Diah Pawitri
PDHB 24 Veterinary Clinic, Nirwana Sunter Asri III Blok J 1/2 Sunter, Jakarta Utara – Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Chronic ginggivostomatitis pada kucing lokal Diah Pawitri
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.497 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.2.23-24

Abstract

Feline chronic ginggivitis stomatitis (FCGS) banyak dilaporkan pada kucing Siamese, Persian, Abysinian, Somali, namun kejadiannya pada kucing lokal belum mendapat perhatian. Kejadia FCGS ditandai peradangan kronis yang menyebabkan lesio erosi dan proliferasi pada mukosa oral dan ginggiva. Terapi penyakit ini sulit dan sangat membuat frustasi karena menyerang kucing berbagai usia termasuk usia muda dengan terapi seumur hidup. Penyebab pasti belum diketahui tetapi berkorelasi dengan virus FeLV, FIV, FCV, bakteri anaerob, Bartonella sp., Borellia sp., serta non infeksius antigen pada makanan, flea, debu, atau serbuk bunga. Karakteristik kasus ini adalah adanya infiltrasi plasma sel, eosinofil, limfosit, dan makrofag. Secara histopatologi kejadian FCGS, ditemukan banyaknya infiltrasi sel eosinofil, umumnya berhubungan dengan reaksi alergi terkadang tidak hanya muncul pada oral mukosa, tetapi juga pada kulit. Keadaan ini disebut eosinophilic granuloma complex (EGC). Gambaran histopatologi kejadian FCGS ditemukan limfosit, sel plasma, dan makrofag, serta diduga berhubungan dengan imun sistem dan penyakit viral serta lesio pada seluruh rongga mulut hingga ke bagian caudal disebut lymphocyitic plasmositic ginggivitis stomatitis (LPGS). Diagnosa berdasarkan gejala klinis, hasil pemeriksaan rongga mulut dengan anestesi, hemogram lengkap, pemeriksaan virus, dan histopatologi biopsi. Managemen FCGS terutama adalah kebersihan rongga mulut, pemberian antimikrobial, anti inflamasi. Ekstraksi gigi molar/premolar, imunosupresan, imunomodulator, terapi laser, dan diet hidrolisa protein juga dapat digunakan.