Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELAKSANAAN MANAJEMEN SUMBERDAYA AIRTANAH METODE SUMUR RESAPAN UNTUK KONSERVASI AIRTANAH PADA AKIFER DANGKAL (SHALLOW AQUIFER) DI WILAYAH DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA Bambang Sutedjo HS; Isrofah Isnaeni Nugro
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Development of physical build progress at DKI Jakarta area is increase pass by increase all the sector to make changes fungtion of landform like than forest fungtion, farms fungtion make real estate area, hotels and industries area. And than recharge area to decrease that is all, maked to changes of hydrology cycle is that decrease water rainfall to infiltrated to increase of runoff water.Hydrology and some factor to affected groundwater static water level at the shallow aquifer and value of infiltration capacity, and rainfall at The DKI Jakarta area, to make total artificial recharge to be needed of conservation methode at shallow aquifer. Lower plain of Jakarta Coastal added at North part of West Java, with has spread from West part of Java to East following North Coastal from West Java until Cirebon City, with wide plus minus 40 Km. In the regional North Coatal plain added with some high area and sub – basin. Jakarta area is a part sedimentation sub – basin and they call of Ciputat sub – basin, the West part this basin bodered by Tangerang High, at the East part by Rengasdengklok High and at the South part gradational to Bogor Antikinorium.Generally of DKI Jakarta area has to investigation by Soekardi (1985(, Nippon Koei et. Al (Cisadane River Basin Development Feassibility / CRBDFS, 1987), with to make differeanted of Jakarta Groundwater Basin to four part that is Coastal area are North of Tangerang – Jakarta – Bekasi, , Terraces area at the central art basin, the Tertiary bedrock with small production and volcano slope area of Salak and Pangrango. Thickness of Quartenary sediment in the Central Basin to interpretative than 250 meters until 300 meters, and less thickness to South West – South – South East from Jakarta about 25 meters to 50 meters (Warsito, 1985), because closed by contack with Tertisru sediments.From the analysis are finally of infiltration capacity (after balanced point) at the DKI Jakarta area is variatiun. Finally of infiltration capacity is lower value (0,01 Cm/ minutes) they are at the location two, three, four, and the higher (1,98 Cm / minutes) at the location 71. Perbandingan of smaller value and higher value is 198. In the geography position higher value at the South part, and smaller value at the North part.
PENENTUAN FORMULASI PERSAMAAN MATEMATIK PEMAKAIAN AIRTANAH DI KOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Bambang Sutedjo HS
Jurnal Ilmiah MTG Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Wilayah Kota Yogyakarta secara morfologi termasuk dalam Lereng Kaki Gunung Merapi, memiliki wilayah yang relatif datar dengan kemiringan antara 0 s/d 2 %, dan berada pada ketinggian 114 meter di atas permukaan laut. Sebagian wilayah yaitu seluas 1.657 hektar terletak pada ketinggian kurang dari 100 meter dari permukaan air laut, sedangkan sisanya yaitu seluas 1.593 hektar berada pada ketinggian antara 100 sampai 199 meter dari permukaan air laut.Ditinjau dari sisi geohidrologi, Wilayah Kota Yogyakarta terletak pada Sistem Cekungan airtanah Yogyakarta. Akuifer – akuifer yang berkembang pada cekungan ini adalah multi layer akuifer, dengan jenis akuifernya adalah akuifer bebas sampai akuifer setengah tertekan. Akuifer – akuifer pada cekungan ini dibentuk oleh endapan – endapan hasil aktivitas Gunung Merapi yang berumur Kuarter, dengan endapan – endapannya yang belum terkonsolidasi dengan kuat.Pemakaian air bersih untuk Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian besar menggunakan sumber airtanah, kecuali di bidang pertanian lebih banyak menggunakan sumber air permukaan. Dari kelima wilayah setingkat kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Wilayah Kota Yogyakarta merupakan pemakai tertinggi air bersih yang bersumber dari airtanah. Terutama untuk keperluan domestik, rumah tangga dan industri.Penentuan formulasi matematik pemakaian airtanah di Kota Yogyakarta ini adalah untuk mengevaluasi hasil perkiraan volume pemakaian airtanah di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat pedoman pemakaian airtanah, menentukan standart minimal dari pemakaian airtanah, serta menentukan formulasi perhitungan volume pemakaian airtanah dengan variabel dan konstanta tertentu. Dari formulasi ini bisa dipakai untuk mengembangkan formulasi perhitungan volume pemakaian airtanah yang selanjutnya dapat dipakai sebagai acuan dalam perhitungan nilai perolehan air (NPA) maupun besaran pajak yang wewenangnya berada di Pemerintah Daerah Propinsi. Demikian pula bisa mengoptimalkan pengambilan dan pemanfaatan airtanah yang berazaskan pada kemanfaatan, kesinambungan dan kelestarian airtanah.