Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

INTEGRASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH MELALUI RPP Suwito, Anton
CIVIS Vol 2, No 2/Juli (2012): CIVIS
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi Nilai Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada wargasekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilainilaitersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaansehingga menjadi manusia insan kamil.Beberapa nilai yang perlu dikembangkan di dalam Pendidikan karakter adalah nilai ketaqwaan, nilaikeimanan, nilai kejujuran, nilai kepedulian, nilai, nilai, dan nilai etika atau sopan santunAdapun cara yang dilakukan adalah penulis menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran MataPelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang kemudian di kembangkan dengan pengintegrasian nilai-nilaipendidikan karakter di setiap tenik pembelajaran mulai dari pendahuluan ( apersepsi, motivasi), kegiatan inti(meliputi tahap elaborasi, eksplorasi dan konfirmasi) , dan pada tahap penutup (kesimpulan, pemberian tugastersetruktur dan tugas mandiri), melalui simulasi dan sistem pemodelan yang ditampilkan lewat media slidesehingga peserta didik mengetahui dan memahami nilai-nilai Pendidikan Karakter yang diintegrasikan di dalamsetiap teknik pembelajaran.Implementasi Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan melalui langkah-langkah pengembanganpembentukan karakter dengan cara memasukkan konsep karakter dalam proses pembelajaran, pembuatan sloganyang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dan pemantauan secara kontinyu serta melalui pelaksanaan programprogrampembinaan kejiwaan, pembinaan kerohanian, pembinaan kepribadian, pembianaan kejuangan, pembinaanjasmani, pembinaan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.Kata Kunci : Integrasi Nilai, Pendidikan Karakter (Education Character), RPP,Implementasi
MEMBANGUN INTEGRITAS BANGSA DI KALANGAN PEMUDA UNTUK MENANGKAL RADIKALISME Suwito, Anton
CIVIS Vol 4, No 2/Juli (2014)
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integritas bangsa dikalangan pemuda penting dan perlu ditanamkan pada diri generasi muda atau pemuda saat ini. Banyak tindakan radikalisme yang terjadi di Negara Indonesia ini tidak lepas dari peran serta aktif para pemuda. Integritas bangsa dikalangan pemuda perlu dibangun karena pemuda merupakan ujung tombak Negara, untuk menangkal tindakan yang bersifat anarkis dan radikal. Nilai-Nilai nasionalisme dan patriotisme perlu digali kembali dan ditumbuh kembangkan pada diri pemuda. Integritas bangsa dimaknai sebagai suatu mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Integritas pun sering diidentikkan dengan sikap jujur atau Kejujuran. Dengan demikian, di dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang bisa membuat orang menjadi berwibawa, jujur, dan konsisten terhadap kebenaran.Pemuda merupakan aset bangsa, bangsa yang kuat dapat diukur dari kekuatan nasionalisme generasi mudanya. Sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, Pemuda mempunyai peran dan posisi yang sangat strategis. Pemuda adalah generasi yang memiliki potensi untuk menangkal radikalisme di Indonesia dengan semangat nasionalisme dan patriotisme, karena pemuda memiliki jumlah paling besar di Negara Indonesia.Radikalisme berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis. Membangun integritas bangsa dikalangan pemuda untuk menangkal radikalisme perlu dilakukan dengan cara 1. Menanamkan semangat kebangsaan (Nasionalisme) dikalangan pemuda melalui 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika), 2. Menanamkan semangat dan jiwa yang dimiliki, untuk rela berkorban demi kepentingan bangsa dan Negara (Patriotisme) melalui lingkungan keluarga dan masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan instansi pemerintah atau swasta, pewarisan dan pelaksanaan kewajiban. 3. Menanamkan pada diri pemuda jiwa, semangat dan nilai-nilai juang 1945. 4. Menanamkan pendidikan karakter bangsa pada diri pemuda melalui jalur pendidikan formal, informal maupun nonformal. 