SUBIYANDONO SUBIYANDONO
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN SUKU,DAUN NANGKA,DAN DAUN CEMPEDAK DENGAN METODE DPPH SUBIYANDONO SUBIYANDONO; AAN NURHASANAH
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 10 No 1 (2015): Jurnal Kesehatan
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron a tau reduktan, senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi dengan cara mencegah terbentuknya radikal bebas. Beberapa tanaman yang memiliki potensi sebgai antioksidan alami adalah Daun sukun (Artocarpus altillis), Daun nangka (Artocarpus heterophyllus), daun cempedak (Artocarpus champeden). maka tel ah dilakukan penelitian yang bertujuan unutk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak daunsukun, daun nangka, dan daun cempedak dengan DP PH (2, 2-diphenyl-1-picrylhidrazyl). Penelitian dilakukan di laboratorium dengan mengujiaktivitas antioksidan yang terdapat dalam ekstrak Artocarpus Altilis.Artocarpus eterophyllus,danArtocarpus champeden. DenganmenggunakanDP PH di tinjau dari segi peredaman radikal bebas secara spektrofotometri UV-vis, di lanjutkan dengan penentuan C50.Ekstrak tanaman kemudian dibagi menjadi berbagai konsentrasiyaitu 0.125%, 0.5%.2% dan 5%. Pengukuran absorbans dilakukan pada panjang gelombang 497 nm,517 nm dan 537 nm, diukur pada setiap menit ke-5 dan menitke-60, selanjutnya di hitung %peredamannya, dilanjutkan dengan menghitungnilai IC50, yang di dapat dengan memplot konsentrasi larutan uji dengan %peredaman radikal bebas. Hasil penelitian diketahui nilai JC50 ekstrak methanol Artocarpus alltilispada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.027087 dan 0.028624. Nilai JC50 ekstrakmethanol Artocarpus heterophyllus pada men it ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0. 0054dan 0. 02 5171. Nilai JCS O ekstrak methanol Artocarpus champeden pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.258835 dan 0.016151. sedangkan eksktrak airArtocarpus alltilis pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0. 02215 dan 0. 03 6202.Nilai JCS O ekstrak methanol Artocarpus heterophyllus pada men it ke-5 dan menitke-60 yaitu 0.044453 dan 0.041276. Artocarpus champeden pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.105533 dan 0.18491.
Uji Aktivitas Anti Oksidan Daun Sukun (Artocarpus altillis), Daun Nangka (articarpus Heterophyllus), dan Daun Cempedak (Artocarpus champeden) Dengan Metode DPPH Subiyandono Subiyandono; Aan Nurhasanah
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 10 No 1 (2015): Jurnal Kesehatan
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron a tau reduktan, senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi dengan cara mencegah terbentuknya radikal bebas. Beberapa tanaman yang memiliki potensi sebgai antioksidan alami adalah Daun sukun (Artocarpus altillis), Daun nangka (Artocarpus heterophyllus), daun cempedak (Artocarpus champeden).maka telah dilakukanpenelitian yang bertujuan unutk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak daunsukun, daun nangka, dan daun cempedak dengan DPPH (2, 2-diphenyl-1 picrylhidrazyl). Penelitian dilakukan di laboratorium dengan mengujiaktivitas antioksidan yang terdapat dalam ekstrak Artocarpus Altilis.Artocarpus Heterophyllus,danArtocarpus champeden .Dengan menggunakanDPPHdi tinjau dari segi peredaman radikal bebas secara spektrofotometri UV-vis, di lanjutkan dengan penentuan IC50.Ekstrak tanaman kemudian dibagi menjadi berbagai konsentrasiyaitu 0.125%, 0.5%.2% dan 5%. Pengukuran absorbans dilakukan pada panjanggelombang 497 nm,517 nm dan 537 nm, diukur pada setiap menit ke-5 dan menitke-60, selanjutnya di hitung %peredamannya, dilanjutkan dengan menghitungnilai IC50, yang di dapat dengan memplot konsentrasi larutan uji dengan %peredaman radikal bebas. Hasil penelitian diketahui nilai JC50 ekstrak methanol Artocarpus alltilispada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.027087 dan 0.028624. Nilai JC50 ekstrakmethanol Artocarpus heterophyllus pada men it ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0. 0054dan 0. 02 5171. Nilai JCS O ekstrak methanol Artocarpus champeden pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.258835 dan 0.016151. sedangkan eksktrak airArtocarpus alltilis pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 02215 dan 0. 03 6202.Nilai JCS O ekstrak methanol Artocarpus heterophyllus pada men it ke-5 dan menitke-60 yaitu 0.044453 dan 0.041276. Artocarpus champeden pada menit ke-5 dan menit ke-60 yaitu 0.105533 dan 0.18491.
Pengaruh Lama Penyimpanan Pada Kadar Vitamin C Daging Buah Pisang Raja (Musaparadisiaca L.) Dengan Metode 2,6-Diklorofenol Indofenol Subiyandono Subiyandono; Namiratu Zahra
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 11 No 2 (2016): Jurnal Kesehatan
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Vitamin C bermanfaat sebagai antioksidan sehingga dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh, mengatur gula darah dan memperbaiki jaringan tubuh, dan meningkatkan kadar hemoglobin sehingga menurunkan prevalensi anemia. Salah satu yang mampu memenuhi kebutuhan vitamin C yang diperlukan tubuh adalah buah pisang. Suhu penyimpanan buah yang tidak tepat dapat mempersingkat masa simpan buah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar vitamin C pada daging buah Pisang Raja yang disimpan sampai tujuh hari dan ditempatkan pada suhu kamardan suhu dingin,Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan metode 2,6-Diklorofenol Indofenol dengan objek penelitian yaitu buah Pisang Raja yang baru dibeli, disimpan pada suhu dingin dan disimpan padasuhukamar,Hasll: Hasil uji paired samplet-test menunjukkan bahwa kadar vitamin C daging buah Pisang Raja yang disimpan sampai tujuh bari pada suhu dingin mengalami perbedaan yang signifikan secara statistik mulai hari kedua penyimpanan sedangkan pada suhu kamar mengalami perbedaan yang signifikan secara statistik mulai hari pertama penyimpanan.Kesimpulan: Kadar vitamin C pada daging buah Pisang Raja yang disimpan pada suhu kamar lebih rendah daripada daging buah Pisang Raja yang baru dibeli dan disimpan pada suhu dingin. Hal ini terjadi karena vitamin C yang mudah teroksidasi dan tidak stabil diudara.