Yolanda Febriani Wattimena
Universitas Kristen Satya Wacana

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

“SATU MAKNA, DUA IDENTITAS” MEMAKNAI SPIRIT RELIGIOSITAS PADA PERJUMPAAN WOR DAN KEKRISTENAN DI “RUANG KETIGA “ Yolanda Febriani Wattimena; Fred Keith Hutubessy
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 2 No. 1 (2021): Juni.
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v2i1.613

Abstract

Abstrak Tulisan ini berupaya menemukan bagaimana cara memaknai spirit religiositas melalui perjumpaan antara Wor dan Kekristenan di ruang ketiga. Penelitian ini dimotivasi dari beberapa tulisan sebelumnya yang menemukan bahwa Ritual Wor sebagai teologi pribumi mengalami transformasi dan menyebabkan perubahan dengan mengedepankan aturan kekristenan yang dominan.Tidak dapat dipungkiri, misionaris mula-mula cenderung menggunakan cara-cara dominasi.Mereka mengonstruksi identitas Koreri dan ritual Wor dengan menjustifikasi sebagai kepercayaan sesat, menyembah setan, dan tidak lebih baik dari kekristenan.Padahal Wor merupakan ritual pemujaan terhadap “yang transenden” dari Koreri sebagai pandangan hidup orang Byak.Pada perkembangannya, wor mulai diintegrasikan ke dalam peribadatan khususnya liturgi masa advent di dalam tradisi Kristen.Melalui metode penelitian kualitatif, kami mencoba untuk mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara dengan sejumlah informan yang terlibat dalam pertemuan tradisi ini kedua trtadisi ini.Sementara itu, konsep ruang ketiga dari Homi Bhaba digunakan oleh kami untuk mengetahui bagaiamana pemaknaan akibat dari perjumpaan keduanya.Kemudian, kami menemukan bahwa bertemunya wor dan kekristenan di ruang ketiga telah menempatkan peluang untuk negosisasi di antara keduanya. Salah satu faktor penting yang mendorong negosiasi dilakukan, karena identitas ganda; sebagai penganut agama kristen dan juga sebagai orang Byak yang berbudaya. Melalui perjumpaan antara kedua entitas pengharapan ini, maka negosiasi bisa dilakukan untuk menjelaskan ulang ambivalensi yang telah terjadi di masa lalu hingga kini dan memaknainya sebagai spirit religiositas pengharapan.