Nina Merlina
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POLA PENGASUHAN ANAK PADA KOMUNITAS ADAT GIRI JAYA (Suatu Tinjauan Sosial Budaya) Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.732 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.217

Abstract

AbstrakPada prinsipnya, pola pengasuhan anak merupakan proses sosialisasi. Pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan, menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut. Keluarga sebagai unit sosial terkecil, merupakan tempat seorang anak tumbuh dan berinteraksi. Keluarga juga memegang peran yang sangat penting dalam proses sosialisasi bagi anak-anak ketika ia beranjak dewasa dan bergaul dengan individu lainnya di dalam maupun di luar lingkungan masyarakat. Pola pengasuhan ini, pada gilirannya akan berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mengetahui salah satu aspek kebudayaan mengenai kehidupan sosial budaya, terutama mengenai sistem dan pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penelaahan data yang bersifat kualitatif. AbstractNurturing is basically a process of socialization. As the smallest social unit, family plays the main role in nurturing their children. Family is the place where children are grown up and interact with other members of the family. They also learn how to build character and face another environment in their future life. The purpose of this research is to reveal social life in a traditional community of Padepokan Giri Jaya, focusing on their nurturing pattern. A desctiptive method was conducted along with qualitative data review.
Budaya Spritual pada Masyarakat Indramayu (Kajian Sosial Budaya) Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1272.761 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.264

Abstract

AbstrakFenomena ziarah ke tempat-tempat keramat, masih banyak dilakukan dilingkungan masyarakat. Ziarah ke tempat-tempat keramat merupakan suatu faktasosial yang tidak bisa diabaikan, terlepas dari pro dan kontra. Ziarah ke tempat-tempatkeramat sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi suatu kelompokmasyarakat tertentu, baik itu di lingkungan pedesaan maupun perkotaan. Ziarah ketempat-tempat keramat bisa diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggapkeramat atau mulia, misalnya; makam, tempat lahirnya seorang tokoh besar, tempatpeninggalan atau patilasan, dan tempat–tempat yang memiliki nilai sejarah spiritualyang tinggi. Suatu makam dianggap keramat apabila di makam tersebut dimakamkanseseorang yang dianggap sangat berpengaruh sewaktu masih hidup. Bagi sebagianmasyarakat, makam dan tempat keramat adalah tempat yang baik untuk mencariberkah. Begitu pula yang terjadi di Desa Lelea Kecamatan Lelea KabupatenIndramayu, menziarahi makam atau tempat keramat, sepertinya sudah menjadisuatu kebutuhan masyarakatnya. Wilayah Lelea yang dipagari oleh tempat keramat,memungkinkan sekali bagi masyarakat Lelea untuk selalu menziarahi tempat-tempatkeramat yang ada di lingkungannya. Masyarakat Lelea merasa diawasi kehidupannyaoleh para keramat tersebut. Hal ini disebabkan oleh anggapan di kalangan masyarakatLelea, bahwa, di tempat-tempat keramat tersebut bersemayam roh-roh halus paraleluhur atau tokoh yang mempunyai kekuatan-kekuatan di atas kemampuan manusiabiasa. Para leluhur tersebut adalah orang yang sangat berjasa, mempunyai kharismadan dimitoskan oleh penduduknya dan dijadikan sebagai panutan. Pada saat-saattertentu, di tempat-tempat keramat tersebut, dijadikan sebagai tempat kegiatan ritualmisalnya upacara-upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untukmeminta dan memohon segala petunjuk yang harus dilakukan untuk maksud-maksudtertentu.AbstractThe people of Desa Lelea in Indramayu have habit to go on a pilgrimage to placesthey consider sacred, such as the tomb of sacred person and so on. They think sacredcemetery has spiritual power and influence their daily life because the person whowas entombed there was a holy person. They also believe that their ancestors havebeen living in that cemetery. This research concluded that pilgrimage to sacred places,either in rural or urban areas, is a social fact that can not be ignored. The pilgrimsthink that they can get blessings from those sacred places.
POLA INTERAKSI MASYARAKAT ARAB – SUNDA DI KABUPATEN PURWAKARTA Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.075 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.229

Abstract

AbstrakInteraksi sosial sebagai faktor utama dalam kehidupan sosial, didasarkan pada komunikasi. Proses interaksi adalah suatu proses yang mengharuskan adanya suatu kerja sama antara dua atau lebih kelompok. Kondisi itu terjadi dalam proses asosiatif antara masyarakat Arab dan Sunda di Kabupaten Purwakarta. Interaksi sosial antara kedua etnis tersebut sangat mewarnai kehidupan sosial di daerah Purwakarta. Abstract Social interaction is a primary factor in social life, based on communications. The main interaction process is an associative process. It is a process that requires teamwork between two people or more. This condition occurs in associative process between the Arabian people and Sundanese people in Purwakarta. The social interaction between two ethnics greatly affects the social life in Purwakarta.