Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN EFEKTIFITAS MODEL FLUIDA BINGHAM DAN POWER LAW DALAM OPTIMASI FLOW RATE POMPA DAN PENGANGKATAN CUTTING Ganjar Hermadi
Swara Patra Vol 3 No 3 (2013): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Operasi pemboran pada suatu sumur tidak akan lepas dari peranan fluida atau lumpur pemboran sebagai bagian penting dari sistem sirkulasi. Fungsi lumpur pemboran sangat luas dan salah satunya adalah membersihkan serpih pemboran (cutting) hasil penggerusan dari pahat bor (bit). Cutting yang tidak terangkat ke permukaan dengan baik akan mengganggu operasi pemboran dan akan menyebabkan masalah pemboran, seperti penurunan laju penembusan dan terjepitnya rangkaian pipa pemboran. Selain sifat-sifat dari lumpur pemboran yang harus disesuaikan dengan kondisi formasi pada sumur yang dibor, penentuan laju alir (flow rate) dari lumpur pemboran yang dipompakan pun akan sangat berpengaruh dalam pengangkatan cutting dari dasar lubang sumur ke permukaan. Semakin besar flow rate pompa yang digunakan maka kecepatan lumpur pemboran akan semakin besar juga dalam mengangkat cutting ke permukaan. Dikarenakan cutting mempunyai berat tertentu, maka cutting mempunyai kecenderungan untuk jatuh ke dasar lubang sumur melawan kecepatan aliran lumpur pemboran yang disirkulasikan ke permukaan, yang disebut dengan kecepatan slip (slip velocity) dari cutting tersebut. Kecepatan yang mengimbangi kecenderungan jatuhnya cutting ke dasar lubang sumur adalah kecepatan angkat (lifting velocity) dari lumpur pemboran. Dalam tulisan ini penulis melakukan analisis flow rate pompa yang sesuai untuk sumur pemboran terhadap kemampuan mengangkat cutting ke permukaan dengan memperhitungkan parameter-parameter hidolika pada operasi pemboran tersebut. Dari hasil perhitungan dan analisis akan ditentukan tipe pompa dan flow rate yang sesuai untuk pengangkatan cutting pada sumur Z.
OPTIMASI POMPA PCP DENGAN MENGGUNAKAN ANALISA SISTEM NODAL Ganjar Hermadi
Swara Patra Vol 3 No 4 (2013): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Progressive Cavity Pump (PCP) adalah salah satu jenis pompa yang digunakan dalam industri perminyakan sebagai alat pengangkatan buatan. PCP merupakan salah satu alternatif yang baik untuk pengangkatan buatan karena mempunyai kekompakan dan efisiensi yang tinggi dengan biaya yang rendah dibandingkan pompa lainnya.PCP merupakan pompa yang mempunyai prinsip kerja sebagai positive displacement pump. PCP mempunyai dua komponen utama yang berada dibawah permukaan, yaitu rotor dan stator. Rotor berbentuk single helix dan berputar dalam stator yang berbentuk double helix. Rotor tersebut digerakkan oleh rod yang dihubungkan dengan motor yang berada di permukaan. Perputaran rotor dalam stator akan membentuk rongga yang seolah–olah bergerak ke atas dengan membawa fluida produksi ke permukaan.Studi dalam tulisan ini menganalisa perbedaan tekanan yang dihasilkan oleh pompa PCP. Dari perbedaan tekanan pompa PCP tersebut dapat ditentukan tekanan suction dari pompa yang kemudian dapat diplot sebagai kurva pump intake dari pompa. Jika kurva pump intake tersebut diplot bersama kurva IPR, maka perpotongan yang dihasilkan merupakan harga laju produksi optimum dari pompa PCP tersebut.
ANALISA SISTEM NODAL DALAM METODE ARTICIAL LIFT Ganjar Hermadi
Swara Patra Vol 6 No 2 (2016): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri migas khususnya bidang teknik produksi, analisa sistem nodal merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan dalam penentuan laju produksi sumur natural flow. Persamaan inflow performance relationship (IPR) disubstitusikan ke dalam persamaan outflow performance relationship, atau dalam hal ini dapat disebut sebagai Tubing Performance Relationship (TPR), untuk memperoleh laju produksi dan tekanan operasi tanpa membuat grafik terlebih dahulu. Persamaan hasil substitusi ini memerlukan laju alir sebagai input yang juga merupakan output sehingga menyebabkan persamaan ini harus diselesaikan secara numerik dengan proses iterasi. Laju alir optimum yang dihasilkan kemudian di-validasi menggunakan program yang sudah ada.Lebih jauh lagi bisa dilakukan sensistivitas dengan melibatkan performa dari Artificial Lift. Hal ini dilakukan jika kondisi suatu sumur sudah tidak lagi mengalir secara alami (natural flow), sehingga pengangkatan buatan diperhitungkan dalam analisa system nodal. Outflow performance dari suatu Artificial Lift (misal sebuah pompa) dapat dilibatkan kedalam Inflow Performance reservoir sehingga dapat diperoleh spesifikasi pompa optimum untuk sumur tersebut.