Rosyadi Rosyadi
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komunitas Adat Kampung Mahmud di Tengah Arus Perubahan Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.923 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.282

Abstract

AbstrakKampung Mahmud adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnyateguh memegang dan melaksanakan tradisi yang diwarisi dari leluhurnya. Namunarus modernisasi ternyata membawa dampak terhadap kehidupan sosial budayamasyarakat setempat yang sudah mulai menampakkan perubahan. Beberapatradisi yang semula dipegang teguh oleh warga komunitas Kampung Mahmud, kinimulai melonggar. Komunitas adat ini berdomisili di wilayah Kabupaten Bandung.Penelitian ini mencoba mengkaji perubahan-perubahan pada aspek-aspek sosialdan budaya yang terjadi di kalangan komunitas adat Kampung Mahmud. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatandeskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terbuka denganbeberapa tokoh masyarakat dan warga komunitas terpilih, serta pengamatan langsungdi lapangan (observasi). AbstractKampung (village) Mahmud is an adat kampung that strictly preserves theircustoms inherited from their ancestors. But, modernization has given strong impactsto the community in terms of socio-cultural life which has gradually changed. Someof their traditions have become loosened. This adat commuity lives in KabupatenBandung. The research tries to study socio-cultural changes that has occurredamongst adat community of Kampung Mahmud. The author has conducted aqualitative method with descriptive approach. Data were collected through openedinterview with several key persons and selected community member as well asobservation.
ANGKLUNG: DARI ANGKLUNG TRADISIONAL KE ANGKLUNG MODERN Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.505 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v4i1.122

Abstract

AbstrakAngklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan. Sebelum menjadi sebuah kesenian yang adiluhung seperti sekarang ini, kesenian Angklung telah mengalami perjalanan sejarah yang amat panjang. Berbagai perubahan telah dilaluinya mulai dari perubahan bentuk, fungsi, sampai pada perubahan nada. Demikian pula berbagai situasi telah dilaluinya, bahkan kesenian ini sempat mengalami keterpurukan pada awal abad ke-20. Angklung sebagai salah satu jenis kesenian yang berangkat dari kesenian tradisional, mengalami nasib yang tidak terlalu tragis dibandingkan dengan beberapa jenis kesenian tradisional lainnya. Kesenian ini hingga kini masih tetap bertahan,  bahkan berkembang, dan sudah “mendunia” kendatipun dengan jenis irama dan nada yang berbeda dari nada semula. Kalau semula nada dasar kesenian Angklung adalah tangga nada pentatonis, kini telah berubah menjadi tangga nada diatonis yang memiliki solmisasi. Boleh dibilang, kesenian Angklung merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sehingga ia mampu bertahan di tengah terjangan arus modernisasi. Bahkan kesenian Angklung ini telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Angklung sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia yang dideklarasikan pada 16 Januari 2011.  Abstract Angklung is a Sundanese musical instrument made of bamboo. We have to shake it to get the tune. Angklung has been through long period of times in history before it become a masterpiece of one of Sundanese artistry. It has been through many changes, beginning from its form, functions and tune itself. Angklung experienced its downturn at the beginning of 20th century. But it survived. Angklung can suit itself to this changing modern world by adjusting its musical scale from pentatonic to diatonic. UNESCO has granted angklung the Representative List of Intangible Heritage of Humanity on January 16, 2011.
WAYANG GOLEK DARI SENI PERTUNJUKAN KE SENI KRIYA (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor) Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.562 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.239

Abstract

AbstrakWayang golek adalah suatu jenis seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda. Perkembangan dunia hiburan yang kini lebih didominasi oleh jenis-jenis kesenian modern, telah mengakibatkan semakin langkanya pertunjukan kesenian wayang golek dipergelarkan.Dalam pada itu, perkembangan dunia pariwisata telah menciptakan karya baru bagi wayang golek, yaitu sebagai barang souvenir. Maka fungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya. AbstractWayang golek is one of traditional entertaining art and it has become identity of Sundanese people. The growth of modern entertainmen, which more dominated by a modern art, it caused events of traditional art such as wayang golek is more dificult to find.Mean while,growing of tourism industry has made a new change for wayang golek. In this case wayang golek has become a souvenier. So, there is a change of wayang golek function from entertaining art to be handycraft.