Chairunnissa Chairunnissa
Universitas Katolik Atma Jaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN KEMAMPUAN TUTOR DI PKBM HSKS MENGENAI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN CARA PENANGANANNYA Bernadette Cindy Leo; Chairunnissa Chairunnissa; Margaretha Purwanti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.9451.2021

Abstract

Referring to the form of learning at the HSKS Community Learning Activity Center (PKBM) which provides opportunities for ABK to study together with regular students in regular classes (communities), it can be said that the system applied is based on the principle of inclusive education. The problem that occurs is that the tutors who teach community classes in HSKS do not have adequate understanding and handling skills so that learning activities for students become less optimal. Therefore, a training program was prepared by researchers with the aim of improving the understanding and skills of tutors in handling ABK in PKBM HSKS which is equipped with booklets to make it easier for tutors to access information. The research design used is interventional research. Data retrieval method with interviews and questionnaires to community tutors at elementary, junior high and high school level. Analyze the data using the problem tree method. Interventions are in the form of training to community tutors, but there are also tutors from other divisions, namely special education tutors and visit tutors. The training was conducted for one day with a duration of 2.5 hours. There is a roleplay task to evaluate the participants' skills. Research and training was conducted online because it took place during the COVID-19 pandemic, in the situation of large-scale social restrictions (PSBB). The results showed that the training provided can already improve the understanding of the tutors about ABK, but has not been able to improve the ability and skills in handling ABK. This happens because of time constraints in training so role play cannot be implemented. In addition, the majority of tutors do not complete the given task so the overall assessment cannot be done. Mengacu pada bentuk pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) HSKS yang memberikan kesempatan bagi ABK untuk belajar bersama dengan siswa reguler di kelas reguler (komunitas), maka dapat dikatakan sistem yang diterapkan berlandaskan pada asas pendidikan inklusif. Adapun permasalahan yang terjadi yaitu para tutor yang mengajar kelas komunitas di HSKS belum memiliki pemahaman dan keterampilan penanganan ABK yang memadai sehingga kegiatan pembelajaran bagi para siswa menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, suatu program pelatihan disusun oleh peneliti dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan para tutor dalam menangani ABK di PKBM HSKS yang dilengkapi dengan pemberian booklet untuk mempermudah para tutor mengakses informasi. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian intervensi. Metode pengambilan data dengan wawancara dan kuesioner kepada tutor komunitas di tingkat SD, SMP dan SMA. Analisis data menggunakan metode pohon masalah. Intervensi berupa pelatihan kepada para tutor komunitas, namun terdapat pula tutor dari divisi lain, yaitu tutor pendidikan khusus dan tutor visit. Pelaksanaan pelatihan dilakukan selama satu hari dengan durasi 2,5 jam. Terdapat tugas berupa roleplay untuk mengevaluasi keterampilan peserta. Penelitian dan pelatihan dilaksanakan secara daring karena berlangsung pada masa pandemi COVID-19, dalam situasi diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan sudah dapat meningkatkan pemahaman para tutor mengenai ABK, tetapi belum dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam menangani ABK. Hal ini terjadi karena keterbatasan waktu dalam pelatihan sehingga role play tidak dapat dilaksanakan. Selain itu, mayoritas tutor tidak menyelesaikan tugas yang diberikan sehingga penilaian secara keseluruhan tidak dapat dilakukan.