5. Meningkatkan peran dan kiprah pemuda yang bersifat positif dengan melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan pemuda dan pengembangan sumber daya manusia pada diri pemuda. 6. Memberikan pemahaman kepada para pemuda atau generasi muda bahwa bangsa Indonesia ini bisa Merdeka dan lahir menjadi sebuah Negara Kasatuan Republik Indonesia karena perasaan senasib dan sepenanggungan, semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang diilhami oleh Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda. 7. Membangkitkan kesadaran para pemuda atau generasi muda melalui falsafah Menumbuhkan kesadaran rasa mawas diri dan berani mengambil sikap yang tegas (Mulat sarira hangrasa wani), menumbuhkakan sikap rasa saling memiliki (rumangsa melu handarbeni) dan menumbuhkan sikap kesadaran untuk saling menjaga dan saling melindungi (rumangsa wajib hangrukebi) sehingga terwujud integritas bangsa. 8. Membentuk sikap dan mental pada diri pemuda tentang Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu juga). 9. Menggali nilai-nilai nasionalisme dan karakter bangsa untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara guna menuju Pendidikan generasi muda atau pemuda yang berperadaban. 10. Memupuk ikatan rasa persaudaraan dikalangan generasi muda atau pemuda melalui organisasi pemuda. Kata Kunci : Integritas Bangsa , Pemuda dan Radikalisme
PENDEKATAN PARADE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK TENTANG MATERI SISTEM PEMERINTAHAN MELALUI PEMANFAATAN MEDIA VOUCHER PADA KELAS XII IPS 2 SMA NEGERI 1 LASEM Suwito, Anton
CIVIS Vol 5, No 2/JULI (2015): CIVIS
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Peserta Didik Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 1 Lasem  dengan pendekatan PARADE (Pembelajaran aktif, responsif, antusias, demokratis dan efektif) pada materi Sistem Pemerintahan melalui pemanfaatan media voucher. Masalah yang dihadapi guru saat ini adalah Guru kesulitan menerapkan berbagai  model dan Pendekatan, ,selain guru belum memahami dan mengetahui berbagai jensi model dan pendekatan, dan juga dalam praktiknya Guru menguasai pengelolaan kelas. Dalam  Penerapan berbagai jenis model dan pendekatan dalam pembelajaran perlu diperhatikan kondisi kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 1 Lasem Rembang dengan jumlah 31 peserta didik. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini peneliti melaksanakan  2 siklus tindakan, dengan menggunakan Prosedur pada siklus tindakan dengan urut-urutan sebagai berikut :1).Perencanaan tindakan ( menyusun RPP, membuat dan mempersiapkan bahan ajar sebagai media pembelajaran, alat bantu mengajar dan lembar observasi/pengamatan); 2). Pelaksanaan Tindakan ( Melaksanakan  skenario pembelajaran dengan tahapan Pendahuluan, kegiatan inti dan Penutup); 3). Observasi Tindakan ( perkembangan serta partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran); 4). Refleksi ( Hasil observasi ditelaah dicari kendala dan selanjutnya dicari solusi atau jalan keluar sebagai perencanaan perbaikan di siklus berikutnya);5). Perencanaan Tindakan selanjutnya.Hasil Penelitian Tindakan kelas  dengan menggunakan Pendekakatan PARADE melalui pemanfaatan media voucher ini  ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada kondisi awal pembelajaran menuju siklus 1 sebesar  10 % hingga 18 % dan pada siklus 2 mengalami sedikit penurunan.  2). Timbul kerjasama antara peserta didik yang berprestasi rendah dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, 3). Muncul keberanian mengeluarkan pendapat, kritik dan saran dari peserta didik pada saat pelaksanaan Diskusi  4). Meningkatkan kerjasama antara Guru dengan Peserta didik di kelas ketika dalam interaksi belajar mengajar. 5). Terdapat Peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik menggunakan pendekatan PARADE  dengan menggunakan media voucher pada siklus 1.   Kata kunci : PTK, aktivitas belajar, hasil belajar, PARADE .
PEMBELAJARAN CONTROLIS DALAM MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 LASEM Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 12, No 2 (2023): JULI 2023
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v12i2.16390

