Trauma pada palpebra umumnya terjadi karena trauma tajam atau trauma tumpul pada daerah periokular. Trauma palpebra sering melibatkan laserasi kanalis lakrimalis, khususnya jika mengenai regio kantus medial.Laserasi kanalis lakrimalis merupakan diskontinuitas atau robeknya struktur dari sistem drainase lakrimal normal. Laserasi kanalis lakrimalis dapat melibatkan kanalikulus lakrimalis superior saja, kanalikulus inferior saja atau mengenai keduanya secara bersamaan.Literatur yang melaporkan mengenai epidemiologi laserasi kanalis lakrimalis sangat terbatas. Insiden trauma pada sistem drainase lakrimal terjadi sekitar 16% dari semua kasus ruptur palpebra.Laserasi kanalis lakrimalis sering terabaikan ketika dikaitkan dengan kasus pasien ruptur palpebra oleh dokter bertugas di unit gawat darurat. Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa insiden laserasi kanalis lakrimalis relatif jarang. Pemahaman mengenai anatomi dari sistem drainase lakrimalis berguna dalam mendiagnosis dan memperbaiki struktur kanalikular. Penilaian praoperasi yang cermat dan operasi yang teliti diperlukan untuk mengurangi kejadian epifora dan kosmetik yang buruk pasca trauma.Tujuan utama manajemen pada kasus laserasi kanalis lakrimalis ini adalah membentuk stenting sementara pada bagian sistem kanalikular yang terkena trauma untuk mencegah resiko obstruksi dari sistem kanalikular. Prosedur surgikal bertujuan untuk melakukan anastomosis di dalam laserasi kanalikulus dan mengintubasi sistem kanalikular ini sampai terjadi re-epitelisasi. Untuk mengurangi resiko jaringan sikatrik dan menyokong epitelialisasi pada luka, dimana hal ini bisa menyebabkan keluhan tearing yang berlebihan pasca trauma, maka repair laserasi kanalis lakrimalis sebaiknya dilakukan dalam 48 jam setelah trauma.Prosedur surgikal dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu intubasi monokanalikular dan intubasi bikanalikular. Berbagai teknik operasi dan tool dapat digunakan untuk intubasi, diantaranya silicone tube, sistem intubasi Crawford (bikanalikular) dan Ritleng (bikanalikular) serta Mini Monoka stent (unikanalikular).Berhasilnya manajemen laserasi ini tergantung pada awal waktu manajemen dan akuratnya diagnosis serta teknik operasi yang baik untuk meminimalkan insiden epifora pasca trauma. Prinsip operasi adalah pendekatan yang akurat terhadap bagian ujung lumen yang terputus untuk menyokong penyembuhan mukosa. Namun, teknik operasi untuk mencapai tujuan ini bervariasi di antara para ahli rekontruksi okuloplastik.