Daru Winarti
Departemen Bahasa Dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Memaksimalkan Potensi Literasi Bahasa dan Budaya Jawa di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo Daru Winarti
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.235 KB) | DOI: 10.22146/bb.41080

Abstract

Galur Subdistrict is an area that has abundant art and tradition potential and is in great demandby its people. Unfortunately, the art performances and traditions that are carried out only aim merelyto continue what have been done through generations. On the other hand, the influx of modernarts has become a threat to preserving traditional culture, especially among young people who aresupposed to be the guardians of the traditions. Tis encourages Javanese Literature Study Programto carry out a community service program consisting of a series of training program as the StudyProgram’s concern and real action for cultural preservation.The training program is carried out through mentoring in motivating, counseling, education,discussion, and consultation. By using such mentoring techniques, it is expected that the result of theprogram will be optimum, namely raising public awareness to increase language literacy, knowledgeof literature, and the knowledge of the art performances they have. In turn, they will be able tomanage the performances as a professional art performance organizer in the region.The outcomes of the community service program comprise the increasing ability of participants inreading and writing simple texts using Javanese alphabet, participants’ ability to compose macapatsongs and sing them, the participants’ ability to write Javanese poems with the rinengga language,the participants’ ability create a series of dances and nursery rhymes to be performed, and theparticipants’ ability to become masters of ceremonies. In addition, three versions of Folklore aboutK.R.T Kertinegara are also collected
Petangan Jawa: Installing traditional values in names Ajar Pradika Ananta Tur; Aris Munandar; Daru Winarti
NOTION: Journal of Linguistics, Literature, and Culture Vol. 5 No. 1 (2023): NOTION: Journal of Linguistics, Literature, and Culture
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/notion.v5i1.6891

Abstract

This research contributes to investigate a cultural continuity, particularly naming practice, in a homogenous Javanese community installing Petangan Jawa (Javanese Calculations). However, common Javanese slowly ignore it. This study employs a descriptive qualitative approach with fieldwork to investigate the intention behind the name. Therefore, two varieties of Petangan Jawa, namely, a calculation based on calendar properties and a calculation based on Javanese script values, are still consistently used. In addition, this study paves the way for future research on the causes of the gradual abandonment of Petangan Jawa among common Javanese and how the perspective of religious beliefs about Petangan Jawa is used to predict the future.
Collocations of verb + time in English and verb + waktu in Indonesian: A Corpus-Driven Study of Time Metaphors Icuk Prayogi; Tri Mastoyo Jati Kesuma; Daru Winarti
Ahmad Dahlan Journal of English Studies Vol. 9 No. 2 (2022): September
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/adjes.v9i2.214

Abstract

Time is one of the salient concepts in human life since we live and act in time. Thus, research investigating time is always intriguing yet perplexing. This study aims to describe the collocations of verbs with the most frequent lexical item for temporal concept, i.e., time. The present study also compared the collocations to those in Indonesian counterparts, that is verb + waktu. This is a corpus-driven study using two reference corpora, Corpus of Contemporary American English for English data, and Leipzig Corpus Collection for Indonesian data. The association measure used to identify the verb collocates is Mutual Information (MI) and the results of collocates in both languages were compared. The result of the study shows that there are 15 most frequent verb collocates of time and waktu for both English and Indonesian, e.g., have, spend, take, membutuhkan, memanfaatkan, memerlukan, etc. Of all these collocates, there are some similarities and differences that can be mapped. The similarities are associated with basic mappings of time metaphor, e.g., TIME IS MONEY, TIME IS A RESOURCE, TIME IS A COMMODITY, and TIME IS MOTION. Despite the similarity, some differences are also identified which might be affected by limited number of verb collocates analyzed in the present study (e.g., TIME IS A FLEXIBLE OBJECT, TIME IS A CONTAINER, TIME IS A BEING, TIME IS A VICTIM). The results of the study can be used as a reference for teachers in teaching or designing teaching materials on time expressions or time metaphor.
Menjajaki Relevansi Folklor dengan Toponimi Lima Desa Kawasan Situs Adipati Panjer sebagai Pemertahanan Konstruksi Sejarah Lisan : Kajian Linguistik Antropologis Eliesa Ratih Anggraeni; Daru Winarti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Tiga (3) Negara: Indonesia, Taiwan dan Jor
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/qcy6ey10