Abstract

Citizenship Education Subject aims for students to have the following abilities: Think critically, rationally, and creatively in response to citizenship issues, participate actively and responsibly, and act intelligently in social, national, and state activities, and anti-corruption, developing positive and democratic to shape oneself based on the characteristics of Indonesian society so that they can live together with other nations, interact with other nations in the world arena directly or indirectly by utilizing information and communication technology. The controls learning model emphasizes the approach to controversial issues. the controls learning model aims to improve or improve the quality of the learning process in the classroom, to determine the increase in students' critical thinking skills in the PPKn subject. The controls learning model in this study aims to improve critical thinking skills and the achievement of student learning outcomes. Achievement of learning outcomes in the initial conditions of learning towards cycle 1 is the lowest value decreases by 10% from UH 1 48 to 38 and UH 2 decreases 18% from a value of 64 to 46, the highest value has increased from UH 1 95 to UH 2 97. The average value increases by 40% from 75 to 79 and the value from 79 to 83. In cycle 1, UH cycle 1 the lowest value is UH1 = 38 UH2 = 46, the highest value is UH1 = 95 and UH 2 97 The mean value of UH 1 = 79 and UH 2 = 83. In cycle 2 the lowest value is UH1 = 18 and UH 2 = 46, the highest value is UH1 = 85, and UH 2 = 90 The mean value of UH1 = 59 and UH 2 = 74. this classroom action research uses comparative descriptive analysis in determining the value between cycles.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTROVERSIAL ISSUES (CONTROLIS) MATERI DINAMIKA PERAN INDONESIA DALAM PERDAMAIAN DUNIA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 4 SMA NEGERI 1 LASEM Suwito, Anton
Jurnal Analisis Pendidikan Sosial Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Analisis Pendidikan Sosial (JAPS)
Publisher : CV Sintesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Citizenship Education Subject aims for students to have the following abilities: Think critically, rationally, and creatively in response to citizenship issues, participate actively and responsibly, and act intelligently in social, national and state activities, and anti -corruption, developing in a positive and democratic manner to shape oneself based on the characteristics of Indonesian society so that they can live together with other nations, interact with other nations in the world arena directly or indirectly by utilizing information and communication technology. The controlist learning model emphasizes the approach to controversial issues. Controlis learning model aims to improve or improve the quality of the learning process in the classroom, to determine the increase in students' critical thinking skills in the PPKn subject. The controlist learning model in this study aims to improve critical thinking skills and the achievement of student learning outcomes. Achievement of learning outcomes in the initial conditions of learning towards cycle 1 is the lowest value decreases by 10% from UH 1 48 to 38 and UH 2 decreases 18% from a value of 64 to 46, the highest value has increased from UH 1 95 to UH 2 97. The average value increases by 40% from 75 to 79 and the value from 79 to 83. In cycle 1, UH cycle 1 the lowest value is UH1 = 38 UH2 = 46, the highest value is UH1 = 95 and UH 2 97 The mean value of UH 1 = 79 and UH 2 = 83. In cycle 2 the lowest value is UH1 = 18 and UH 2 = 46, the highest value is UH1 = 85 and UH 2 = 90 The mean value of UH1 = 59 and UH 2 = 74. In this classroom action research using comparative descriptive analysis in determining the value between cycles.
INTEGRASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH MELALUI RPP Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2012): JULI 2012
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v2i2.454

