Adeng Adeng
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANAN SENIMAN DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.991 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.139

Abstract

AbstrakPerjuangan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) (1945-1949) masih menampil-kan tokoh-tokoh yang aktif di dalam politik maupun di bidang militer. Para seniman sendiri, walaupun tidak segencar kaum politik dan militer, peranan mereka dalam perjuangan kemerdekaan tidak kecil. Kurangnya informasi terhadap aktivitas para seniman, mengakibatkan masyarakat luas kurang mengetahui peranan mereka dalam periode perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Padahal peranan seniman dalam perjuangan selalu memberikan semangat kepada para pejuang di medan perang, seperti menciptakan lagu-lagu perjuangan, coretan-coretan kanvas,  puisi-puisi, dan sebagainya. Karya mereka disampaikan melalui surat kabar maupun media elektronik, seperti Radio Republik Indonesia (RRI). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kembali peranan seniman Jawa Barat pada masa Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949. Hal ini cukup penting mengingat dalam karya-karya sejarah Indonesia, peranan mereka itu masih jarang diungkapkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada historiografi Indonesia, dan dapat menjadi acuan bagi peneliti-peneliti yang berminat pada masalah ini. AbstractPolitical and military figures dominated portraits of the struggle for Indonesia independence during 1945-1949. Meanwhile, artists also played quite big role during that period. Unfortunately, due to lack of information, their part was poorly known to public. In fact, they were encouraging people by creating songs, paintings, poems, etc. Their works are publicly conveyed through the radio (RRI) and newspapers. This research aims to reveal the role of West Java’s artists during the struggle for Indonesian independence (1945-1949). To my opinion, it is very important to uncover the story especially because informations concerning it are so poor. The author conducts historical approach, including heuristic, critique, interpretation, and historiography. It is hoped that this would be beneficial to historiography of Indonesia as well as reference for researches on the area.
SEJARAH PESANTREN MIFTAHUL HUDA MANONJAYA TASIKMALAYA Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4008.327 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.269

Abstract

AbstrakPondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam secara tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren tradisional berubah menjadi pondok pesantren modern dengan tidak meninggalkan agama sebagai pijakan. Salah satunya pesantren tradisional yang berkembang menjadi pesantren modern adalah Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sejarah perkembangan Pesantren Miftahul Huda. Pengungkapan sejarah Pesantren Miftahul Huda dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu: heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi. Dengan demikian, pondok pesantren sekarang ini tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan saja tetapi ilmu pengetahuan dan masalah keduniawian. Oleh karena itu, pondok Pesantren Miftahul Huda mempunyai tiga peranan penting, yaitu: sebagai lembaga pendidikan Islam, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan masyarakat.  AbstractPondok Pesantren ia as an Islamic educational institution that lives and grows within a society. As the time goes by pesantren gradually left its traditional style behind, turning into a more modern one without leaving religion as the basis of their educational system. One of which is Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. This research tries to study the history of the Pesantren by using methods used in history: heuristics, critique, interpretation, and historiography. The result is that today pesantren is also teach general sciences as well as religious ones. Therefore Pesantren Miftahul Huda has three important roles: as Islamic educational institution, as a place for developing social and human resources.
KERAJAAN TRADISIONAL CIREBON ABAD XV – XIX Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.242

Abstract

AbstrakKerajaan Tradisional Cirebon atau lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Islam Cirebon dan akhirnya menjadi Kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Kepemimpinan Sunan Gunung Jati misi utamanya adalah pengembangan agama Islam di Tatar Sunda (sek. Jawa Barat), bukan masalah politik atau pemerintahan. Oleh karena itu, perkembangan Islam di Tatar Sunda sangat pesat.   Abstract Traditional Empire of Cirebon or more knowledgeable with the title Empire of Islam Cirebon and finally becomes Sultanate of Cirebon tired its the feather in one's cap top when led by Syekh Syarif Hidayatullah or more knowledgeable by the name of Sunan Gunung Jati. Leadership of Sunan Gunung Jati mission is expansion of Islam in Tatar Sunda (West Java), no matter political or goverment. Therefore, development of Islam in Tatar Sunda very fast.