Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

MODEL KEWIRAUSAHAAN SOSIAL PADA KOMUNITAS MUSLIM RUMAH HARAPAN KARANGPATIHAN BANGKIT Nur Izza Safira; Charolin Indah Roseta
KABILAH : Journal of Social Community Vol. 6 No. 1 (2021): Juni
Publisher : LP2M IAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35127/kbl.v6i1.4411

Abstract

Pengembangan masyarakat Islam merupakan sebuah proses peningkatan kualitas hidup manusia dalam masyarakat untuk dapat mengembangkan diri dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Dalam hal ini Islam mengajarkan prinsip keadilan sosial kepada setiap insan termasuk kepada kaum tunagrahita yang oleh karena keterbatasannya memerlukan suatu program kesejahteraan sosial yang dapat mengangkat derajat hidupnya salah satunya dengan program Kewirausahaan sosial. Tulisan ini mendeskripsikan tentang model kewirausahaan sosial RHKB yang sukses diterapkan pada kaum tunagrahita dengan indikator kemandirian ekonomi dan peningkatan status sosial di masyarakat. Studi terdahulu tentang tema pemberdayaan RKHB telah banyak dilakukan, namun belum ada yang membahas model kewirausahaan sosial yang sukses diterapkan dengan konteks khusus seperti kaum disabilitas intelektual muslim di Karangpatihan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif dengan jenis kajian pustaka. Temuan yang dihasilkan adalah Keberhasilan RHKB tidak terlepas dari model kewirausahaan yang dipilihnya yaitu cenderung sama seperti hybrid social entreprise namun tetap memiliki karakteristiknya sendiri terutama pada indikator revenue stream dan goal organization karena adanya penyesuaian dengan kondisi tunagrahita itu sendiri.
Jaringan Komunikasi Sosial Komunitas Tempe Tenggilis dalam Rangka Bertahan Hidup di Surabaya Charolin Indah Roseta
Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam Vol 12 No 1 (2020): September 2020
Publisher : IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/darussalam.v12i1.1175

Abstract

This paper studies a unique phenomenon that in the middle of economic pressure, a lack of resource access, and high-level life competition, urban migrants can survive in a city by optimizing traditional communication networks in Tempe industry. This field-research study uses a phenomenological approach through participative observation and in-depth interviews. It indicates the patronage pattern, in the form of business patronage system conducted by tempe maker community, gives a chance for migrants to be able to survive in the city. Interaction patterns between soybean suppliers and tempe makers can save them from the crisis. The moral value of “sabaya pati, sabaya mukti” becomes a core message for the clients in conducting verbal and nonverbal communication networks with their patron. This is a sustainable life guarantee so that tempe makers in 3 Tenggilis clusters remain survive in Surabaya with their limits.
DAKWAH ANTARBUDAYA: PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PADA PROSES ISLAMISASI JAWA ABAD XV Charolin Indah Roseta
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.893 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v1i2.45

Abstract

Fenomena dakwah antarbudaya dalam rangka perubahan sosial-budayatidak semuanya menghasilkan cultural conflict sebagaimana umumnya terjadi.Walisongo adalah perintis jalan penyebaran Islam di tanah Jawa secara revolusionerpada abad XV. Bentuknya berupa perubahan pemikiran masyarakat Jawa yangpoliteis Hindu Buddha menjadi monoteis Islam Sufi dalam waktu yang relatif singkatnamun tanpa menimbulkan gejolak sosial. Adapun fokus tulisan ini adalahbagaimana bentuk dan strategi perubahan sosial budaya dalam dakwah Walisongoangkatan V di Jawa abad XV yang bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk danstrategi perubahan sosial-budaya dalam misi Islamisasi yang dilakukannya. Denganpendekatan historis antropologis ditemukan bahwa misi dakwah Walisongomerupakan jenis perubahan sosial terencana dengan tahapan yang tersistematisdan strategis karena memanfaatkan infrastruktur local wisdom Jawa. Kajian inimendapati bahwa proses pengadopsian nilai Islam pada masyarakat Jawa tidaklepas dari peran agen perubah budaya yang dimotori oleh Sunan Ampel setelahmampu memanfaatkan momentum krisis sosial-politik di Majapahit kala itu. Sedariawal ia membidik kalangan keraton dan bangsawan Jawa untuk melakukan"kaderisasi agen" dakwah. Strategi umumnya adalah dengan melakukan beberapamodifikasi pada berbagai sektor kehidupan masyarakat Jawa seperti pendidikan,ritual, bahasa, dan kesenian lokal menjadi lebih bernapaskan Islam.
Peran Enabler Agen dalam Pemberdayaan Masyarakat Islam Agraris Tradisional: Studi Kasus Desa Karanganyar, Pacitan Roseta, Charolin Indah
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v5i2.268