Abstract

Integrasi Nilai Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada wargasekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilainilaitersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaansehingga menjadi manusia insan kamil.Beberapa nilai yang perlu dikembangkan di dalam Pendidikan karakter adalah nilai ketaqwaan, nilaikeimanan, nilai kejujuran, nilai kepedulian, nilai, nilai, dan nilai etika atau sopan santunAdapun cara yang dilakukan adalah penulis menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran MataPelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang kemudian di kembangkan dengan pengintegrasian nilai-nilaipendidikan karakter di setiap tenik pembelajaran mulai dari pendahuluan ( apersepsi, motivasi), kegiatan inti(meliputi tahap elaborasi, eksplorasi dan konfirmasi) , dan pada tahap penutup (kesimpulan, pemberian tugastersetruktur dan tugas mandiri), melalui simulasi dan sistem pemodelan yang ditampilkan lewat media slidesehingga peserta didik mengetahui dan memahami nilai-nilai Pendidikan Karakter yang diintegrasikan di dalamsetiap teknik pembelajaran.Implementasi Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan melalui langkah-langkah pengembanganpembentukan karakter dengan cara memasukkan konsep karakter dalam proses pembelajaran, pembuatan sloganyang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dan pemantauan secara kontinyu serta melalui pelaksanaan programprogrampembinaan kejiwaan, pembinaan kerohanian, pembinaan kepribadian, pembianaan kejuangan, pembinaanjasmani, pembinaan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.Kata Kunci : Integrasi Nilai, Pendidikan Karakter (Education Character), RPP,Implementasi
PENGAMALAN NILAI-NILAI PANCASILA DAN NORMANORMA KONSTITUSI MELALUI WADAH KOMUNITAS BELAJAR “GERBANG ADIK” DI SMA NEGERI 1 LASEM Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 10, No 1 (2021): JANUARI 2021
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v10i1.8160

Abstract

Situasi dan kondisi saat ini memerlukan upaya membangun kesadaran masyarakat untuk mengerti, memahami dan melaksanakan konstitusi sebagai hukum dasar tertulis Negara Indonesia. Dalam hal ini konstitusi negara yaitu UUD NRI tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan dibawahnya juga perlu dilaksanakan. Sehingga memunculkan manusiamanusia yang taat aturan dan taat hukum serta memiliki kesadaran terhadap konstitusi negara untuk ditegakkan. Disamping mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi negara juga perlu pengembangan pendidikan karakter bangsa baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sebagai sarana dan media untuk mencitakan manusia yang berperadaban. Implementasikan nilai-nilai Pancasila dan norma- norma konstitusi dilakukan melalui: 1) keharusan untuk melaksanakan atau mengamalkan Pancasila, ketaatan untuk melaksanakan atau mengamalkan Pancasila; Pelaksanaan atau Pengamalan Pancasila; 2) Pelaksanaan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan norma-norma konstitusi dilakukan dengan cara pengamalan secara obyektif dan pengamalan secara subyektif; 3) Perlunya mengembangkan dan membangun kesadaran, ketaatan dan kemampuan melakukan perbuatan melaksanakan atau mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan norma-norma konstitusi. Kata kunci: Pengamalan, Nilai Pancasila, Norma Konstitusi
KETELADANAN TOKOH PEWAYANGAN DALAM PENERAPAN PRINSIP BAWALAKSANA SEBAGAI IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KARAKTER BANGSA Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 2 (2017): JULI 2017
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v6i2.1905

