Yanti Nisfiyanti
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POLA PENGASUHAN ANAK PADA MASYARAKAT ARAB SUNDA DI KABUPATEN PURWAKARTA Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.598 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.260

Abstract

AbstrakKeluarga merupakan kesatuan sosial terkecil tempat pertama kali seorang manusia menerima pengasuhan dan pendidikan dari orang tua. Dalam pola penga-suhan dan pendidikan anak, terdapat proses sosialisasi nilai-nilai yang disampaikan orang tua kepada anak. Pola pengasuhan anak pada setiap keluarga membentuk per-kembangan dan karakter anak.Pada pembentukan karakter anak lebih ditentukan oleh budaya orang tua. Dalam pola pengasuhan anak pada keluarga keturunan Arab Sunda proses sosialisasi nilai-nilai ditentukan oleh budaya akulturasi Arab dan Sunda. AbstractFamily is the smallest social unity, where the first time humans were given care and education by their parents. In the child caring and education pattern, there’s a socialization. Process of these values which is given by the parents to the children. These pattern are exist in every family and shaping children’s character and development.Same as the patterns in Sundanese-Arabian descendence families, there’s also a socialization process of values from the parent’s to children. Those values originated from two cultures, Arabian and Sundanese. 
TRADISI GOTONG-ROYONG DI DESA JUNTIKEBON KECAMATAN JUNTINYUAT, KABUPATEN INDRAMAYU Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.332 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.209

Abstract

AbstrakSalah satu efek globalisasi adalah terjadinya penurunan rasa solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Untuk membangkitkan kembali rasa solidaritas masyarakat, perlu digali kembali nilai-nilai yang berhubungan dengan kebersamaan, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan gotong-royong. Kegiatan gotong-royong tersebut dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa Barat, di antaranya Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Sebagaimana diketahui Indramayu berpenduduk mayoritas petani, yang dalam kehidupannya memelihara tradisi gotong-royong. Untuk mengetahui tradisi gotong-royong di desa tersebut, maka dilakukan penelitian dengan metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa tradisi gotong-royong masih dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Juntikebon. Tradisi tersebut sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti tolong-menolong, solidaritas sosial, dan nilai kebersamaan. Ada beberapa faktor yang membuat tradisi gotong-royong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat Desa Juntikebon, yaitu: kesamaan jenis pekerjaan, wilayah tempat tinggal yang sama, dan kesamaan unsur kepercayaan yang dianut. AbstractOne of the effect of globalization is the decreasing sense of solidarity inside the society. To revive the society’s solidarity, certain values of togetherness needs to be re-excavated, which is contained in mutual assistance activities. Those mutual assistance activities can be found in the village’s society of West Java. One of them is in Juntikebon Village, District Juntinyuat, Indramayu sub-distric, Indramayu Regency. As we already known, most of Indramayu’s people are farmers, whch in their daily life incorporate mutual assistance activities. To know more about the mutual assistance tradition, a research with analytic-descriptive method must be conducted. From the result, it is known that the mutual assistance tradition still implemented in Juntikebon village community. These tradition full of noble values, like helping each other, social solidarity and togetherness. There are some factors that the made mutual assistance tradisition could survive in Juntikebon village society, such as: job similiarity between society member, same living area, and same religion.
SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL (Studi Kasus di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu) Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.908 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.127

Abstract

Abstrak Sejak dahulu nenek moyang kita telah menciptakan berbagai ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengobati sakit atau memelihara kesehatan. Tradisi tersebut di antaranya tertulis dalam naskah-naskah kuno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya disebutkan berbagai jenis penyakit yang sering diderita masyarakat dan berbagai jenis tumbuhan yang diramu untuk obatnya. Dalam perkembangannya, hasil riset para ahli mengungkapkan bahwa herbal yang digunakan dalam pengobatan tradisional tersebut terkandung berbagai zat yang bermanfaat bagi kesehatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sistem pengetahuan tentang pengobatan tradisional di Desa Juntinyuat merupakan warisan dari leluhurnya. Masyarakat Juntinyuat hanya meneruskan tradisi pengobatan yang sudah ada. Pengobatan tradisional yang mereka lakukan mencakup semua jenis penyakit yang diderita. Mulai dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat, bahkan untuk memelihara kebugaran  dan kesehatan badan.  Mereka merasakan manfaat pengobatan tradisional meskipun tingkat kemanjuran obat tersebut memerlukan waktu yang lebih lama. Bahkan lebih efektif digunakan untuk memelihara kesehatan daripada untuk penyembuhan. Dari situ  muncul tradisi minum jamu di kalangan masyarakat untuk memelihara kesehatan badan. Pengobatan tradisional ditempuh sebagai  upaya pertolongan pertama atau darurat sebelum berobat ke medis. Namun demikian, apabila penyakit tidak dapat disembuhkan secara medis atau pengobatan secara medis tidak terjangkau biayanya, masyarakat kembali lagi ke pengobatan tradisional.      Abstract  Our ancestors has created herbal remedies either to cure illnesses or for health care. Those recipes were written in old manuscripts and are scattered around Indonesia, mentioning some common diseases and herbs that cure them. Modern research reveals that herbs used by our ancestors contain elements that are beneficial to human health. The result of this research shows that knowledge system about traditional medicine in Desa/village Juntinyuat is inherited from their ancestors. The remedy covers ailment to severe diseases, as well as health care and body fitness. Although it takes quite long enough to get well, the people of Juntinyuat feel the remedies are very useful. They are even more useful for health care than to cure illnesses. This fact leads to practice of taking jamu (herbal medicine) for caring health, and this is the first aid before seeing the doctor. But, if seeing the doctor does not work and the cost is considered high, they will turn back to the traditional medicine.