Abstract

Fenomena dakwah bil hal dan transformasi sosial pada masyarakat agraris memiliki tantangan tersendiri. Studi terdahulu membuktikan bahwa peran agen sangat signifikan dalam pengembangan masyarakat Islam lewat pemberdayaan berbasis aset. Namun belum ada yang mengulas tentang bagaimana proses transformasi sosial dapat dilakukan secara efisien. Oleh karenanya menarik untuk dikaji peran enabler sebagai pemantik perubahan sosial. Adapun Kades Karanganyar mampu menjalankan peran tersebut sehingga menggerakkan partisipasi masyarakat lewat program wisata bernama Kaliklepu. Studi ini diorientasikan untuk menganalisis bagaimana sang Kades dapat mengoptimalkan peran enabler sedemikian rupa sehingga berhasil memberdayakan desa yang terkendala masalah mental pesimis dan inferior menjadi masyarakat yang aktif dan partisipasif. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi lewat observasi dan interview mendalam kepada beberapa informan kunci serta berpijak pada analisis teori ABCD. Hasilnya ditemukan bahwa peran enabler dapat dijalankan Kades Karanganyar dengan menyesuaikan konteks sosial di setiap tahapan pemberdayaan. Pada tahap assessment aset, Kades mengembangkan kepribadian supel kepada warganya dan bersikap empati dengan menjadi pendengar aktif pada setiap musyawarah dusun. Namun peran mengkomunikasikan komitmen dengan semangat tinggi dapat menjadi pemantik perubahan pada tahap penyadaran asset dan membangun visi perubahan bersama. Sedangkan pada tahap pengkapasitasan dan pendayaan, peran yang dominan adalah mengorganisasikan berbagai asset Desa dengan mengembangkan sikap integritas dan komunikasi koordinatif.
Strategi Difusi Inovasi Gagasan Kemandirian dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Muslim Marginal Perkotaan Charolin Indah Roseta
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v6i2.339

Abstract

Dakwah yang berorientasi pada pemberdayaan komunitas muslim marginal di perkotaan ternyata memiliki kompleksitas tersendiri. Kondisi pemiskinan struktural akibat globalisasi dan berkembangnya subkulltur inferioritas dikalangan marginal perkotaan menyulitkan mereka untuk mengadopsi gagasan kemandirian dalam rangka keluar dari belenggu kemiskinan. Apalagi hingga saat ini belum ada satupun studi terdahulu yang membahas terkait penerapan difusi inovasi sehingga program pemberdayaan dapat diadopsi dengan tepat. Oleh karenanya studi ini mengambil fokus kajian pada strategi difusi inovasi gagasan kemandirian yang dikontekstualisasikan dalam norma sistem Islam perkotaan dalam rangka mengembangkan metodologi dakwah bil hal pada komunitas marginal. Berdasarkan atas asumsi tersebut tulisan ini dikembangkan dengan metode pustaka analitik dengan menggunakan kerangka teori Rogers tentang proses difusi inovasi. Adapun hasil studi menemukan bahwa tahapan penyadaran dalam pemberdayaan sejalan dengan proses difusi inovasi pada kalangan marginal dengan mengutamakan pada pemilihan saluran komunikasi interpersonal dan forum media pada tahap pengenalan. Sedangkan pada tahap persuasif, agen perlu bekerjasama dengan tokoh lokal di kalangan marginal untuk membentuk sikap positif terhdap gagasan kemandirian lewat pemanfaatan aset sekitar. Adapun pada tahap keputusan dan konfirmasi agen perlu melakukan pendampingan lewat saluran media sosial dan aksi nyata dalam melaksanakan program pemberdayaan berbasis aset lokal setempat.
Optimization of Social Systems in the Diffusion of Innovations in Traditional Islamic Society: Study of Grameen Bank in Bangladesh Indah, Charolin; Hakim, Abdul
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 34 No. 1 (2023): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v34i1.3114

Abstract

The diffusion of innovation in the context of developing traditional societies has its challenges with the many obstacles in the social system. Previous studies have proven that each social component has a significant role in facilitating the process of innovation diffusion to underprivileged societies. However, they need to discuss how to optimize these components to overcome the barriers of social systems in traditional societies. Meanwhile, M. Yunus created an innovation in the form of microcredit and successfully diffused it to Muslim women who live in poverty in Bangladesh. This study investigates how Yunus optimizes the social system's components to successfully diffuse the program's innovation in the high traditional challenges. The method used in this study is a qualitative approach with a type of case study and analysis based on Rogers' theory of social system components. This study finds that social system barriers can be overcome by 1) optimizing the role of reforming agents in optional decisions through interpersonal relationships; 2) optimizing local communication channels that are homophilous with friendship networks among lower-class Muslim women.
Optimization of Social Systems in the Diffusion of Innovations in Traditional Islamic Society: Study of Grameen Bank in Bangladesh Indah, Charolin; Hakim, Abdul
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 34 No. 1 (2023): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v34i1.3114

