Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Peran Penting perencanaan Komplesi Formasi dalam Keberhasilan Komplesi Sumur Agus Alexandri
Swara Patra Vol 8 No 4 (2018): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah suatu sumur dikatakan ekonomis maka sumur tersebut akan dikembangkan menjadi sumur produksi, tahap akhir sebelum sumur tersebut menjadi sumur produksi adalah tahap penyelesaian sumur atau well completion.Secara garis besar well completion dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu formation completion, tubing completion dan wellhead completion, adapun kriteria well completion yang baik ditinjau dari masalah yang dihadapi setiap bagian well completion seperti pada formation completion yang digunakan untuk mengatasi masalah masalah yang ditimbulkan oleh sifat sifat dari formasi produktifnya.Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan formation completion adalah produktivitas formasi, kestabilan formasi serta kekompakkan batuan. Pada perencanaan formation completion untuk open hole perlu memperhitungkan laju penembusannya seperti fully atau partially. Pada perforated completion perlu memperhitungkan interval dan posisi perforasi, densitas dan diameter perforasi
STUDI PERENCANAAN POLA PENYEBARAN SUMUR PRODUKSI TERHADAP PENGARUH HETEROGENITAS RESERVOIR Agus Alexandri
Swara Patra Vol 3 No 3 (2013): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakseragaman reservoir dapat terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan pada lingkungan pengendapan yang akan memberikan gambaran mengenai besar butir, bentuk butir dan juga mengenai sementasi. Disamping lingkungan pengendapan, proses sedimentasi juga dapat mempengaruhi ketidakseragaman reservoir.Pada kenyataannya, semua reservoir yang ditemui bersifat heterogen, apabila ditinjau dari studi facies dan data-data penilaian formasi. Untuk mendapatkan hasil yang ekonomis dalam penentuan pola penyebaran sumur, maka informasi data geologi sangat diperlukan, informasi data geologi ini dapat berupa geologi permukaan dan bawah permukaan. Dari data-data analisa penilaian formasi dan data geologi, maka dapat ditentukan distribusi zona ketebalan produktif sebagai dasar penentuan titik-titik dan pola sumur produksi. Perencanaan pola penyebaran sumur produksi memerlukan tahapan perencanaan yang berfungsi untuk menentukan pola sumur produksi dan evaluasi untuk mengetahui hasil dari perencanaan dan optimasi produksi sumur.
PEMELIHARAN DRILLING LINE DAN PERHITUNGAN TON MILE SEBAGAI UPAYA OPTIMASI PADA DRILLING LINE Agus Alexandri
Swara Patra Vol 6 No 3 (2016): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pengangkat / hoisting system adalah salah satu dari komponen utama rig yang berfungsi untuk membantu sistem alat-alat pemutar di dalam operasi pemboran sumur dengan menyediakan alat-alat yang sesuai serta sebagai ruang kerja yang dibutuhkan untuk mengangkat dan menurunkan drill string, casing string dan peralatan subsurface lainnya dari dan ke lubang sumur. Yang termasuk dalam peralatan pengangkat adalah drawwork, overhead tool (crown block, travelling block, link, elevator) dan drilling line. Dalam operasi pemboran drilling line memegang peranan yang sangat penting. Kegagalan drilling line dalam operasi dapat mengakibatkan kegagalan operasi pemboran yang dapat berdampak pada biaya yang harus ditanggung rig akibat downtime kerusakan dan potensi bahaya yang dapat mencelakakan personel yang bekerja. Oleh karena itu pemilihan drilling line yang tepat sangat diperlukan dalam operasional rig. Beratnya kerja dari drilling line juga menyebabkan usia pakai drilling line terbatas. Pemeliharaan drilling line dengan sistem pelumasan pada drilling line selama operasi perlu dilaksanakan untuk memperpanjang umur pakai. Pelumasan drilling line pada hospel ketika melakukan penggeseran agar mencegah timbulnya karat yang dapat mengakibatkan kerusakan pada drilling line pada saat beroperasi. Visual inspection atau pengamatan visual drilling line harus dilaksanakan secara rutin dan lebih teliti untuk meyakinkan drilling line dalam kondisi aman dan bagus utuk dipakai.
