Kalium merupakan salah satu hara makro primer bersama hara N dan P, yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak. Kekurangan hara K salah satunya dapat menyebabkan transportasi fotosintat ke biji tidak lancar atau terhambat. Ketersediaan hara K dalam tanah sawah bervariasi yang tergantung pada sifat kimia tanah yang lain. Makalah ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik hara K tanah sawah, sumbangan hara K dari air irigasi dan jerami sisa hasil panen, serta respon pemupukan terhadap hasil padi. Ketersediaan hara K, selain dipengaruhi komposisi mineral liat, kandungan liat, C-organik dan KTK tanah, juga dipengaruhi oleh pemupukan N, pH tanah, Ca dan Mg-dd serta N-total. Kandungan K potensial dan K-dd semakin meningkat pada lahan sawah terutama di Pulau Jawa bagian timur karena mempunyai tanah dengan bahan induk kaya mineral kalium. Kandungan K-dd sangat erat hubungannya dengan K potensial dengan R2 = 0,53 (n=73). Berdasarkan peta status hara K Lahan sawah skala 1:250.000 di 23 provinsi di Indonesia, diketahui bahwa sebagian besar lahan sawah berstatus K sedang 37% dan tinggi 48%. Kadar K dalam tanah sawah yang berasal dari air irigasi sebesar 7-74 kg K/ha/musim. Jika semua jerami padi sisa hasil tanaman dikembalikan ke lahan, kebutuhan hara K untuk tanaman padi sudah tercukupi terutama pada sawah berstatus hara K sedang dan tinggi. Respon pemupukan K pada tanaman padi akan terlihat nyata apabila tanah mengandung K-dd < 0,10 cmol(+)/kg. Implikasi kebijakan dari makalah ini adalah bahwa pemupukan K dapat difokuskan pada lahan sawah dengan kandungan K rendah, efektivitas pemupukan K dapat ditingkatkan dengan pengembalian jerami padi sisa hasil panen dan pemupukan N yang tepat.