Abstract

Prinsip bawalaksana mempunyai arti atau makna menepati janji apa yang telah dikatakannya. Istilah lain yang maknanya hampir sama dengan bawalaksana adalah adanya ungkapan yang berbunyi “sabda pandhita ratu tan kena wola-wali”. Secara harfiah artinya adalah “Ucapan pendeta dan raja, tidak boleh diulang-ulang. Maknanya adalah bahwa seorang pemimpin haruslah konsekwen untuk melaksanakan atau mewujudkan apa yang telah diucapkannya.. Dalam bahasa Indonesia yang disebut dengan “satunya kata dan perbuatan”. Disisi yang lain pula seorang pemimpin harus memiliki sifat ambeg paramarta, dermawan, sopan dan santun terhadap orang lain, peka dan peduli terhadap lingkungan, serta cerdik dan pandai. Dalam konsep islam disamping seorang pemimpin harus bisa menepati janjinya, juga harus mempunyai sifat sidiq, tabligh, amanah dan fatonah.Dalam penerapan nilai-nilai karakter bangsa yang berpendidikan budaya, bawalaksana merupakan salah satu contoh implementasi pendidikan karakter yang harus di pegang oleh para penguasa, para pemimpin atau raja dalam memimpin negara. Disamping itu pula juga ada sisi dalam konteks karakter bangsa yang berbudaya pendidikan, bawalaksana itu tidak cukup sekedar menepati janji yang telah diucapkannya, tetapi yang lebih penting juga harus ada cara-cara dan metode lain untuk menutupi segala kekurangan dan kelemahan yang mungkin muncul dari prinsip bawalakasana, yaitu prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat serta keterbukaan dan jaminan keadilan dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan.Dalam hal ini janji apapun yang diutarakan harus dipenuhi atau ditepati. Semakin sifat bawalaksananya rapuh, tingkat kepercayaan masyarakat atau rakyat akan semakin merosot atau menurun bahkan kepercayaan itu bisa hilang. Pemenuhan janji terhadap siapapun hukumnya wajib, apalagi sebagai seorang ksatria ataupun pemimpin dan raja/penguasa. walaupun terkadang benturan dengan nilai, norma ataupun kebiasaan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.Kata kunci : tokoh pewayangan, bawalaksana , karakter bangsa
PENDEKATAN PARADE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK TENTANG MATERI SISTEM PEMERINTAHAN MELALUI PEMANFAATAN MEDIA VOUCHER PADA KELAS XII IPS 2 SMA NEGERI 1 LASEM Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2015): JULI 2015
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v5i2.903

Abstract

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Peserta Didik Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 1 Lasem?é?á dengan pendekatan PARADE (Pembelajaran aktif, responsif, antusias, demokratis dan efektif) pada materi Sistem Pemerintahan melalui pemanfaatan media voucher. Masalah yang dihadapi guru saat ini adalah Guru kesulitan menerapkan berbagai?é?á model dan Pendekatan, ,selain guru belum memahami dan mengetahui berbagai jensi model dan pendekatan, dan juga dalam praktiknya Guru menguasai pengelolaan kelas. Dalam?é?á Penerapan berbagai jenis model dan pendekatan dalam pembelajaran perlu diperhatikan kondisi kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 1 Lasem Rembang dengan jumlah 31 peserta didik. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini peneliti melaksanakan?é?á 2 siklus tindakan, dengan menggunakan Prosedur pada siklus tindakan dengan urut-urutan sebagai berikut :1).Perencanaan tindakan ( menyusun RPP, membuat dan mempersiapkan bahan ajar sebagai media pembelajaran, alat bantu mengajar dan lembar observasi/pengamatan); 2). Pelaksanaan Tindakan ( Melaksanakan?é?á skenario pembelajaran dengan tahapan Pendahuluan, kegiatan inti dan Penutup); 3). Observasi Tindakan ( perkembangan serta partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran); 4). Refleksi ( Hasil observasi ditelaah dicari kendala dan selanjutnya dicari solusi atau jalan keluar sebagai perencanaan perbaikan di siklus berikutnya);5). Perencanaan Tindakan selanjutnya.Hasil Penelitian Tindakan kelas?é?á dengan menggunakan Pendekakatan PARADE melalui pemanfaatan media voucher ini?é?á ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada kondisi awal pembelajaran menuju siklus 1 sebesar?é?á 10 % hingga 18 % dan pada siklus 2 mengalami sedikit penurunan.?é?á 2). Timbul kerjasama antara peserta didik yang berprestasi rendah dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, 3). Muncul keberanian mengeluarkan pendapat, kritik dan saran dari peserta didik pada saat pelaksanaan Diskusi?é?á 4). Meningkatkan kerjasama antara Guru dengan Peserta didik di kelas ketika dalam interaksi belajar mengajar. 5). Terdapat Peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik menggunakan pendekatan PARADE?é?á dengan menggunakan media voucher pada siklus 1. ?é?á Kata kunci : PTK, aktivitas belajar, hasil belajar, PARADE .
MEMBANGUN INTEGRITAS BANGSA DI KALANGAN PEMUDA UNTUK MENANGKAL RADIKALISME Suwito, Anton
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2014): JULI 2014
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v4i2.610