PERENCANAAN RATE OF PENETRATION PADA OPERASI PEMBORAN Agus Alexandri
Swara Patra Vol 6 No 2 (2016): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada setiap kali dilakukan operasi pemboran, selalu diusahakan agar laju pemboran yang diperoleh adalah laju pemboran yang optimum. Suatu operasi pemboran dikatakan memiliki laju pemboran yang optimum apabila waktu penyelesaiannya cepat dan tujuan pemboran tercapai dengan baik sesuai dengan rencana.Maksud dan tujuan perencanaan laju penembusan optimum ini adalah untuk meminimalisir segala macam problem pemboran tentunya dengan melakukan berbagai macam optimasi di berbagai aspek pemboran, dengan tujuan untuk meminimalisir biaya dan waktu pemboranUntuk mendapatkan waktu penyelesaian yang cepat dan biaya yang murah harus dilakukan suatu perencanaan laju penembusan atau Rate of Penetration (ROP) agar didapatkan hasil yang optimum. Untuk merencanakan ROP yang optimum diperlukan parameter-parameter yang mempengaruhi, meliputi: mekanika batuan, kondisi bawah permukaan, lumpur pemboran, hidrolika pemboran, mekanika drill string, model penghancuran batuan, tipe-tipe bit, mekanika penghancuran batuan pada bit, serta kondisi operasi bit (WOB & RPM).
BLOW OUT PREVENTER TEST SEBAGAI BAGIAN DARI PEMERIKSAAN RUTIN AGUS ALEXANDRI; SITI NURBAYANAH; JUNIARTO MATASAK PALILU
Swara Patra Vol 5 No 4 (2015): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu resiko yang dihadapi dalam proses pemboran sumur minyak dan/atau gas bumi adalah masuknya fluida formasi ke dalam lubang sumur (kick) dengan tidak terkendali atau yang disebut semburan liar (blow out). Semburan liar dapat dicegah dengan menghentikan kick sebelum kick menjadi tidak terkendali. Semburan liar merupakan bahaya yang selalu mengancam kegiatan usaha hulu migas baik pada sumur pengeboran ataupun sumur workover dan well services. Semburan liar menyebabkan kerugian yang besar, antara lain kebakaran, pencemaran lingkungan, kecelakaan pekerja (ringan sampai dengan fatal), dll. Pencegah Semburan Liar (PSL) merupakan salah satu peralatan pada instalasi pengeboran yang digunakan untuk mencegah terjadinya semburan liar. Alat ini mejaga agar kegiatan tetap aman bagi pekerja, alat, masyarakat, dan lingkungan. Berdasarkan SNI 13-6910-2002 tentang Operasi Pemboran Darat dan Lepas Pantai yang Aman di Indonesia bahwa pemasangan, pengujian, dan pengoperasian PSL harus mengacu pada API RP 53. Salah satu tahapan dalam menghentikan kick yakni dengan menutup puncak sumur menggunakan peralatan peralatan pencegah sembur liar atau Blow Out Preventer (BOP). Dengan demikian, BOP berfungsi apabila ia dapat menutup sumur, menahan tekanan yang ditimbulkan oleh formasi, dan membuka kembali pasca penanganan kick. Oleh karena salah satu fungsi BOP adalah menahan tekanan yang ditimbulkan oleh kick, maka perlu untuk mengetahui besarnya tekanan maksimum yang dapat ditahan oleh suatu BOP yang diistilahkan dengan Rated Working Pressure dari BOP tersebut. Function test dan pressure test/wellbore test merupakan cara untuk menguji apakah suatu BOP dapat berfungsi sesuai dengan Rated Working Pressure-nya
MAGNETIC PARTICLE INSPECTION (MPI) SEBAGAI SALAH SATU METODE INSPEKSI MENARA PENGEBORAN Agus Alexandri; Tunjung Sugandika
Swara Patra Vol 7 No 1 (2017): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan usaha minyak dan gas bumi adalah kegiatan yang berbiaya tinggi dan beresiko tinggi, maka dari itu perlu dilakukan perhitungan dengan seksama terkait semua aspek yang ada. Direktorat Jenderal Migas c.q. Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas memiliki tugas untuk menjamin kelayakan penggunaan suatu peralatan sehingga dapat menciptakan suatu instalasi yang aman dan layak untuk digunakan dalam operasi kegiatan minyak dan gas bumi.Menara pemboran adalah salah satu komponen utama dalam kegiatan pemboran minyak dan gas bumi. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan untuk menjamin kualitas dari menara yang dihasilkan sehingga sesuai dengan standar yang ada dan aman untuk digunakan. Magnetic Particle Inspection (MPI) adalah salah satu metode Non Destructive Test (NDT) untuk melakukan pemeriksaan dalam memastikan bahwa suatu peralatan khususnya menara dalam kondisi aman dan layak untuk digunakan.Dengan dipastikan keamanan dan kelayakan menara sebagai komponen pendukung suatu instalasi pemboran, maka dapat disimpulkan keamanan dan kelayakannya.