Suray Agung Nugroho
Prodi Bahasa Dan Kebudayaan Korea, Universitas Gadjah Mada

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendampingan EPS-TOPIK (Employment Permit System–Test of Profciency in Korean) bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dari Propinsi D.I. Yogyakarta Suray Agung Nugroho
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.006 KB) | DOI: 10.22146/bb.45042

Abstract

The relatively low numbers of Indonesian migrant workers who passed the EPS-TOPIK (Employment Permit System–Test of Profciency in Korean) as a prerequisite to work in Korea as well as the relatively small numbers of Korean language instructors with experiences and backgrounds in Korean language teaching are the rationales that prompted Korean Language and Culture Program, Faculty of Cultural Sciences UGM to carry out this Community Engagement Activity. As an initial engagement, we carried out an EPS TOPIK Try Out test to 48 migrant worker candidates who currently learn Korean language at 5 Korean Language Courses in Yogyakarta Province. Tis is the frst engagement activity planned to be carried out continuously as our endeavor to solve the aforementioned problems. Based on the results of the Try Out test, we observed that they need to brush up their Korean competency in understanding Korean conversations and in using vocabularies in the right context. We will use these initial fndings as a basis to make a Learning and Teaching Material suitable for both the learners and the instructors. We plan to make the materials by incorporating both the learners and the instructors’ difculties in learning and teaching Korean language with EPS-TOPIK as the starting point. It is also worth to note that in many Korean Language Courses across the country, the main Korean language instructors are the returned migrant workers themselves. Albeit being able to write and talk in Korean, they had no prior educational background of Korean language. Tus, we also plan to continue setting up methods to teach them Korean language in a series of Training for Trainers program (the next Community Engagement Activities) in cooperation with related institutions like BNP2TKI (Agency for the Protection and Placement of Indonesian Migrant Workers). We deem it necessary to go on with the plan as the Government to Government Agreement between Korea and Indonesia in dispatching Indonesian migrant workers to Korea is still in effect.  =================================================================Belum maksimalnya tingkat kelulusan para calon pekerja migran Indonesia (PMI) dalam ujian EPS-TOPIK (Employment Permit System–Test of Profciency in Korean) serta masih kurangnya jumlah pengajar bahasa Korea yang berlatar belakang pengajaran bahasa Korea di lembagalembaga pelatihan bahasa Korea mendorong Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UGM untuk memulai sebuah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tema yang  berkaitan dengan problema tersebut. Untuk itulah, sebagai langkah awal, prodi mengadakan try out ujian EPS-TOPIK kepada 48 calon PMI yang tengah belajar bahasa Korea di lima Lembaga Kursus & Pelatihan (LKP) Bahasa Korea di Provinsi DIY. Kegiatan ini adalah PkM perdana yang didesain untuk dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai kontribusi langsung dalam pemecahan masalah. Berdasarkan hasil try out yang menunjukkan masih perlu ditingkatkannya kemampuan bahasa Korea para peserta, terutama dalam hal memahami percakapan dan pemakaian kosakata secara tepat, maka prodi berencana untuk menggunakan hasil ini sebagai landasan untuk membuat bahan ajar terkait EPS-TOPIK yang dapat digunakan oleh peserta didik ataupun para pengajar dalam mempelajari dan mengajarkan materi-materi dalam EPSTOPIK (Rencana PkM tahap 2). Selanjutnya, prodi bekerja sama dengan BP3TKI dan instansi lainnya berencana untuk menyelenggarakan Training of trainers, yaitu lokakarya pengajaran bahasa Korea untuk para pengajar bahasa Korea di LKP LKP seluruh Indonesia (Rencana PkM tahap 3). Semua itu didasari dengan fakta bahwa kerja sama Goverment to Government (G to G) antara Korea dan Indonesia dalam pengiriman PMI terus berjalan. Oleh karena itu, kegiatan PkM berkelanjutan ini didesain untuk memberikan sumbangan awal prodi dalam mengatasi rendahnya penyerapan calon PMI ke Korea yang disebabkan oleh rendahnya kemampuan bahasa Korea para calon PMI.
Training of Trainers (TOT) bagi Para Instruktur Bahasa Korea di LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Bahasa Korea di Indonesia Suray Agung Nugroho
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.558 KB) | DOI: 10.22146/bb.50955

