Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal IMAJI

Kedudukan Perempuan Jawa Sebagai Istri Dalam Film Opera Jawa Karya Garin Nugroho: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tokoh Siti Iskandar, Naswan
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan Jawa pada film Opera Jawa karya Garin Nugroho dianalisis berdasarkan teori Roland Barthes, “The Second Order Signification”. Deskripsi perempuan Jawa dianalisis pada tataran sistem penandaan pertama yang memunculkan makna denotasi, tataran sistem penandaan kedua yang memunculkan makna konotasi serta pada tataran mitos dan ideologi yang terkandung dalam film Opera Jawa. Dalam film Opera Jawa, pada tataran denotasi perempuan Jawa digambarkan sebagai perempuan yang patuh dan setia pada suaminya. Pada tataran konotasi, perempuan Jawa dipercaya sebagai lambang kesuburan, sebagaimana mitos yang berakar di masyarakat Jawa yang percaya dengan keberadaan Dewi Sri yang juga sebagai lambang kesuburan. Sehingga perempuan dalam masyarakat Jawa dimaknai memiliki kedudukan penting. Perempuan dalam masyarakat Jawa merupakan lambang kebahagiaan dan kesejahteraan rumah tangga.
Kompleks Candi Kedaton sebagai Subjek Film Dokumenter: Interpretasi Arkeologis melalui film Iskandar, Naswan
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.85

Abstract

Tanda visual dapat diekstraksi dari catatan arkeologi mana pun hampir tanpa batas, tetapi seseorang arkeolog biasanya kesulitan untuk memformalkan kriteria signifikan untuk apa yang secara intrinsik "visual", bahwa fitur visual yang berbeda hampir pasti penting untuk penjelasan yang berbeda. Sementara pembuat film dihadapkan pada upaya berfokus pada proses interpretasi film dan terlibat dalam penyelidikan masalah bagaimana makna yang berbeda dari film yang sama dapat hadir dan hidup berdampingan. Pembuat film dihadapkan dengan film sebagai dunia dan penonton film sebagai penafsir, menganggap interpretasi relatif melekat dan kontekstual. Penelitian yang didasarkan pada praktik ini merupakan upaya memberikan kontribusi pengetahuan dengan mengeksplorasi teoritis dan kritis pembuatan film dokumenter, serta menyoroti proses pembuatan film dokumenter arkeologis dalam sudut pandang akademis. Komponen praktis dalam penelitian ini adalah pembuatan film dokumenter dengan subjek kompleks Candi Kedaton di Situs Muarajambi sebagai tempat pembelajaran keagamaan Buddha pada masa lalu. Kajian ini menyelidiki bagaimana pergeseran paradigma baru dalam teknologi digital dan pembuatan film dokumenter dapat memungkinkan pembuat film akademis memproduksi film dokumenter arkeologis melalui pelibatan kreativitas dan subjektivitas sebagai bagian dari praktik akademis tanpa mengorbankan integritas interpretasi.