewa dan dikenal di dalam dan luar negeri.  AbstractCoffee is one of major resources in Lampung. It is supported by many people’s plantations. The author conducted methods in history: heuristic, critique, interpretation, and historiography. The concept that is used in this study is “industry”. Industry is manufacture activities involving productivity in processing raw material into half-finished or finished goods. Coffee cultivation in Lampung was motivated by migrations from Jawa to Lampung that took place in 1905. The colonists opened and cultivated land with many commodities, including coffee. There are two phases of migration: during the Dutch colonialism (1905-1941) and after the Independence (1950-1986), and in those periods many coffee plantations were opened in many areas. The first coffee powder industry Njit Sin Hoo (Rajawali) was established in 1907. In 1950 it changed the name into Kopi Sinar Baru Cap Bola Dunia. Coffee industry made its big progress in 1980 along with the introduction of many new brands. By 2007 until 2010 kopi luwak, which has special quality, was introduced.
MAKNA DAN NILAI BUDAYA TAPIS INUH PADA MASYARAKAT PESISIR DI LAMPUNG SELATAN Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.596 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.116

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul Makna dan Nilai Budaya Tapis Inuh pada Masyarakat Pesisir di Lampung Selatan. Inuh merupakan salah satu jenis Tapis yang berkembang di tengah masyarakat beradat Sai Batin, umumnya tinggal di pesisir Lampung. Inuh dibuat dengan bahan benang sutera yang pewarnaannya menggunakan teknik celup tradisional. Pembuatan Inuh dilakukan dengan teknik tenun ikat, yaitu kain yang proses pembentukan motifnya dilakukan melalui pengikatan benang-benang. Inuh menarik untuk dikaji karena motif dan ragam hias di dalamnya menggambarkan cara pandang masyarakat pesisir terhadap lingkungannya, yang berbeda dengan masyarakat di pedalaman (beradat Pepadun). Penelitian ini difokuskan untuk menjawab apa dan bagaimana makna yang tersirat dari motif dan ragam hias yang terdapat pada Inuh, juga untuk mengetahui bagaimana penggunaan serta nilai-nilai budaya yang tekandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Penelitian ini menggunakan konsep kebudayaan fisik dan nilai budaya. Ciri khas Inuh terlihat dari motifnya yang bernuansa laut. Tapis Inuh yang dibuat secara tradisional, dewasa ini sangat sulit ditemukan karena pewarisannya tidak sembarangan. Bagi masyarakat pesisir Lampung, Inuh merepresentasikan status sosial. Semakin tinggi tingkat kerumitan Inuh, semakin tinggi status sosial pemakainya. Dilihat dari pembuatannya, Inuh mengandung nilai-nilai keuletan, kerja keras, kecermatan, dan penghargaan terhadap kaum wanita.AbstractThis research entitled The Meaning and Cultural Values of Tapis Inuh in South Lampung Coastal Communities. Inuh is one kind of tapis that evolved in Sai Batin society. Inuh is made from silk material which colored by traditional dye techniques and the motif by weaving techniques. Inuh is an interesting subject, because the motif represents Coastal Communities way of life, which is different from rural communities in Lampung. This research focused to answer the implicit meaning of Inuh’s motif, also to know how Inuh used in Sai Batin society and its cultural values. This research used qualitative method with descriptive analytical approach and concept of physical culture and culture value. Inuh’s characteristic can be seen from a nautical motif. Nowadays Tapis Inuh, which made traditionally, is hard to find because its inheritance not given arbitrary. In Lampung Coastal Communities, Inuh represent social status. The more complex isInuh’s motif, the more high social status it represent. In terms of making Inuh, it contained of perseverance, hard work, and frugality values, also reflected of respect for women.
PERKEMBANGAN ZINE DI BANDUNG: MEDIA INFORMASI KOMUNITAS MUSIK BAWAHTANAH (1995-2012) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.097 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.189

Abstract

Abstrak    Zine adalah salah satu media informasi dalam bentuk cetak. Zine muncul dan digunakan oleh komunitas untuk berbagi informasi seputar komunitas dan kegemarannya. Zine dikelola secara non professional, mandiri, dan dibagikan secara gratis melalui pendistribusian yang terbatas. Pada umumnya, zine diterbitkan  bukan sebagai pencarian keuntungan namun berusaha mewadahi idealisme melalui ide-ide yang muncul. Dengan membahas perkembangan zine di Bandung, diharapkan dapat diketahui suatu proses komunikasi melalui media zine, serta sejauh mana pengaruhnya terhadap eksistensi komunitas tersebut. Hal ini menjadi penting karena keberadaan zine terkait langsung dengan penyampaian informasi yang bersinggungan dengan eksistensi komunitas bawahtanah. Informasi yang disampaikan melalui zine kemudian dalam jangka waktu yang panjang turut membentuk suatu karakter, jaringan, bahkan industri kreatif, juga bisnis yang menjadi pendukung keberadaan komunitas bawahtanah di Bandung. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa zine adalah media yang mampu merepresentasikan kesadaran identitas komunitas dan dapat mengakomodasi ide yang muncul sebagai jawaban kondisi sosial, melalui berbagai pesan atau informasi yang disampaikan. AbstractZine is one of the information printed media.  Zine appeared and use by the community in sharing their information around the communities and hobbies.  Zine manage by nonprofessional, autonomous, and act of grace with limited distributions.  In general, zine is published as a non-profitable product, but to provide a place for idealism.  Hopefully, the discussion about zine in Bandung can find the communication process through the zine, and the influence for the community itself.  That point is so important because the existence of the zine related to the existences of underground community.  Kinds of information in the zine in a long period of time also shaped the character, network, also creative industry that supports the existences of underground community.  Through this research, it can find that zine is the media of conscious representations of community identity, and it can accommodate the ideas (new ideas) as an answer of our social condition through kinds of message or information.