This Author published in this journals
All Journal Acarya Pustaka
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perkembangan Busana Adat Kepura Masyarakat Hindu Bali Dalam Era Globalisasi dewi merlina; putra yana wardana
ACARYA PUSTAKA Vol 5 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20784

Abstract

Perkembangan Busana Adat Kepura Masyarakat  Hindu Bali Dalam Era Globalisasi Oleh Ni Made Merlina Dwi Heriani (1704071013), I Putu Putrayana WardanaMerlina_dewi205@gmail.com , putra.yana@undiksha.ac.id  PENDAHULUANDewasa ini globalisasi sangat mempengaruhi zaman. Segala aspek menjadi berubah akibat dari arus globalisasi. Termasuk gaya hidup yang suka kebarat-baratan, mulai dari sikap, bicara, maupun dalam berbusana. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah soal penampilan (gaya pakaian). Gaya pakaian menjadi salah satu hal yang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang di era globalisasi saat ini.Tekanan globalisasi dewasa ini memang membawa dampak terjadinya pergeseran etika dalam  berbusana adat ke Pura oleh masyarakat Hindu di Bali. Banyak masyarakat Bali yang  kurang memahami dan juga ada yang tidak mau memahami tentang etika dalam berpakaian ke Pura. Banyak dari meraka terutama kaum perempuan yang memakai model baju kebaya (baju atasan yang sering dikenakan para wanita dalam persembahyangan ke Pura) yang kurang sesuai. Pada dasarnya berbusana tentu akan lebih baik jika disesuaikan dengan aktifitas / kegiatan yang akan dilakukan. Wanita sering kita jumpai mengenakan kebaya dengan bahan transparan dengan kain bawahan (kamen) bagian depan hanya beberapa cm dibawah lutut untuk melakukan persembahyangan. Kita seharusnya mengetahui bahwa pikiran setiap manusia tentu tidak sama, ada yang berpikir positif bahwa itulah trend mode masa kini. Tapi ada yang berpikiran negatif tentu tidak sedikit, inilah permasalahanya bagi orang yang mempunyai  pikiran negatif, paling tidak busana terbuka akan mempengaruhi kesucian pikiran umat lain yang melihatnya.Hal ini bisa terjadi karena pola pikir masyarakat. Mereka tidak mengerti akan makna dari busana adat Bali tersebut. Untuk itu agar tidak terus-menerus keliru, perlu adanya pemberitahuan kepada masyarakat secara umum tentang tatwa dalam berbusana adat Bali. Sehingga masyarakat menjadi lebih paham dang mengerti makna-makna yang terkandung dalam busana adat kepura. Jadi berpakaian ke pura itu di harapkan pakaian yang bisa menumbuhkan rasa nyaman baik yang memakai maupun yang melihat, menumbuhkan rasa kesucian, dan mengandung kesederhanaan. Warnanya pun akan lebih baik yang berwarna tidak ngejreng, karena pakaian bisa menumbuhkan kesucian pikiran.Sebagai masyarakat Hindu Bali sepatutnya mempelajari, memahami dan juga melakasakan etika dalam  berpakaian untuk persembahyangan ke Pura. Pikiranlah yang utama  mengantarkan bhakti kita kehadapan Ida Shang Hyang Widhi Wasa. Dan apabila hanya ingin mengikuti trend dan mode pakaian yang dikenakan bisa menggagu konsentrasi, tentu saja itu akan membuat terganggunya situasi persembahyangan yang khusyuk.
Mengenal Sejarah dan Perkembangan Topeng Sidakarya putu melani candra; putra yana wardana
ACARYA PUSTAKA Vol 5 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ap.v5i1.20788

Abstract

Mengenal Sejarah dan Perkembangan Topeng SidakaryaOleh:Putu Melani Chandra Dewi (1704071005), I Putu Putrayana WardanaPutu_melani18@gmail.com , putra.yana@undiksha.ac.id PendahuluanPulau Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura dan Bali Dwipa. Bali yang sangat terkenal di seluruh Indonesia dan bahkan terkenal di seluruh dunia akan keindahan alam dan dengan seni dan kebudayaannya yang unik tentunya menjadi destinasi wisata manca negara.  Dari kesenian dan kebudayaan yang ada di Bali menjadikan Bali mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat wisatawan datang ke Bali.Masyarakat bali memiliki bentuk seni pertunjukan berupa Tari Topeng yang dapat menarik perhatian para wisatawan Tari Topeng tidak sekedar berfungsi sebagai hiburan, namun sebagian di antaranya menjadi pelengkap dalam sebuah ritual keagamaan biasnya di tarikan pada saat upacaya “yadnya” nanum Tari Topeng tidak hanya hadir dalam prosesi keagamaan di halaman utama Pura namun juga berfungsi dalam upacara perkawinan, potong gigi, hingga upcara ngaben. Tarian Topeng ada sejak abad ke-17, Tari Topeng merupakan suatu bentuk Tari dan juga berisi drama dimana penarinya menggunakan Topeng dan menampilkan cerita-cerita lama, yang biasanya berkisah tentang Raja dan Rahlawan pada jaman dahulu, Tarian Topeng dengan puncak penampilan figur Topeng berkarakter angker yang disebut tupeng sidakarya.Dalam Tari Topeng, setiap penari tampil dengan busana khusus serta mengenakan topeng, dari topeng yang dikenakan oleh seorang penari tersebut akan menunjukkan tokoh yang diperankannya. Adapun jenis-jenis topeng antara lain Topeng keras (sosok petarung), Topeng tua (sosok sesepuh), Topeng bondres (rakyat biasa), dan Topeg ratu (khalangan bangsawan).Tulisan ini akan membahas tentang Mengenal Sejarah Topeng Sidakarya. Adapun yang di bahas dalam tulisan ini antara lain: (1). mengetahui cerita sejarah Topeng Sidakarya di Bali. (2). perkembangan topeng Sidakarya.