Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Konflik dan Integrasi antara Desa Pakraman dan Tempekan Suka Duka: Dinamika Sosial Budaya di Desa Blahbatuh, Gianyar-Bali I Made Purana
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v8i1.40265

Abstract

Tulisan ini bertujuan menganalisis isu-isu tertentu mengenai konflik dan integrasi antara masyarakat tersebut, khususnya antara Desa Pakraman sebagai kelompok mayoritas dengan Tempekan Suka Duka sebagai kelompok minoritas yang telah mengakar sedemikian lama (sejak 1961) dan akhirnya berakhir pada tahun 2006, berdasarkan komitmen antara dua kelompok oleh tokoh-tokoh lokal dan pemerintah Gianyar atau pemerintah daerah. Namun, penelitian ini akan melihat mengapa konflik terjadi dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah bersama mereka? Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa isu penting terkait dengan isu-isu tersebut. Pertama, bagaimana posisi antara dua kelompok tersebut di desa Blahbatuh? Kedua, mengapa mereka mengalami konflik dan integrasi? Dan ketiga, apa yang bisa kita pelajari dari penelitian ini? Semua persoalan tersebut akan dianalisis dalam konteks pendekatan Cultural Studies seperti teori dekonstruksi, semiotika, hipersemiotika dan praktik sosial untuk dapat memahami dinamika kelompok-kelompok tersebut di Desa Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang konflik dan integrasi antara Desa Pakraman Blahbatuh dengan Tempekan Suka Duka terjadi karena latar belakang sejarah dan adanya perbedaan ideologi. Kondisi ini membawa implikasi pada peningkatan pengetahuan krama desa di bidang hukum adat dan pengetahuan krama desa di bidang agama terutama mengenai simbol suci agama Hindu.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Disiplin Pada Anak Dalam Lingkungan Keluarga I Ketut Rindawan; I Made Purana; Fransiska Kamilia Siham
Jurnal Pacta Sunt Servanda Vol 1 No 2 (2020): September, Jurnal Pacta Sunt Servanda
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.301 KB) | DOI: 10.23887/jpss.v1i2.361

Abstract

The parenting style of the parents has a very big influence on the formation of the child's personality. This pattern of behavior is immediately felt by children, be it positive behavior or negative behavior. Character are the values of human behavior related to God Almighty, self, fellow human beings, the environment, and nationality which are manifested in thoughts, attitudes, feelings, words, and actions based on religious norms, law, karma, culture. , and customs. Based on this fact, the researcher wanted to examine the influence of parenting styles in the formation of disciplinary characters in children in the family environment in Wae Kelambu, Komodo Manggarai Barat sub-district. This study aims to determine the influence of parenting styles in the formation of disciplinary characters in children in the family environment. This type of research is descriptive using a qualitative approach, the research subjects are some parents who practice parenting. The techniques used in writing scientific papers are observation techniques and interview techniques. The data were analyzed descriptively qualitatively. Parenting patterns play an important role in fostering the development of children's character. In the Wae Kelambu sub-district, Komodo Manggrai Barat Subdistrict, West Manggrai, East Nusa Tenggara adopts authoritarian parenting, democratic parenting, and permissive parenting. A decision is made jointly by considering both parties. Children are given the freedom to be responsible, which means that what the children do must still be under the supervision of their parents and can be morally responsible. Suggestions for planting good characters in this research site are at least maintained and maximally improved.
Study Of Critical Disadvantages System Catur Varna To Concept Catur Kasta In Civil Society Bali Hindu I Made Purana
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.744 KB) | DOI: 10.37329/kamaya.v5i1.1524

Abstract

The people apanage of Bali know the concept of Kasta. Such stratification creates different views between the Tri Wangsa and jaba groups. The Tri Wangsa want an acribed status, whereas the Sudra or Jaba group want the achieved status, which in turn leads to polemics among the people of Bali apanage. As a qualitative study with a cultural perspective, this study aims to reveal and analyze more clearly the blurring of the varna system into a kasta concept in Balinese Hindu society. Data sources are extracted based on bibliographic or documentary data. Data collection using reading techniques and recording techniques. Data analysis on the problem is done by qualitative descriptive analysis and comparative analysis. The results showed that the blurring of the varna system into a kasta concept is inseparable from the royal politics of its time. The traditional educational system originating from Hindu literature and religion can only be enjoyed by the upper layers, the brahmins and the knights, while the sudra or jaba classes are strictly prohibited. The Kasta architects of Bali in the past few centuries, so expertly exploit the situation of the backwardness of Hindus outside the brahmans and the knights, so the teachings of Hinduism are manipulated in terms of caste naming. The elements of caste plagiarize the elements of varna that are indeed Hindu teachings. In addition, Dutch colonial politics is also very influential on the order of life in Bali, which causes problems in the system of social status. The Dutch government has not fully implemented the modern system of government. This is evident in the system of appointment of new employees (civil servants). The Dutch government has not carried out according to rational legal criteria, but still uses the traditional system of judging a person in terms of the height of the Kasta, not in terms of ability. Therefore, it is necessary to increase knowledge of village manners in the field of customary law and knowledge of village manners in the field of religion according to what is stated in the Hindu scriptures.
Polemik Ideologi Dalam Bali Adnyana Dan Surya Kanta: Perspektif Kajian Budaya I Made Purana; Ida Ayu Putu Sri Mas Sunariyanti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 5 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i5.7389

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena dalam Bali Adnyana dan Surya Kanta dipolemikkan masalah ideologi yang tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Dalam menafsirkan ideologi yang tidak sesuai dengan kemajuan zaman itulah letak perbedaan yang kontras diantara keduanya. Sumber data digali berdasarkan data dokumenter. Pengumpulan data primer menggunakan teknik pembacaan dan teknik pencatatan. Pengumpulan data sekunder menggunakan teknik kepustakaan. Analisis terhadap permasalahan dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab polemik ideologi dalam Bali Adnyana dan Surya Kanta adalah sebagai berikut. Perkumpulan surya kanta dituduh sebagai sarang komunis. Pesatnya perkembangan perkumpulan Surya Kanta yang dalam sepak terjangnya sangat anti kasta menimbulkan kemarahan dan kejengkelan golongan tri wangsa. Untuk menanggulangi pesatnya perkembangan Surya Kanta tidak ada jalan lain kecuali membuat fitnah dengan tuduhan yang dapat menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda. Tuduhan yang paling mudah adalah tuduhan dengan menyangkutkan kelompok Surya Kanta dengan kemajuan gerakan Partai Komunis Indonesia. Pembelaan Surya Kanta atas tuduhan penganut paham komunis. Kaum jaba sangat menentang ketidakadilan, dominasi dan hegemoni dari kaum tri wangsa. Golongan jaba memperjuangkan kesetaraan. Mereka tidak menganut paham komunis, karena perjuangan mereka adalah berdasarkan Weda, yang tidak membenarkan ketidakadilan.