Abstract

Penelitian ini membahas toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, yang berkaitan dengan folklor tentang peperangan antara Adipati Panjer dan Gendam Semaradana. Kajian ini bertujuan mengungkap makna dan fungsi penamaan lima desa di kawasan tersebut yaitu Gondang, Kenep, Kayunan, Jarak, dan Kalasan berdasarkan perspektif linguistik antropologis dan semiotika Ferdinand de Saussure, serta klasifikasi makna toponimi menurut Sudaryat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi data yang melibatkan wawancara mendalam dengan juru kunci dan kepala desa, observasi lapangan, serta studi literatur terhadap naskah Babad Khadiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penamaan lima desa di sekitar Situs Adipati Panjer merefleksikan nilai-nilai historis, geografis, dan budaya masyarakat setempat yang berakar pada folklor. Temuan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa konsep arbitraritas bahasa yang dikemukakan Ferdinand de Saussure berlaku pada penamaan desa yang berasal dari latar belakang folklor, seperti desa Gondang mempunyai makna referensial kebo ghondangen, desa Kenep mempunyai makna nginep, desa Kayunan mempunyai makna ayun, desa Jarak mempunyai makna pohon jarak, desa Kalasan mempunyai makna alas. Berdasarkan klasifikasi makna toponimi Sudaryat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, Desa Gondang dan Kayunan menunjukkan aspek kebudayaan, Kenep menunjukkan aspek kemasyarakatan, sedangkan Jarak dan Kalasan merepresentasikan aspek perwujudan atau alam. Dengan demikian, toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai sistem tanda budaya yang menyimpan sejarah lisan di Kabupaten Kediri dan pemertahanan identitas daerah.
Kontrol Budaya Tameme terhadap Variasi Bahasa Vulgar pada Gender Penutur Bahasa Lauje di Kecamatan Ampibabo Lita Safitri; Daru Winarti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/9k7r7y97

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis serta memetakan perbedaan penggunaan variasi bahasa vulgar akibat kontrol budaya berbahasa tameme pada penutur bahasa Lauje di Kecamatan Ampibabo pada tataran lingual, semantik, serta menerangkan fungsi pemakaian bahasa vulgar yang digunakan penutur untuk mengekspresikan tujuannya melalui variasi bahasa Vulgar. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif. Sumber data penelitian  menggunakan data tuturan spontan Penutur Bahasa Lauje Kecamatan Ampibabo dengan objek penelitian  Laki-laki dan Perempuan dengan minimal usia 20 tahun yang telah memahami pemakaian leksikon bahasa vulgar berupa wujud lingual, semantik, dan fungsi bahasa vulgar dalam berinteraksi. Teknik pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara, perekaman, pencatatan langsung di lapangan. Peneliti berperan menjadi instrumen penelitian perencana, pelaksana, pengumpul data, dan analisis data. Lokasi Penelitian berada di Desa Buranga dan Desa Ampibabo, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan hasil temuan data, terdapat perbedaan penggunaan variasi bahasa vulgar pada laki-laki dan perempuan pada tataran lingual yang berupa verba, nomina, adjektiva dan klausa, pada tataran semantik terdapat perbedaan pemilihan bahasa dengan laki-laki yang cenderung menggunakana bahasa halus bermakna konotatif dan perempuan cenderung bahasa secara terang-terangan berupa majas, referen, serta terdapat penggunaan bahasa vulgar dari hasil peyoratif yang cenderung digunakan oleh perempuan. Terdapat tiga fungsi penggunaan bahasa vulgar seperti fungsi ekpresi, fungsi keakraban, serta fungsi penegasan situasi tutur.
A critical reflection on masculine language in Coates’ theory: A case study of female leaders’ speech in Indonesia Libra Dui Putra; Daru Winarti; Wiwik Retno Handayani; Randi Saputra; Silvia Marni; Kamruzzman Khandoker
Linguistics Initiative Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27753719.61397

Abstract

This study conducts a critical examination of masculine language features used by female leaders in the public sphere in Indonesia. Based on Coates' (2015) theory of masculinity, this research aims to analyze three main features of masculine language: swearing and taboo language, commands and directives, and questions. The method employed is a qualitative approach based on narrative and content analysis, with secondary data derived from speeches found on relevant YouTube channels. The use of swearing and taboo language serves to assert their dominance in certain situations, while the use of commands and directives demonstrates control and authority. Additionally, rhetorical questions, often associated with masculinity, are used to challenge rigid gender norms. This study shows that masculine language features are not exclusive to men but can also be utilized by women. This research opens new space for discussions about dynamic linguistic identities in social life, particularly in the context of female leadership.