Almunawar Bin Rusli
IAIN Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gerakan Sarikat Islam di Bolaang Mongondow Abad ke-20: Melacak Jaringan Politik dan Pendidikan Almunawar Bin Rusli
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.691 KB) | DOI: 10.30984/jii.v11i2.580

Abstract

Tulisan ini ingin mengkaji  tentang gerakan sarikat Islam di Bolaang Mongondow  abad ke- 20 yang dilakukan HOS Cokroaminoto yang berfokus pada dua pertanyaan mendasar yaitu  bagaimana proses terciptanya jaringan politik dan jaringan pendidikan dalam kurun sejarah. Temuan penting dalam kajian ini adalah (1) Jaringan politik terbentuk karena adanya  kesadaran perubahan, kesadaran kolektif, kesadaran sejarah, kesadaran fakta sosial, dan kesadaran objektif (2) Jaringan pendidikan   terbentuk  karena adanya  krisis identitas keislaman, adanya kesamaan visi-misi perjuangan politik Islam dalam melawan kebijakan pemerintah kolonial, dan  adanya aktivisme kekeluargaan lintas etnis. Sebagai kesimpulan,  umat beragama yang ada di Bolaang Mongondow adalah mayoritas Muslim yang terbentuk atas fase diplomatik, struktural, organisasional dan kultural.Kata Kunci : Gerakan, Sarikat Islam, Bolaang Mongondow
Gerakan Pesantren Kombos di Manado dalam Merespon Arus Post-Nasionalisme Almunawar Bin Rusli
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.169 KB) | DOI: 10.30984/jii.v10i1.586

Abstract

Pesantren Kombos was established in 1977. From the new order era to reformation, pesantren Kombos have contributed to socio-religious life in multicultural society in Manado (Islam 128.483 %, Christian 254.912 %, Catholic 20.602 %, Hindu 692 %, Buddha 2.224 %, and Konghucu 499 %). Since the 9/11 attacks in the United States and the Bali bombings in October 2002 in Indonesia, pesantren have been the focus of international attention. Foreigner called Islamic education as breeding grounds for terrorist. Acts of radicalism and terrorism (postnasionalism) commited by Abu Bakar Baa’syir and Abdullah Sungkar has made pesantren become training institutions of jihad against the West under Jamaah Islamiyah group as Sidney Jones’s observation. Other religions are taught from the perspective of a particular religion. This model of religious education has been challenged especially after the 1998 political reform. Through literature study, the result of this research indicates that the situation in Manado looks stable even not trapped in actions of radicalism and global terrorism. To respond postnasionalism, pesantren Kombos in Manado build three major movements, namely ideology-political movement, demographic-accomodative movement, and programmatic-assosiative movement. Those three movements are using humanist, rational, and functional approach. Thus, in summary, pesantren Kombos has a cosmopolitan character that is actualized in the system Torang Samua Basudara and Si Tou Timou Tumou Tou.Keywords : Movement, Pesantren Kombos, Postnasionalism