This Author published in this journals
All Journal TOTOBUANG
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA MEDIA MASSA DI KOTA AMBON [The Usage of Bahasa Indonesia on Mass Media at Ambon Town] Harlin Turiah
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.250

Abstract

The purpose of this research was not only to described about the mistake of good and proper Bahasa Indonesia, but also described the language situation and the cause of Bahasa Indonesia’s usage mistake on mass media at Ambon town. The research method was descriptive analysis. The result of research showed that 1) the mistake with preferences great number on printing mass media were found on spelling categorized worst, then diction categorized  bad enough, and  less mistake on sentence categorized good enough, 2) the mistake with preferences great number on electronic mass media were found on diction categorized good enough, then  spelling categorized good enough, and less mistake on sentence categorized excellent, 3) the mistake with preferences great number on online mass media were found on spelling categorized bad, then  diction categorized good enough, and less mistake on sentence categorized good, 4) the mistake of Bahasa Indonesia’ usage on mass media at Ambon town caused by a different the journalist ability, there was not language editor to sort out news, journalists were not from relevant course such as language or communication course, journalist did not know what they had written not fill on grammar of bahasa Indonesia, there was a news target deadline, sometimes communication that from news resource person was  complicated, and institution participation was not optimal yet.        Penelitian ini, selain bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar,  menggambarkan situasi kebahasaan, tetapi juga mengungkapkan penyebab terjadinya kesalahan penggunaan bahasa Indonesia pada media massa di Kota Ambon. Metode penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu memberi gambaran secara apa adanya tentang situasi kebahasaan pada media massa, kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, dan penyebab terjadinya penyimpangan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar pada media massa  di Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kesalahan dengan preferensi banyak pada media cetak terdapat pada ejaan yang  sangat buruk, kemudian diikuti bentuk dan pilihan kata kategori cukup buruk, dan  kesalahan sedikit pada kalimat  kategori cukup baik, 2) kesalahan dengan kecenderungan banyak  pada media elektronik terdapat pada bentuk dan pilihan kata kategori cukup baik, kemudian diikuti ejaan kategori cukup baik pula, dan kesalahan sedikit pada kalimat  kategori sangat baik, 3) kesalahan dengan preferensi banyak  pada media daring terdapat pada ejaan kategori buruk, kemudian bentuk dan pilihan kata kategori cukup baik, dan kalimat kategori baik, 4) penyebab terjadinya kesalahan penggunaan bahasa Indonesia pada media massa  dikarenakan kemampuan bahasa wartawan berbeda-beda, tidak ada redaktur bahasa yang menyortir naskah berita, wartawan tidak berasal dari jurusan yang berhubungan langsung dengan kebahasaan, tidak mengetahui bahwa apa yang ditulis tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia, adanya tenggat atau batas waktu target berita,  bahasa dari narasumber berita cenderung kompleks, dan partisipasi lembaga belum optimal.
PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH DI KOTA AMBON: STUDI KASUS BAHASA DAERAH DI NEGERI LAHA SEBAGAI SATU-SATUNYA BAHASA DAERAH DI KOTA AMBON [Local Language Maintenance in the city of Ambon: A Local Language Case Studying in the Laha Village as a Local Language only in the City of Ambon] Harlin Turiah
TOTOBUANG Vol. 9 No. 2 (2021): TOTOBUANG: EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i2.337

Abstract

The purpose of this research is to describe local language maintenance in Laha village as the only local language in the City of Ambon. The kind of this research uses quantitative desceiptive. The method of this research is qualitative method where questionnaires were specifically given to 50 respondents that were chosen randomly (random sampling). Beside that, the writer also interviewed some informants and did observation in Laha village and some decent villages in Ambon. The result of this research showed that the condition of local language in Laha village is in danger of extinction. It is shown from local language mastery in society, speakers’ age, first language use, mother tongue, mastery period of local language, and local language acquisition in Laha village. Most speakers of Laha local language can only communicate with little local language of Laha (passive speakers). In terms of age, most of the fluent speakers of local language of Laha are above 50. Those who are under 50 can communicate limitedly, passively understand the language, and even some of them can not communicate using the language at all.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemertahanan bahasa daerah yang ada di Negeri Laha  (setingkat desa) sebagai satu-satunya bahasa daerah yang ada di Kota Ambon. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Metode dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang secara spesifik responden diberikan kuesioner atau daftar tanyaan dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang yang diambil secara acak (random sampling).  Daftar tanyaan penelitian secara umum meliputi situasi dan kondisi bahasa daerah yang ada di Negeri Laha termasuk pemakai dan pemakaiannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sekarang ini, kondisi bahasa daerah yang ada di Negeri Laha Kota Ambon terancam punah. Hal itu terlihat dari penguasaan bahasa daerah dalam masyarakat, usia penutur, bahasa yang digunakan ketika masa kecil (anak-anak), bahasa pertama yang dipelajari, masa penguasaan bahasa daerah, dan pemerolehan bahasa daerah di Negeri Laha. Kemampuan penguasaan berkomunikasi dalam bahasa daerah di Negeri Laha lebih banyak hanya bisa berkomunikasi secara sedikit-sedikit daripada bisa berkomunikasi secara aktif. Dari segi usia, kebanyakan yang dapat dan lancar berbahasa daerah Laha rata-rata usia di atas 50 tahun. Untuk usia di bawah usia 50 tahun, kebanyakan dapat berkomunikasi secara sedikit-sedikit, bisa memahami (pasif), dan sebagian pula tidak bisa berkomunikasi sama sekali.Abstrak