Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK Syafril Ramadhon
Swara Patra Vol 4 No 2 (2014): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kegiatan eksplorasi seismic di darat adalah kegiatan topografi seismik. Kegiatan ini bertujuan untuk memindahkan jalur seismic yang berupa titik-titik Shoot Point (Sp) dan Trace Point (Tp) pada survey seismic 2 dimensi (2D) atau Shoot Line dan Receiver Line pada survey seismic 3 dimensi (3D), dari data teoritisnya di atas peta ke Lapangan (Real World) atau biasa disebut dengan istilah stake out. Penggunaan teknologi GPS/GNSS RT-PPP yang diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2013 dapat memberikan keuntungan yang berkaitan dengan efisiensi waktu dan biaya survey. Hal ini karena dengan teknologi ini dapat dicapai ketelitian horizontal sebesar 3.8 cm secara absolut tanpa memerlukan adanya titik ikat/base. Aplikasi teknologi GPS/GNSS RT-PPP untuk kegiatan topografi seismic dapat memberikan keuntungan yang maksimal, khususnya di wilayah kerja dengan obstruksi yang minim karena bisa menghilangkan lebih dari 50% tahapan kerja apabila dilakukan secara konvensional.
PENERAPAN MODEL EMPAT LEVEL KIRKPATRICK DALAM EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN APARATUR DI PUSDIKLAT MIGAS Syafril Ramadhon
Swara Patra Vol 6 No 1 (2016): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai sebuah profesi berlandaskan pada prinsip yang salah satunya adalah mempunyai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. Sebagai upaya mengembangkan kompetensi bagi ASN tersebut, salah satunya dilakukan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat). Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi (Pusdiklat Migas) mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan di sub sektor minyak dan gas bumi, dengan salah satu fungsinya adalah melakukan kegiatan evaluasi program diklat di bidang pendidikan dan pelatihan minyak dan gas bumi. Ketiadaan pedoman dalam melaksanakan kegiatan evaluasi diklat di Pusdiklat Migas menjadikan kegiatan evaluasi tersebut tidak terarah dan terkesan hanya sebagai sebuah penggugur kewajiban anggaran. Hal tersebut menyebabkan fungsi dasar evaluasi menjadi tidak optimal. Penerapan model empat level Kirkpatrick yang dilakukan secara sistematis dalam kegiatan evaluasi diklat aparatur di Pusdiklat Migas dapat menjadi salah satu solusi, khususnya untuk diklat berbasis aparatur, sehingga diharapkan kegiatan evaluasi diklat dapat menjawab salah satu fungsi evaluasi, yaitu agar kelebihan dan kekurangan dalam program diklat tersebut dapat diidentifikasi sehingga perbaikan dapat segera ditindaklanjuti.
KOMPETENSI WIDYAISWARA, ANDRAGOGI atau PEDAGOGI Syafril Ramadhon
Swara Patra Vol 6 No 3 (2016): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kompetensi pengelolaan pembelajaran yang harus dimiliki oleh Widyaiswara adalah menerapkan pembelajaran orang dewasa atau andragogi dalam kegiatan pembelajaran. Suatu hal yang menarik karena kegiatan mendidikan dapat dilakukan berdasarkan dua model, yaitu model pedagogi dan andragogi. Suatu pertanyaan, apakah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, Widyaiswara diharuskan hanya mengacu pada konsep andragogi, dan mengindahkan konsep pedagogi. Dalam tulisan ini diberikan penjelasan yang sistematik berdasarkan kajian literatur mengenai kerangka pikir serta perbedaan mendasar antara konsep andragogi dan pedagogi. Pembahasan mengenai konsep andragogi maupun pedagogi memberikan hasil bahwa kedua konsep tersebut dapat diaplikasikan pada semua peserta didik, dalam artian konsep andragogi dapat juga diaplikasikan pada peserta didik usia muda, serta konsep pedagogi juga dapat diterapkan pada peserta didik usia dewasa. Hal tersebut kemudian mengerucut pada suatu kesimpulan bahwa Widyaiswara sebagai seorang pendidik hendaknya mampu memilih konsep pembelajaran andragogi maupun pedagogi berdasarkan jenis diklat maupun kebutuhan peserta, sehingga tujuan kegiatan mendidik dapat terpenuhi, yaitu bagaimana menciptakan kondisi yang maksimum bagi peserta didik untuk memfasilitasi peserta didik tersebut untuk merealisasikan dirinya.
ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP Syafril Ramadhon
Swara Patra Vol 5 No 1 (2015): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Real Time Point Precise Positioning (RT-PPP) merupakan teknologi penentuan posisi menggunakan Global Navigation Satellite Systems (GNSS) terkini yang efektif dan efisien. Hal tersebut disebabkan karena dengan metode tersebut tidak dibutuhkan adanya titik ikat (base) dan lamanya penentuan posisi dengan akurasi 4 cm dibawah satu menit. Berbeda dengan penentuan posisi menggunakan teknologi Global Positioning Systems (GPS)/GNSS konvensional yang membutuhkan adanya base, dan lamanya waktu pengukuran untuk mencapai ketelitian 2 cm sampai dengan 4 cm selama 30 menit hingga dua jam tergantung panjang baseline. Masalah yang muncul adalah pada metode RT-PPP koreksi yang diberikan hanya koreksi jam dan orbit satelit, sedangkan koreksi terhadap kesalahan dan bias medium propagasi, khususnya bias ionosfer melalui proses differencing data tidak diberikan, seperti halnya pada metode konvensional diferensial GPS/GNSS. Dalam penelitian ini akan diberikan analisis pengaruh Total Electron Content (TEC) dilapisan ionosfer terhadap ketelitian data pengamatan GNSS dengan metode RT-PPP dan kisaran ketelitian data pengamatan berdasarkan jumlah TEC di lapisan ionosfer dengan membandingkan posisi titik-titik yang ditentukan menggunakan metode statik diferensial dalam moda jaringan dengan posisi titik-titik yang ditentukan dengan metode RT-PPP. Dari hasil penelitian terdapat pengaruh TEC pada ketelitian posisi dalam metode RT-PPP yang relatif kecil pada pagi hari, dan terus meningkat pada tengah hari dan cenderung menurun pada sore hari. Pengaruh TEC pada ketelitian posisi mencapai maksimum pada kisaran waktu pukul 10.30 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB dengan selisih jarak berkisar antara 30 cm hingga 1.2 m
ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL Syafril Ramadhon
Swara Patra Vol 5 No 2 (2015): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketelitian data Global Positioning Systems (GPS) dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kebutuhan pengguna dalam hal ini adalah terkait dengan ketelitian posisi yang diinginkan, apakah teliti, sedang, atau untuk keperluan navigasi. Ketelitian posisi GPS tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dan parameter yang antara lain adalah ketelitian data, geometri satelit, metode penentuan posisi, dan strategi pemrosesan data. Metode yang umum digunakan untuk mendapatkan ketelitian data yang tinggi adalah metode diferensial statik. Survei penentuan posisi secara diferensial dengan metode GPS statik dapat dilaksanakan dalam moda jaring dan moda radial. Pemilihan kedua moda tersebut akan mempengaruhi ketelitian posisi titik yang diperoleh, waktu penyelesaian survei, serta biaya operasional survei. Permasalahan yang muncul adalah berapakah perbedaan ketelitian posisi, jumlah baseline, sesi dan waktu pengukuran dalam penentuan posisi menggunakan GPS dengan metode diferensial statik dalam moda jaring dan radial. Dari hasil pengukuran didapat perbandingan ketelitian rata-rata koordinat tiga dimensi antara moda jaring dan radial dalam penentuan posisi menggunakan GPS dengan metode statik adalah 9.1 mm untuk sumbu easting, 2.7 mm untuk sumbu northing, 2.3 cm untuk tinggi dan 1 cm untuk beda jarak setiap titik. Perbandingan jumlah baseline, sesi dan waktu pengukuran antara moda jaring dan radial dalam penentuan posisi menggunakan GPS dengan metode statik adalah moda radial lebih membutuhkan jumlah baseline, sesi dan waktu pengukuran yang lebih sedikit (56%) apabila dibandingkan dengan moda jaring.
