ABSTRAKBanjir terjadi karena hujan lebat dengan sebaran merata dan dalam durasi relatif lama pada suatu wilayah cekungan atau dataran. Menurut tempat kejadiannya, banjir dikelompokkan menjadi empat jenis banjir yaitu banjir bandang, banjir kota, banjir pesisir, dan banjir sungai. Wilayah banjir ini dapat dipetakan dengan bantuan citra satelit, foto udara kemudian diintegrasikan dengan data Shuttle Radar Thematic Mapper (SRTM), bentuklahan, ditambah historis kejadian banjir. Data historis kejadian banjir sangat jarang didokumentasikan dalam bentuk peta poligon atau suatu area yang menggambarkan sebaran genangan, melainkan secara umum berupa titik-titik yang pernah tergenang. Luas genangan banjir akan berubah tergantung pada intensitas dan lama hujan, dengan demikian validasi sangat ideal dilakukan ketika terjadi banjir besar yang akan menunjukkan batas-batas genangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi peta rawan banjir daerah Pati dan Kudus yang sudah dipetakan pada tahun 2008 dengan membandingkan kembali kejadian banjir bulan Februari 2014. Peralatan yang digunakan adalah GPS untuk melakukan pengamatan pada titik-titik batas tergenang dan pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pengambilan foto udara pada batas-batas wilayah tergenang. Dari foto UAV bisa ditunjukkan batas genangan banjir, sawah, dan permukiman yang terendam banjir. Berdasarkan hasil pengamatan pada lima stasiun hujan ditunjukkan bahwa intensitas curah hujan tahun 2008 hampir sama dengan yang terjadi pada 2014 dengan pola sebaran banjir juga hampir sama. Setelah dilakukan pengamatan di beberapa titik dengan GPS dan foto UAV, peta rawan banjir menunjukkan ketelitian yang cukup baik.Kata Kunci: banjir, peta rawan banjir, UAVABSTRACTFlood occurs due to heavy rainfall that spread evenly in a basin within a relatively long duration. Based on its location, flood can be grouped into four types, namely flash flood, town flooding, coastal flooding and river flooding. The flood region can be mapped by using satellite imagery and aerial photography. Those data then was integrated with SRTM, landform, and historical flood data. Historical of flood events are rarely documented in the form of a polygon map or an area that describes the distribution of the flood inundation, but generally reported in the form of points that indicated the flooding locations. The spread of inundation would varies depending on the rainfall intensity and duration, thus the ideal validation is done during the occurrence of big flood to identify the limit and extent of flood area. This study aims to validate flood susceptibility maps of Pati and Kudus area that had been mapped in 2008, by comparing with the floods that occurred in February 2014. The equipment used were GPS as a tool to assist in observing the point of floodâs boundaries and Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for collecting aerial photo of the flooded area boundaries. The boundary of flood waters can be seen from the photos of UAV including the flooded fields and settlements area. Meanwhile, based on the observations in five rainfall stations, the rainfall in 2008 almost at the same intensity as that occurred in 2014, with the distribution pattern of flooding is also about the same. Based on the observations made at several points marked using GPS and UAVâs photos, it shows that the flood susceptibility map of 2008 considered in a good accuracy.Keywords: flood, flood susceptibility map, UAV