Abstract

The community service (Pengabdian kepada Masyarakat/PkM) held in 2019 is a continuation of PkM which was carried out in 2018 on how LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) instructors and students interpret the EPS TOPIK (Employment Permit System – Test of Proficiency in Korean Language). Based on the assessment of the ability and weaknesses of prospective PMI (Pekerja Migran Indonesia=Indonesian Migrant Workers) in understanding Korean, the Korean Language and Culture Program conducted the second PkM which was specifically intended for instructors at LPK through Training of Trainers (ToT). The ToT participants were 30 instructors, members of PELBAKORI (Association of Korean Language LPK in Indonesia). The material provided in this ToT were: (a) Important steps to mastering Korean vocabulary and grammar and (b) Points to ponder in understanding Korean culture.--------------------------------------------------------------PkM yang dilakukan pada tahun 2019 ini adalah kelanjutan dari PkM yang dilaksanakan pada tahun 2018 tentang bagaimana instruktur LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) dan peserta didik memaknai EPS TOPIK (Employment Permit System-Test of Proficiency in Korean Language). Berdasarkan asesmen kemampuan dan kelemahan para calon PMI (Pekerja Migran Indonesia) dalam memahami bahasa Korea yang telah diperoleh dalam kegiatan PkM tahap pertama, Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea merancang PkM kedua yang khusus ditujukan untuk para instruktur di LPK, yaitu Training of Trainers (ToT) bagi pengajar bahasa Korea di LPK-LPK Bahasa Korea. Peserta ToT berjumlah 30 instruktur di LPK penyelenggara kursus bahasa Korea yang tergabung dalam PELBAKORI (Perhimpunan LPK Bahasa Korea se-Indonesia). Materi yang diberikan dalam ToT ini adalah (a) langkah-langkah penting dalam menguasai tata bahasa dan kosakata bahasa Korea dan  (b) pengetahuan sekitar budaya Korea. 
Tingkat Tutur Pengisi Fungsi Subjek Bahasa Korea dan Bahasa Jawa Iva Hanani; Suray Agung Nugroho
JLA (Jurnal Lingua Applicata) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jla.57392

Abstract

The aim of this study is to explain Korean and Javanese subject honorific and identify its similarities and differences. To accomplish it, this research was conducted using literature review method. Data related to the Javanese language were taken from two Javanese drama scripts, namely Mak Ana Asu Mlebu Ngomah and Bantul Sangsaya Pinunjul, and Javanese drama titled Sri Ngilang by George Quinn. Korean language data was taken from television drama, Misaeng and Fight for My Way. Based on the analysis that has been carried out, despite the difference of the honorific system of Korean dan Javanese, Javanese has subject honorific as described in the Korean honorific system. Both languages use words that have honorific meaning to honor the subject and use words that are usually used for the animal to dishonor the subject of the sentence. The difference between both languages on subject honorific is Korean subject honorific is mainly realized grammatically, whereas in Javanese is realized lexically. In addition, there are rules from the Korean government regarding the use of one type of subject honorific, abjonbeob, whereas in Javanese there are no rules related to the use of speech level.
ORIENTASI PENERJEMAHAN IDIOM BAHASA KOREA DALAM WEBTOON “TOUCH TOUCH YOU” Dewi Rusyana; Suray Agung Nugroho
Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 21 No 2 (2022): Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 21 Nomor 2 Juli 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/bahtera.212.01

Abstract

Salah satu hambatan penerjemahan adalah ketika terdapat unsur-unsur budaya seperti idiom. Saat itulah diperlukan teknik dan metode penerjemahan untuk mengatasi hambatan pada penerjemahan idiom. Terkait dengan hal tersebut, dalam penelitian ini ditemukan beberapa teknik dan metode yang terlihat pada hasil terjemahan idiom berbahasa Korea dalam webtoon “Touch Touch You”. Data yang berupa idiom-idiom dalam webtoon tersebut diidentifikasi teknik dan metode penerjemahannya berdasarkan teori teknik penerjemahan oleh Molina dan Albir (2002) dan metode penerjemahan oleh Newmark (1988). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik yang paling banyak ditemukan adalah teknik padanan lazim sebesar 66,7%, sedangkan metode yang mendominasi adalah metode yang berorientasi pada bahasa sasaran. Hal ini mengindikasikan bahwa penerjemah webtoon tersebut cenderung lebih mengutamakan pesan di dalam idiom Korea agar mudah dipahami para pembaca Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, orientasi penerjemahan idiom-idiom dalam webtoon ini tetap mempertahankan konteks budaya Korea sehingga hasil penerjemahan yang terlihat tetap alami bagi pembaca Indonesia. Akan tetapi, meski penerjemah sudah menggunakan padanan yang lazim, hal tersebut tidak menjamin pesan yang terkandung dalam idiom dapat tersampaikan dengan benar karena terkadang terdapat hambatan pemahaman budaya maupun konteks oleh penerjemah.