Abstract

Integritas bangsa dikalangan pemuda penting dan perlu ditanamkan pada diri generasi muda atau pemuda saat ini. Banyak tindakan radikalisme yang terjadi di Negara Indonesia ini tidak lepas dari peran serta aktif para pemuda. Integritas bangsa dikalangan pemuda perlu dibangun karena pemuda merupakan ujung tombak Negara, untuk menangkal tindakan yang bersifat anarkis dan radikal. Nilai-Nilai nasionalisme dan patriotisme perlu digali kembali dan ditumbuh kembangkan pada diri pemuda. Integritas bangsa dimaknai sebagai suatu mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Integritas pun sering diidentikkan dengan sikap jujur atau Kejujuran. Dengan demikian, di dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang bisa membuat orang menjadi berwibawa, jujur, dan konsisten terhadap kebenaran.Pemuda merupakan aset bangsa, bangsa yang kuat dapat diukur dari kekuatan nasionalisme generasi mudanya. Sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, Pemuda mempunyai peran dan posisi yang sangat strategis. Pemuda adalah generasi yang memiliki potensi untuk menangkal radikalisme di Indonesia dengan semangat nasionalisme dan patriotisme, karena pemuda memiliki jumlah paling besar di Negara Indonesia.Radikalisme berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis. Membangun integritas bangsa dikalangan pemuda untuk menangkal radikalisme perlu dilakukan dengan cara 1. Menanamkan semangat kebangsaan (Nasionalisme) dikalangan pemuda melalui 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika), 2. Menanamkan semangat dan jiwa yang dimiliki, untuk rela berkorban demi kepentingan bangsa dan Negara (Patriotisme) melalui lingkungan keluarga dan masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan instansi pemerintah atau swasta, pewarisan dan pelaksanaan kewajiban. 3. Menanamkan pada diri pemuda jiwa, semangat dan nilai-nilai juang 1945. 4. Menanamkan pendidikan karakter bangsa pada diri pemuda melalui jalur pendidikan formal, informal maupun nonformal. 5. Meningkatkan peran dan kiprah pemuda yang bersifat positif dengan melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan pemuda dan pengembangan sumber daya manusia pada diri pemuda. 6. Memberikan pemahaman kepada para pemuda atau generasi muda bahwa bangsa Indonesia ini bisa Merdeka dan lahir menjadi sebuah Negara Kasatuan Republik Indonesia karena perasaan senasib dan sepenanggungan, semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang diilhami oleh Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda. 7. Membangkitkan kesadaran para pemuda atau generasi muda melalui falsafah Menumbuhkan kesadaran rasa mawas diri dan berani mengambil sikap yang tegas (Mulat sarira hangrasa wani), menumbuhkakan sikap rasa saling memiliki (rumangsa melu handarbeni) dan menumbuhkan sikap kesadaran untuk saling menjaga dan saling melindungi (rumangsa wajib hangrukebi) sehingga terwujud integritas bangsa. 8. Membentuk sikap dan mental pada diri pemuda tentang Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu juga). 9. Menggali nilai-nilai nasionalisme dan karakter bangsa untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara guna menuju Pendidikan generasi muda atau pemuda yang berperadaban. 10. Memupuk ikatan rasa persaudaraan dikalangan generasi muda atau pemuda melalui organisasi pemuda. Kata Kunci : Integritas Bangsa , Pemuda dan Radikalisme