Abstract

The diffusion of innovation in the context of developing traditional societies has its challenges with the many obstacles in the social system. Previous studies have proven that each social component has a significant role in facilitating the process of innovation diffusion to underprivileged societies. However, they need to discuss how to optimize these components to overcome the barriers of social systems in traditional societies. Meanwhile, M. Yunus created an innovation in the form of microcredit and successfully diffused it to Muslim women who live in poverty in Bangladesh. This study investigates how Yunus optimizes the social system's components to successfully diffuse the program's innovation in the high traditional challenges. The method used in this study is a qualitative approach with a type of case study and analysis based on Rogers' theory of social system components. This study finds that social system barriers can be overcome by 1) optimizing the role of reforming agents in optional decisions through interpersonal relationships; 2) optimizing local communication channels that are homophilous with friendship networks among lower-class Muslim women.
Dakwah Bil Hal dan Pemberdayaan Korban Perbudakan Modern: Rekontekstualisasi QS. Al-Balad 8-16 Roseta, Charolin Indah
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 7 No 2 (2025)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v7i2.394

Abstract

Artikel ini mengkaji intervensi komunitas terhadap korban perbudakan modern di kalangan masyarakat marginal dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar normatif dan operasional. Kajian-kajian sebelumnya menunjukkan kecenderungan terfragmentasi yakni tafsir QS. Al-Balad [90]: 8–16 umumnya dibaca sebagai kritik moral dan anjuran amal individual, sementara kajian sosial cenderung memisahkan persoalan perbudakan dari dimensi spiritual sebagai sumber transformasi. Akibatnya, belum tersedia kerangka yang memadai untuk menjelaskan bagaimana pesan Al-Qur’an dapat dioperasionalkan sebagai strategi dakwah bil hal. Untuk mengisi kekosongan tersebut, artikel ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika double movement Fazlur Rahman. Gerak pertama dilakukan melalui pembacaan sosiohistoris terhadap konteks turunnya surah ini, sedangkan gerak kedua dilakukan dengan mengontekstualisasikan ideal moral menggunakan pendekatan pemberdayaan dalam menjawab persoalan perbudakan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons Al-Qur’an terhadap ketimpangan struktural bersifat transformatif dan berorientasi pada pembebasan dari ketidakberdayaan. Temuan utama artikel ini adalah formulasi model pemberdayaan Qur’ani berbasis aksi sosial yang disarikan dari QS. Al-Balad meliputi tiga tahapan yakni penyadaran dan pembebasan dari eksploitasi, penguatan kapasitas hidup mandiri dan berkelanjutan, serta pendayaan melalui partisipasi dan solidaritas sosial. Model ini menegaskan bahwa dakwah bil halmerupakan proses pemberdayaan transformatif yang memulihkan martabat, kapasitas, dan posisi sosial korban perbudakan modern secara berkelanjutan.
Optimization of Social Systems in the Diffusion of Innovations in Traditional Islamic Society: Study of Grameen Bank in Bangladesh Charolin Indah; Abdul Hakim
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 34 No. 1 (2023): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v34i1.3114

Abstract

The diffusion of innovation in the context of developing traditional societies has its challenges with the many obstacles in the social system. Previous studies have proven that each social component has a significant role in facilitating the process of innovation diffusion to underprivileged societies. However, they need to discuss how to optimize these components to overcome the barriers of social systems in traditional societies. Meanwhile, M. Yunus created an innovation in the form of microcredit and successfully diffused it to Muslim women who live in poverty in Bangladesh. This study investigates how Yunus optimizes the social system's components to successfully diffuse the program's innovation in the high traditional challenges. The method used in this study is a qualitative approach with a type of case study and analysis based on Rogers' theory of social system components. This study finds that social system barriers can be overcome by 1) optimizing the role of reforming agents in optional decisions through interpersonal relationships; 2) optimizing local communication channels that are homophilous with friendship networks among lower-class Muslim women.
Dakwah Bil Hal Nabi Muhammad dalam Pemberdayaan Ahl al-Suffah di Madinah Charolin Indah Roseta
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v8i1.430

Abstract

THE PROPHET MUHAMMAD’S DA’WAH BIL HAL IN THE EMPOWERMENT OF THE AHL AL-SUFFAH IN MEDINA. This article examines the Prophet Muhammad’s practice of dakwah bil hal in empowering the Ahl al-Suffah through the lens of Asset-Based Community Development (ABCD). Previous studies have generally portrayed the Ahl al-Suffah as an impoverished community that played a role in early Islamic education, hadith transmission, and the history of da’wah. Meanwhile, the Prophet’s empowerment process of this marginalized group has not been extensively analyzed using an asset-based empowerment perspective. To address this gap, this article employs a qualitative, literature-based method with a historical-sociological approach. Data were obtained from the Sirah Nabawiyah, hadith collections, hadith commentaries, and empowerment literature, which were analyzed using the ABCD perspective. The results of the analysis indicate that the Prophet’s empowerment took place through three stages: awareness-raising, capacity-building, and empowerment. The entire process utilized individual, social, institutional, economic, and community assets already available in Medina, enabling the Ahl al-Suffah to undergo a transformation from aid recipients into active agents serving as preachers, Quran teachers, community servants, economic actors, and drivers of Islamic community development. The main findings of this article indicate that the Prophet’s practice of empowerment aligns with the ABCD principles, while also expanding upon them through the dimensions of spiritual assets, prophetic moral leadership, and da’wah as the primary drivers of social change. These findings enrich the development of asset-based empowerment theory while providing a conceptual foundation for the practice of da’wah bil hal and the empowerment of contemporary Muslim communities.