Pengaruh Lingkungan Pengamatan pada Ketelitian Horisontal GNSS dengan Metode RTK-NTRIP Syafril Ramadhon
Jurnal Nasional Pengelolaan Energi MigasZoom Vol. 2 No. 1 (2020): Konservasi Energi dan Pemanfaatan Sumber Energi Baru
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/mz/2020-1/249

Abstract

The aim of this research is to empirically prove the influence of the observation environment on the horizontal accuracy of GNSS by the RTK-NTRIP method with an emphasis on various possible obstruction conditions and the length of time to achieve accuracy ≤5 cm. The study was conducted by measuring the GNSS using the RTK-NTRIP method at locations that accommodate a variety of possible obstructions caused by the observation environment, namely: a location that is relatively obstruction-free, the location of the building in one of the four coordinate directions, the location of measurements in under the tree, and the measurement location between two buildings. Data analysis was performed descriptively by comparing horizontal accuracy which was able to be achieved at each location and time to achieve that accuracy. The results showed that obstruction at the observation environment is very influential on the length of time to reach accuracy ≤5 cm, even at the observation site between two buildings, accuracy ≤5cm cannot be achieved.
Efektivitas Pendekatan Student-Centered Learning dalam Pelatihan Survey Topografi di Bandung Syafril Ramadhon
Jurnal Kewidyaiswaraan Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Kewidyaiswaraan
Publisher : Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Bidang Pengembangan Kompetensi Pegawai ASN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.361 KB)

Abstract

The aim of this study is to measure the effectiveness of using the Student-Centered Learning (SCL) approach in supporting the academic achievement of trainees in topographic survey training programs compared to the Teacher-Centered Learning (TCL) approach on aspects of knowledge and skill. The study was conducted quantitatively using a quasi-experiment method with a control group. The research sample is high school and vocational high school graduates in Bandung City and Bandung Regency with details of 20 people for the experimental group and 20 people for the control group. The study was conducted by comparing the learning outcomes of the experimental group and the control group on aspects of knowledge and skills. Data analysis was performed using descriptive statistics and t-test. The results showed that the implementation of the SCL approach was effective in improving the learning achievements of topographic survey training participants both in terms of knowledge and skills when compared to the TCL approach. The results of this study can be information for educators, especially Widyaiswara to strengthen their learning management competencies, so that training programs become more effective.
ANALISIS ENERGI KINETIK MAKSIMUM JATUHAN BATUAN (ROCK FALL) DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI ROCK FENCE Ihwan Fauzi; Hisyam Gusman Sugarda; Syafril Ramadhon
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 39 No 1 (2022)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rock fall is a very fast bedrock movement where material is released from a steep slope and moves by falling, bouncing, rolling or sliding. West Java Province has a frequency of 1129 landslides throughout 2020 which underlies the need for a study of locations that have the potential for rock fall and simulation calculations to determine the type of rock fall barrier that can be used at that location. Rock fence as a passive slope protection method as one of the rock fall countermeasures. The analysis is carried out using software to determine the most appropriate type of rock fence method. Based on the analysis, the maximum kinetic energy at Location 1, Location 2 and Location 3 was 1,630.68 kJ, 1,209.11 kJ and 397.82 kJ, respectively. Thus, the countermeasure for Location 1 can use a Category 4 rock fence with the maximum energy level value being in the range of 1500 kJ MEL < 2000 kJ, while countermeasures for Locations 2 and 3 can use Category 3 and Category 1 rock fences respectively. Further collection of slope geometry data and historical rock fall data is needed to be able to simulate various rock fall conditions, rock reflection heights and rock maximum kinetic energy so as to sharpen the analysis results. Keywords: rock fence, rock fall classification, kinetic energy, slope protection, simulation