Heri Suryanto
Balai Penelitian Kehutanan Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16 Makassar, Sulawesi Selatan, Kode Pos 90243 Telp. (0411) 554049, Fax. (0411) 554058

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISA KERUSAKAN STRUKTUR PERKERASAN ASPAL DAN PERENCANAAN PERBAIKAN JALAN PADA RUAS JALAN PULAU SEBATIK KOTA SAMARINDA SURYANTO, HERI
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.84 KB)

Abstract

Jalan merupakan sarana transportasi dalam peningkatan perekonomian dan memperlancar hubungan berbagai daerah dalam peningkatan pembangunan disuatu wilayah. Sebaliknya bila jalan yang digunakan sebagai sarana transportasi mengalami kerusakan arus dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan lainnya ikut terhambat. Jalan yang rusak juga dapat mengakibatkan kecelakaan bagi pengguna jalan tersebut, sehingga keselamatan pengguna jalan harus diutamakan.Lapisan perkerasan sering mengalami kerusakan atau kegagalan sebelum mencapai umur rencana. Kerusakan pada perkerasan dapat dilihat dari kerusakan fungsional dan struktural. Kegagalan fungsional adalah apabila  perkerasan tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan yang direncanakan dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan. Sedangkan kegagalan struktural terjadi ditandai dengan adanya rusak pada satu atau lebih bagian dari struktur perkerasan jalan yang disebabkan lapisan tanah dasar yang tidak stabil, beban lalu lintas, kelelahan permukaan, dan pengaruh kondisi lingkungan sekitar (Yoder dan Witzak, 1975).Ruas jalan yang di Kota Samarinda sebagian jalannya adalah jalan utama yang menguhungkan antar kota dengan kota lain dalam wilayah sedangkan lainnya adalah jalan dalam kota yang menguhungkan pada pusat setra bisnis, perkatoran dan antar kecamatan dalam kota. Lapis perkerasan yang ada rata-rata berupa perkerasan lentur dan ada juga sebagian perkerasan kaku. Lapis perkerasan lentur dibeberapa ruas jalan ada yang mengalami kerusakan terutama pada lapis permukaan perkerasan lentur. Jenis kerusakan antara lain retak, terkelupas, berlubang, bergelombang dan beralur.  Sebagian jalan yang mengalami kerusakan lama tidak dilakukan perawatan dan perbaikan, sehingga kerusakan yang ada bertambah dan banyak yang berlubang.
Planting of Nectar Plants as Feed of Butterflies Imago in Bantimurung Bulusaraung National Park Suryanto, Heri; Mangopang , Albert Donatus
Jurnal Wasian Vol. 10 No. 02 (2023): December
Publisher : Forestry Department, University of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62142/g2s0xx92

Abstract

Bantimurung Bulusaraung National Park is a forest area designated as a conservation area in Sulawesi. The diversity of flora and the presence of unique wildlife supported by the karst ecosystem are the basis for the protection of thia area. Community presure and habitat destruction is the causes of decreasing butterfly populations. Habitat rehabilitation need to be carried out in order to maintain the butterfly population. The understanding of diversity of butterfly species and the selection of protective tree species and animal nests or food are important aspects for sustainableliyty. Most of the types of forage plants are unknown species, so an understanding of planting methods in the field is needed. The research was conducted in observing the diversity of Rhopalocera (butterfly) species as a preliminary research and planting nectar-producing plants as the main research. Research result showed that Nymphalidae family is highest in species diversity index, Nymphalidae and Papilionidae family are highest in richness index, and all famiies are lowin species dominance index and evenness index. Nimphalidae and Papilionidae family is the largest species has been found. Planting nectar plants i.e mali-mali and dao on degraded land with fertilization treatment showed the best results are 600 grams per planting hole for mali-mali and 900 grams per planting hole for dao.