Euis Thresnawaty S.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RASPI SANG MAESTRO RONGGENG GUNUNG Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.859 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.75

Abstract

AbstrakRaspi adalah seorang maestro seni yang peduli pada lestarinya kesenian tradisional yang hampir punah, yaitu ronggeng gunung. Kesenian tradisional ini berasal dari Kabupaten Ciamis. Tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi karena suaminya Raden Anggalarang tewas di tangan bajak laut/bajo. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui siapakah Raspi, bagaimana kiprahnya sebagai ronggeng gunung, yang mampu bertahan sampai sekarang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi bahwa Raspi lahir di Dusun Karang Gowok, Kabupaten Ciamis tahun 1956. Sejak kecil ia hidup sendiri karena kedua orang tuanya telah bercerai. Usia 13 tahun, yaitu sekitar tahun 1970-an, Raspi lari dari rumahnya karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Saat pelarian itulah ia bertemu guru pertamanya sebagai penari ronggeng yaitu Embah Maja Kabun di Kampung Jubleg, Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis. AbstractRaspi is a master of the art who concern about the preservation of nearly extinct traditional arts, namely Ronggeng Mountains. This traditional art is derived from Ciamis District. This dance appears in the name of love and revenge of Samboja Siti Dewi, daughter of the 38th Prabu Siliwangi Raden Anggalarang because her husband was killed by the pirates / bajo. This research is conducted to find out who is Raspi?, how his work as Ronggeng Mountain, is able to survive until now? The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results are obtained that Raspi was born in Dusun Karang Kupa, Ciamis district in 1956. Since he was a kid, he lived alone because his parents had divorced. At age 13, which is about 1970, Raspi ran away because he was forced to marry by his parents. In his escape, he met his first teacher as a dancer Ronggeng, Embah Maja Kabun in Kampung Jubleg, Panyutran Village, District Padaherang, Ciamis District.
SEJARAH SOSIAL-BUDAYA KABUPATEN KUNINGAN Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.868 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.62

Abstract

AbstrakKuningan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang terletak di ujung Timur. Dari sisi sejarah sosial budayanya Kabupaten Kuningan menarik untuk dikaji, karena sejak beberapa abad yang lalu daerah Kuningan telah menjadi daerah pemukiman manusia. Dari penemuan-penemuan benda seperti menhir, dolmen, dan lain-lain dapat disimpulkan bahwa daerah Kuningan telah didiami oleh manusia sejak masa neolitik. Namun demikian, mengingat panjangnya sejarah yang dilalui Kabupaten Kuningan dengan melalui beberapa masa maka penelitian ini difokuskan pada masa kolonial hingga kemerdekaan untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial budaya di Kabupaten Kuningan pada masa tersebut. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dahulu posisi Kabupaten Kuningan yang strategis membuat wilayah dan masyarakatnya senantiasa mampu mengikuti dinamika kehidupan, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dengan kelompok masyarakat lainnya baik secara teritorial maupun kultural. AbstractKuningan District is one area in West Java province located at the end of Northeast. In terms of social and cultural history of Kuningan regency, it is interesting to be investigated since from several centuries ago Kuningan has become the area of human settlements. From the discoveries of objects such as menhirs, dolmen, etc , it can be concluded that the Kuningan has been inhabited by humans since the Neolithic era. Nevertheless, due to the long history of Kuningan, this study only focused on the colonial to independence period to determine how the social and cultural conditions in the district of Kuningan in that era. The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that from long ago, the strategic position of Kuningan District makes this area and the community is able to follow the dynamics of life, thus it enables the interaction with other community, both territorially and culturally.